Nostalgia Ramadan: 5 Tanda Khas Menjelang Puasa
INFO BANDUNG BARAT — Ada sebuah frekuensi unik yang hanya dapat ditangkap oleh hati masyarakat Indonesia ketika bulan suci Ramadan mulai mendekat. Bukan sekadar perubahan jadwal makan atau rutinitas harian, momen ini hadir sebagai rangkaian kenangan tentang kebersamaan, aroma khas, serta kehangatan yang selalu menimbulkan rasa rindu.
Seiring waktu berjalan, berbagai tanda mulai bermunculan dan secara tidak langsung memberi isyarat bahwa bulan puasa semakin dekat.
Iklan sirup yang mulai tayang di layar kaca menjadi salah satu penanda paling ikonik. Tanpa perlu pengumuman resmi, kemunculan iklan sirup Marjan yang dibalut cerita keluarga atau kisah kolosal seolah menjadi alarm kolektif. Musik khasnya cukup untuk membuat banyak orang tersenyum dan berkata dalam hati, “Ramadan sebentar lagi.”
Di sisi lain, pedagang musiman mulai bermunculan menjajakan timun suri dan cangkaleng atau kolang-kaling. Bahan-bahan ini menjadi ciri khas bulan puasa sebagai pelengkap es buah yang menyegarkan.
Perubahan juga terlihat di pasar dan pusat perbelanjaan. Rak-rak yang sebelumnya tampak biasa kini dipenuhi aneka kurma dari berbagai jenis dan merek. Hal ini mengingatkan pada kebiasaan masyarakat yang dianjurkan berbuka puasa dengan makanan manis dan bernutrisi.
Menjelang Ramadan, suasana pemakaman pun tampak lebih ramai. Banyak orang melakukan ziarah kubur dengan membersihkan makam leluhur dan memanjatkan doa. Tradisi ini menjadi bentuk penghormatan sekaligus refleksi diri sebelum memasuki bulan suci.
Selain itu, tradisi munggahan atau makan bersama turut mewarnai suasana. Keluarga, tetangga, dan rekan kerja berkumpul dalam satu meja untuk berbagi hidangan dan cerita. Momen ini menjadi sarana mempererat silaturahmi sebelum aktivitas ibadah Ramadan dimulai.
Semua tanda tersebut hadir sederhana, tetapi sarat makna. Ketika iklan mulai tayang, timun suri bermunculan, dan suasana kebersamaan semakin terasa, itulah saat Ramadan benar-benar berada di ambang pintu.***
Penulis: Anggie Baeduri Aulia R
Editor: Ayu Diah Nur’azizah