38°C
17/03/2026
Sejarah

Nyaris Dibubarkan, SMAN 1 Cililin dan Jejak Sejarah di Lahan Bersejarah Cililin

  • Maret 17, 2026
  • 3 min read
Nyaris Dibubarkan, SMAN 1 Cililin dan Jejak Sejarah di Lahan Bersejarah Cililin

INFO BANDUNG BARAT — Berdiri megah di atas lahan yang kaya nilai sejarah, SMA Negeri 1 Cililin (SMANSACIL) bukan sekadar lembaga pendidikan biasa. Sekolah ini merupakan saksi bisu transformasi panjang sebuah kawasan di Kabupaten Bandung Barat, mulai dari pusat teknologi komunikasi era Belanda, markas militer, hingga akhirnya menjadi lingkungan pendidikan.

Sejarah kawasan ini berakar pada tahun 1914, ketika Pemerintah Kolonial Belanda mendirikan Stasiun Pemancar Radio Cililin. Pada masa itu, instalasi ini dikelola oleh Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij (NIROM). Fasilitas tersebut menjadi bagian penting dari jaringan komunikasi Hindia Belanda. Namun, seiring waktu, fungsi stasiun tersebut menurun. Berbagai peralatan dipindahkan ke wilayah lain seperti Rancaekek dan Dayeuhkolot, sehingga kompleks di Cililin tidak lagi beroperasi secara optimal.

Kompleks ini kemudian mengalami peralihan fungsi yang dinamis. Sebelum menjadi institusi pendidikan, area tersebut merupakan bangunan bekas tempat tinggal pegawai stasiun radio. Pada masa kemerdekaan, fungsinya berubah menjadi markas Badan Keamanan Rakyat (BKR) Kewedanaan Cililin. Selanjutnya, kawasan ini digunakan oleh kesatuan militer, mulai dari Batalyon 22 Jaya Pangrengot hingga Batalyon 327 Divisi Siliwangi pada kurun waktu 1950 hingga 1973.

Di sisi lain, SMA Negeri 1 Cililin telah dirintis sejak 8 Januari 1967. Pendirian sekolah ini merupakan hasil pemikiran dan kerja keras kolektif para tokoh masyarakat Cililin, pejabat pemerintah, Pengurus PGRI Cililin, serta Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) Komisariat Cililin.

Atas persetujuan Kepala Perwakilan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Barat, sekolah ini mulai beroperasi di bawah kepemimpinan kepala sekolah pertama, Bapak Muhtar.

Pada masa awal berdirinya, SMAN 1 Cililin belum memiliki gedung tetap. Selama kurang lebih enam tahun, kegiatan belajar mengajar menumpang di Gedung PGRI Cabang Cililin yang saat itu kosong. Tanpa dikenakan biaya sewa, gedung tersebut menjadi tumpuan utama keberlangsungan sekolah.

Namun, tantangan berat muncul pada tahun 1973. Akibat lambatnya pembangunan sarana fisik, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Barat memberikan sanksi berupa ancaman penutupan atau pembubaran sekolah. Tokoh masyarakat dan pemerintah setempat tidak tinggal diam. Melalui upaya komunikasi dengan Jaksa Agung saat itu, Sugiharto, diperoleh kesepakatan bahwa kompleks bekas asrama militer di kawasan radio akan dihibahkan kepada masyarakat untuk kepentingan pendidikan. Peresmian hibah yang semula direncanakan pada pertengahan April 1973 dipercepat menjadi 29 Maret 1973, yang menandai titik balik penting bagi keberlangsungan SMAN 1 Cililin.

Selanjutnya, lahan dan bangunan tersebut diserahkan kepada pemerintah daerah dan diteruskan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Barat untuk dimanfaatkan sebagai lokasi sekolah. Bangunan-bangunan lama kemudian digunakan sebagai fasilitas pendidikan.

Beberapa rumah bekas pegawai radio tetap dipertahankan dan dirawat dengan baik. Salah satunya adalah rumah yang pernah ditempati oleh Tuan H.C.A. Smits, seorang teknisi kelas I di gedung radio NIROM. Rumah tersebut juga sempat digunakan sebagai kediaman Raymond Pierre Paul Westerling, tokoh militer Belanda yang dikenal melakukan berbagai tindakan represif di Nusantara, khususnya di Sulawesi dan Bandung. Kini, bangunan tersebut difungsikan sebagai ruang pimpinan sekolah.

Perjalanan panjang kawasan ini mencerminkan dinamika sejarah yang kaya, mulai dari masa kolonial, pendudukan militer, hingga era pendidikan modern. SMAN 1 Cililin tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga simbol transformasi dan perjuangan masyarakat dalam mewujudkan akses pendidikan.***

About Author

Anggie Baeduri Aulia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *