38°C
16/01/2026
Ekonomi

Nilai Tukar Rupiah Terus Melemah, Dekati Rp 17.000 per Dolar AS

  • Januari 14, 2026
  • 2 min read
Nilai Tukar Rupiah Terus Melemah, Dekati Rp 17.000 per Dolar AS

INFO BANDUNG BARAT — Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan pelemahan dan berada di titik terendah sepanjang sejarah. Pada perdagangan Selasa, 13 Januari 2026, rupiah berada di kisaran Rp 16.877 per dolar AS. Posisi ini menandai tekanan berkelanjutan terhadap mata uang domestik di tengah dinamika ekonomi global yang belum stabil.

Berdasarkan data pasar spot Bloomberg, rupiah diperdagangkan di level Rp 16.877 per dolar AS, sementara kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia tercatat di Rp 16.875 per dolar AS. Pelemahan ini melanjutkan tren penurunan nilai tukar yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir dan memunculkan kekhawatiran akan potensi menembus level psikologis Rp 17.000 per dolar AS jika tekanan eksternal terus berlanjut.

Sejumlah faktor global menjadi pendorong utama pelemahan rupiah. Penguatan dolar AS terjadi seiring dengan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang mendorong investor global mengalihkan dananya ke aset aman. Selain itu, sikap bank sentral AS atau The Fed yang belum sepenuhnya longgar dalam kebijakan moneternya turut membatasi aliran dana ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Ketidakpastian geopolitik dan tensi ekonomi global juga memperkuat sentimen kehati-hatian di pasar keuangan. Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang. Fenomena ini dikenal luas dalam literatur ekonomi sebagai kondisi ketika tekanan eksternal mendorong volatilitas nilai tukar.

Dari sisi dampak, pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor dan memicu tekanan inflasi, terutama pada barang-barang yang masih bergantung pada bahan baku dari luar negeri. Selain itu, beban pembayaran utang luar negeri, baik pemerintah maupun swasta, dapat meningkat akibat pelemahan nilai tukar. Meski demikian, sejumlah analis menilai level rupiah mendekati Rp 17.000 per dolar AS masih berada dalam batas yang dapat dikelola selama fundamental ekonomi domestik tetap terjaga.

Ke depan, proyeksi nilai tukar rupiah masih dibayangi tantangan global. Lembaga riset internasional memperkirakan rupiah berpotensi tetap berada dalam tekanan hingga akhir 2026. Namun, kinerja neraca perdagangan Indonesia yang masih mencatatkan surplus dinilai dapat menjadi bantalan untuk meredam tekanan lebih lanjut.

Bank Indonesia diperkirakan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen kebijakan, termasuk intervensi di pasar valuta asing dan pengelolaan likuiditas. Di sisi lain, arah kebijakan moneter global, khususnya keputusan suku bunga The Fed, akan tetap menjadi faktor kunci yang memengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka menengah. Dinamika ini sejalan dengan teori ekonomi internasional yang menjelaskan hubungan antara perbedaan suku bunga dan pergerakan nilai tukar.***

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *