38°C
15/02/2026
Budaya

Ngaruwat Solokan, Kearifan Lokal Masyarakat Cihideung dalam Menjaga Sumber Air

  • Desember 25, 2025
  • 3 min read
Ngaruwat Solokan, Kearifan Lokal Masyarakat Cihideung dalam Menjaga Sumber Air

INFO BANDUNG BARAT — Kabupaten Bandung Barat dikenal sebagai wilayah yang kaya akan tradisi adat yang diwariskan secara turun-temurun dan tetap lestari hingga kini. Salah satu tradisi yang masih dijaga keberlangsungannya adalah Ngaruwat Solokan, sebuah upacara adat yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong. Tradisi ini telah ada sejak tahun 1938, pertama kali diprakarsai oleh Eyang Lamsari dan dilanjutkan oleh generasi berikutnya hingga saat ini.

Berdasarkan Jurnal Ngaruwat Solokan di Desa Cihideung Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat, Ngaruwat Solokan, yang oleh masyarakat setempat juga dikenal dengan sebutan Hajat Cai atau Syukuran Cai, merupakan upacara adat tahunan yang diselenggarakan oleh masyarakat petani. Tradisi ini dilandasi keyakinan bahwa air merupakan salah satu unsur alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang sangat penting bagi kehidupan dan akan membawa berkah apabila dijaga, dirawat, serta dilestarikan dengan baik.

Seiring perkembangan waktu, tradisi Ngaruwat Solokan mengalami perubahan penamaan dan kini lebih dikenal sebagai Ritual Ngalokat Cai Irung-Irung. Irung-Irung merupakan sumber mata air yang terletak di Kampung Kancah, Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat. Dalam bahasa Indonesia, kata irung berarti hidung. Penamaan Irung-Irung diberikan karena sumber mata air tersebut memiliki dua aliran yang menyerupai lubang hidung, sehingga menjadi ciri khas tersendiri bagi masyarakat setempat.

Secara etimologis, istilah ngaruwat berarti merawat atau memelihara, sedangkan solokan berarti jalan air atau selokan. Dengan demikian, Ngaruwat Solokan dimaknai sebagai upaya merawat dan menjaga saluran air agar terhindar dari kerusakan, sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan air yang telah dimanfaatkan masyarakat. Sementara itu, Hajat Cai bermakna selamatan atas karunia air yang diberikan Allah SWT, dan Syukuran Cai merupakan bentuk rasa terima kasih kepada-Nya atas sumber kehidupan tersebut

Pelaksanaan Upacara Ngaruwat Solokan atau Hajat Cai dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari persiapan, pembuatan serta pengolahan sesajen, prosesi ijab kabul sebagai bentuk pengesahan, hingga doa bersama. Upacara ini dilaksanakan di rumah sesepuh desa serta di lokasi mata air Talaga Warna yang menjadi sumber air penting bagi kehidupan masyarakat Desa Cihideung.

Tujuan utama penyelenggaraan upacara ini adalah sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia yang telah diberikan, sekaligus sebagai permohonan agar masyarakat senantiasa dijauhkan dari berbagai cobaan dan marabahaya. Selain itu, ritual ini juga berfungsi sebagai pengingat bagi masyarakat untuk terus menjaga kelestarian sumber air.

Dalam tradisi Ngaruwat Solokan terkandung berbagai nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Nilai religius tercermin dalam rangkaian ritual yang ditujukan untuk mengagungkan Tuhan Yang Maha Esa serta menghormati para leluhur. Nilai sosial tampak melalui pelaksanaan upacara yang dilakukan secara gotong royong, saling membantu, berbagi, serta mempererat ikatan persaudaraan antarwarga.

Nilai ekonomi juga hadir dalam tradisi ini karena secara tidak langsung mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan, khususnya mata air. Air yang terpelihara dengan baik dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dan memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. Sementara itu, nilai pendidikan terlihat dalam prosesi upacara ketika pawang menjelaskan makna dan tujuan sesajen kepada peserta. Penjelasan tersebut menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar tetap melestarikan budaya warisan leluhur.

Melalui tradisi Ngaruwat Solokan atau Ritual Ngalokat Cai Irung-Irung, masyarakat Desa Cihideung tidak hanya menjaga adat istiadat, tetapi juga merawat hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Tradisi ini menjadi wujud nyata kearifan lokal yang tetap relevan di tengah perkembangan zaman.***


Penulis: Anggie Baeduri Aulia R

Editor: Ayu Diah Nur’azizah

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *