Pembakaran Sampah di Pedesaan: Bahaya yang Sering Terabaikan
INFO BANDUNG BARAT — Tinggal di wilayah pedesaan kerap dipersepsikan sebagai gambaran kehidupan yang dekat dengan alam. Rumah-rumah tidak berdempetan, hamparan sawah masih mudah dijumpai, udara terasa lebih segar, dan hubungan antarwarga terjalin akrab. Namun, di balik ketenangan tersebut, terdapat persoalan lingkungan yang telah lama terjadi dan kerap luput dari perhatian, yakni kebiasaan pembakaran sampah rumah tangga.
Di banyak desa, aroma asap pembakaran sampah menjadi hal yang lazim tercium hampir setiap pagi. Sebagian besar rumah tangga memiliki lokasi pembakaran sampah sendiri di pekarangan rumah. Kebiasaan ini muncul bukan tanpa sebab. Ketiadaan layanan pengangkutan sampah menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA), jarak TPA yang relatif jauh, serta kondisi akses jalan yang sempit dan belum memadai membuat pembakaran sampah dianggap sebagai solusi paling praktis oleh masyarakat pedesaan.
Tantangan Pengelolaan Sampah di Wilayah Pedesaan
Salah satu tantangan utama pengelolaan sampah di pedesaan adalah jarak dan aksesibilitas. Jarak antara permukiman warga dan fasilitas pembuangan sampah yang cukup jauh menyulitkan masyarakat untuk membuang sampah secara rutin. Kondisi ini kerap berujung pada penumpukan sampah di sekitar rumah. Selain itu, akses jalan yang sempit, berlumpur, atau rusak menjadi kendala bagi kendaraan pengangkut sampah untuk menjangkau wilayah pedesaan secara berkala.
Akibat keterbatasan tersebut, pembakaran sampah sering dianggap sebagai cara tercepat untuk menghilangkan masalah. Padahal, pembakaran sampah, terutama sampah plastik yang bercampur dengan jenis sampah lain, justru mengalihkan persoalan sampah menjadi pencemaran udara yang berbahaya.
Dampak Pembakaran Sampah terhadap Kesehatan
Pembakaran sampah tidak benar-benar menghilangkan sampah, melainkan mengubahnya menjadi asap yang mengandung partikel halus dan zat beracun. Pembakaran plastik secara terbuka menghasilkan partikulat, karbon monoksida, serta berbagai senyawa berbahaya yang dapat terhirup dan masuk ke dalam tubuh manusia. Paparan zat-zat tersebut berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, terutama pada sistem pernapasan dan kardiovaskular.
Dikutip dari penelitian yang dilakukan University of Manchester oleh Maharani dkk., pembakaran sampah plastik di wilayah pedesaan Indonesia terbukti meningkatkan risiko penyakit jantung. Penelitian yang dipimpin Dr. Asri Maharani ini dilakukan di sejumlah desa di Jawa Timur, di mana sampah plastik berkualitas rendah kerap digunakan sebagai bahan bakar atau dibakar secara rutin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan asap pembakaran plastik berkontribusi terhadap peningkatan risiko gangguan kardiovaskular pada masyarakat pedesaan.
Solusi Pengelolaan Sampah di Pedesaan
Untuk mengurangi kebiasaan pembakaran sampah, masyarakat pedesaan dapat memulai dengan memisahkan sampah organik dan anorganik di rumah. Sampah organik, seperti sisa makanan dan daun, dapat diolah menjadi kompos, lubang biopori, atau difermentasi menjadi ecoenzim. Sementara itu, sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan kaleng dapat dikumpulkan untuk dijual atau didaur ulang, sehingga memiliki nilai ekonomi bagi warga.
Selain itu, penggunaan barang sekali pakai, seperti kantong plastik atau wadah sekali pakai, perlu dikurangi dengan beralih ke wadah dan tas guna ulang. Upaya ini akan lebih efektif apabila didukung oleh keberadaan bank sampah di tingkat desa sebagai pusat pengelolaan dan pendaurulangan. Langkah tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah yang mendorong partisipasi masyarakat dan penerapan sistem pengelolaan sampah yang ramah lingkungan agar lebih tertata dan berkelanjutan.***
Penulis: Anggie Baeduri Aulia R
Editor: Ayu Diah Nur’azizah