Perlukah Anak Nakal Dikirim Ke Barak?
INFO BANDUNG BARAT–Belakangan ini kebijakan pemerintah daerah yang mengirim anak-anak ke barak pembinaan menuai perhatian publik. Anak-anak yang dicap nakal, melawan aturan sekolah, atau terlihat membangkang dikirim ke barak yang berisi pelatihan disiplin ala militer. Di Jawa Barat misalnya, program seperti ini dikenal berasal dari inisiatif Kang Dedi Mulyadi atau KDM.
Bagi sebagian pihak, pendekatan tersebut dianggap mendidik. Namun sebagian lainnya justru mempertanyakan cara pandang seperti ini. Apakah benar yang bermasalah adalah anak-anaknya atau justru cara kita sebagai orang dewasa memandang dan memperlakukan mereka.
Anak Bukan Produk Gagal yang Harus Diperbaiki
Penelitian dalam psikologi perkembangan menunjukkan bahwa anak-anak tidak dapat bertumbuh dengan sehat jika perasaan mereka ditekan. Daniel Siegel dan Tina Payne Bryson dalam buku The Whole-Brain Child menjelaskan bahwa respons emosional anak adalah bagian penting dari proses tumbuh kembang. Bila respons ini ditekan terus-menerus atau dihukum, anak justru kehilangan kepercayaan pada orang dewasa.
Hal serupa juga ditegaskan oleh James Garbarino. Dalam bukunya Raising Children in a Socially Toxic Environment, ia menyebut bahwa perilaku negatif anak kerap menjadi cerminan dari lingkungan yang tidak ramah atau bahkan membahayakan kesehatan mental anak.
Kenakalan Anak Bisa Jadi Tanda Bahwa Mereka Butuh Didengar
Tidak semua anak yang membolos sekolah atau melawan guru adalah anak nakal. Bisa jadi mereka mengalami tekanan emosional di rumah. Bisa jadi mereka tidak mendapatkan cukup perhatian dan ruang untuk berekspresi. Anak yang marah, reaktif, atau gelisah kadang hanya sedang berusaha menjelaskan apa yang tidak bisa mereka ucapkan dengan kata-kata.
Tokoh pendidikan Nancy Noddings mengatakan bahwa anak akan lebih mudah belajar disiplin jika berada dalam relasi yang penuh empati. Disiplin tidak harus melalui hukuman. Ia bisa tumbuh dari rasa percaya dan kasih sayang yang konsisten.
Mengirim Anak ke Barak Tidak Menyelesaikan Akar Masalah
Kebijakan yang berfokus pada mengirim anak ke barak bisa menjadi solusi instan namun berisiko. Ia seolah menyelesaikan masalah tetapi mengabaikan akar persoalan yang lebih dalam. Anak-anak yang mengalami kekerasan di rumah misalnya, atau yang hidup dalam kemiskinan, justru memerlukan dukungan sosial dan pengasuhan yang lebih manusiawi.
Dalam situasi ini negara tidak bisa hanya hadir dengan solusi disipliner. Negara harus membangun sistem perlindungan anak yang berkeadilan. Ia wajib memastikan bahwa keluarga mendapatkan akses ke pendidikan yang berkualitas, pekerjaan yang layak, ruang hidup yang aman, serta dukungan psikososial yang memadai.
Disiplin Sejati Berasal dari Hubungan yang Hangat
Disiplin tidak sama dengan hukuman. Disiplin yang efektif justru muncul dari kehadiran orang dewasa yang mampu membimbing dengan penuh kasih. Barbara Rogoff dalam The Cultural Nature of Human Development menyebut bahwa anak-anak belajar lebih baik dalam lingkungan yang partisipatif. Bukan dalam sistem yang hanya mengandalkan perintah dan ancaman.
Anak yang merasa dicintai akan belajar bertanggung jawab bukan karena takut dihukum melainkan karena ingin menjadi bagian dari komunitas yang ia hormati.
Pelukan Lebih Mengubah daripada Teriakan
Banyak orang tua berharap anak-anak mereka tumbuh menjadi manusia yang kuat. Tapi kekuatan itu tidak lahir dari pemaksaan. Ia tumbuh dari keyakinan bahwa mereka dicintai apa adanya. Maka, sebelum terburu-buru menilai anak sebagai pembangkang, coba hadir di dunia mereka. Temani mereka bermain di hutan, baca buku bersama di bukit, bantu mereka memanjat pohon atau menerbangkan layangan yang gagal.
Yang dibutuhkan anak bukanlah tempat asing untuk diperbaiki. Yang mereka butuhkan adalah pelukan dari orang terdekat. Tatapan yang mengasihi. Waktu yang dihabiskan bersama. Dan telinga yang sungguh-sungguh ingin mendengar.