38°C
03/02/2026
Kuliner

Mengapa Peuyeum Cipatat Berbeda? Mengulik Sejarah dan Metode “Gantung” yang Khas

  • Februari 2, 2026
  • 3 min read
Mengapa Peuyeum Cipatat Berbeda? Mengulik Sejarah dan Metode “Gantung” yang Khas

INFO BANDUNG BARAT — Jika melintasi jalur arteri lama yang menghubungkan Bandung dan Cianjur, mata akan tertumbuk pada pemandangan khas: deretan singkong putih yang digantung rapi di kios-kios pinggir jalan. Inilah Peuyeum Cipatat, kuliner fermentasi yang telah menjadi simbol ketahanan ekonomi masyarakat Kabupaten Bandung Barat selama puluhan tahun.

Akar sejarah peuyeum di wilayah Priangan berkaitan erat dengan kebijakan pertanian kolonial pada masa pemerintahan R.A.A. Martanagara (1893–1918), Bupati Bandung yang dikenal sebagai tokoh modernisasi pertanian. Dosen Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Bakrie, Laras Cempaka, dalam risalahnya di Journal of Ethnic Foods (2021), menjelaskan bahwa pada akhir abad ke-19 singkong mulai ditanam secara luas, bukan untuk dikonsumsi langsung, melainkan untuk diolah menjadi aci (tepung tapioka) yang diekspor ke Belanda. Namun, di kalangan masyarakat Sunda, komoditas ini menemukan takdir lain. Singkong diolah menjadi peuyeum, pangan simpan yang murah, praktis, mengenyangkan, dan menjadi bagian integral dari cara hidup orang Sunda.

Seiring waktu, sejumlah wilayah berkembang menjadi sentra produksi. Desa Citatah, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, misalnya, telah dikenal sejak tahun 1980-an sebagai penghasil peuyeum unggulan. Warga setempat menyebutkan bahwa peuyeum pertama kali diperkenalkan oleh seorang perantau dari Bendul, Purwakarta, yang kemudian menetap dan mencari nafkah di Citatah.

Popularitas kuliner ini mencapai puncaknya pada era 1980-an, ketika lagu legendaris “Peuyeum Bandung” yang dipopulerkan oleh Nining Meida menjadikannya sebagai oleh-oleh wajib bagi wisatawan. Peuyeum bahkan masuk ke ranah simbolik dan estetika budaya Sunda, tercermin dalam pupuh Sunda yang memuat bait “pupuh magatru peuyeum sampeu”, merujuk pada pembungkus peuyeum dari daun jati.

Lebih dari sekadar camilan, peuyeum juga memiliki tempat dalam sejarah perjuangan. Para pejuang kemerdekaan kerap membawa bekal peuyeum saat bergerilya karena daya tahannya yang lama dan bobotnya yang ringan, sehingga menjadi sumber energi penting. Menariknya, dalam budaya lisan Sunda, peuyeum juga digunakan sebagai sindiran halus; pemuda yang kurang bersemangat kerap disebut “peuyeum” yang lembek dan tak berdaya.

Keunikan utama Peuyeum Cipatat terletak pada cara penyajiannya. Jika tape di daerah lain umumnya disimpan dalam wadah tertutup atau besek bambu, Peuyeum Cipatat justru “dipamerkan” dengan cara digantung.

Teknik peuyeum gantung ini memiliki fungsi teknis yang penting. Sirkulasi udara bebas membuat permukaan peuyeum tetap kering, sementara bagian dalamnya tetap legit dan lembut. Tekstur yang tidak becek inilah yang menjadikan Peuyeum Cipatat kuat dibawa dalam perjalanan jauh tanpa khawatir hancur atau berair.

Letaknya yang strategis di jalur arteri utama menjadikan Cipatat sebagai sentra perdagangan. Para pelaku usaha lokal memanfaatkan tingginya volume kendaraan yang melintas untuk menawarkan kudapan yang murah, tahan lama, dan mengenyangkan. Puncak kejayaan terjadi pada periode 1990-an hingga awal 2000-an, ketika ratusan kios peuyeum memenuhi sisi jalan raya.

Kejayaan tersebut menghadapi tantangan besar saat Tol Cipularang resmi beroperasi pada 2005. Jalur arteri yang sebelumnya padat mendadak lengang, membawa dampak signifikan bagi para pedagang di sepanjang jalan Cipatat. Banyak kios terpaksa tutup karena kehilangan pelanggan yang beralih menggunakan jalan tol.

Meski demikian, peuyeum menolak untuk punah. Hingga kini, para perajin tetap bertahan menjaga tradisi. Aroma manis ragi yang menghangatkan tubuh di tengah sejuknya udara Bandung Barat masih menjadi daya tarik bagi siapa pun yang merindukan cita rasa autentik Sunda.***


Penulis: Anggie Baeduri Aulia R

Editor: Ayu Diah Nur’azizah

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *