Rumput Lembang: Membaca Sejarah Lembang dari Vegetasi Alaminya
INFO BANDUNG BARAT — Lembang hari ini kerap dipahami sebagai kawasan wisata pegunungan dengan udara sejuk dan lanskap modern yang terus berkembang. Namun, jauh sebelum citra itu melekat, Lembang memiliki sejarah ekologis yang kuat dan bahkan tersimpan dalam nama wilayahnya sendiri. Menurut Malia Nur Alifa, penulis dan penggiat sejarah Lembang, istilah “Lembang” bukan sekadar merujuk pada bentang alam yang melebar atau “ngalembang“, melainkan berasal dari nama tumbuhan yang dulu tumbuh melimpah di kawasan ini, yakni rumput lembang.
Dalam pemaparannya, Malia menjelaskan bahwa rumput lembang merupakan jenis rumput air yang hidup di daerah basah dan tumbuh mengikuti aliran sungai dataran tinggi. Dalam sebutan lokal, tumbuhan ini dikenal sebagai embet atau ampet, sementara dalam literatur kolonial Belanda ia dicatat sebagai penanda lanskap khas Lembang. “Saya menemukan ini di buku Belanda, dan di situ jelas disebutkan bahwa Lembang merujuk pada rumput yang tumbuh di sepanjang sungai,” ujar Malia.
Jejak rumput lembang tidak bisa dilepaskan dari keberadaan sungai-sungai yang dahulu mengalir melintasi Lembang. Berdasarkan peta topografi tahun 1919 yang ditelusuri Malia, wilayah ini memiliki jaringan aliran air yang jauh lebih rapat dibandingkan kondisi sekarang. Sungai-sungai tersebut mengalir dari kawasan atas hingga ke lembah, termasuk area yang kini berada di sekitar Gereja Karmel dan jalur menuju kawasan wisata. Di sepanjang aliran itulah rumput lembang tumbuh subur dan menjadi bagian penting dari sistem alam Lembang.
Ingatan tentang rumput lembang juga masih tersisa dalam pengalaman personal Malia. Ia menyebut bahwa hingga pertengahan 1990-an, rumput ini masih bisa ditemukan di sekitar Situ Umar, yang kini dikenal sebagai kawasan Floating Market. “Waktu saya pindah ke Lembang tahun 1994, rumput itu masih ada dan sangat jelas terlihat,” tuturnya.
Perubahan mulai terasa ketika alih fungsi lahan berlangsung secara masif. Sungai-sungai yang dulu terbuka perlahan tertutup bangunan, sementara lahan basah berubah menjadi permukiman dan area wisata. Malia menegaskan bahwa air sebenarnya masih mengalir, tetapi tidak lagi terlihat. “Dulu sungainya jelas, sekarang masih ada tapi tertutup bangunan,” katanya.
Dampak dari perubahan ini kini dirasakan secara nyata. Lembang yang berada di dataran tinggi justru semakin sering mengalami banjir dan genangan. Kondisi ini dikaitkan dengan menurunnya daya serap tanah akibat hilangnya vegetasi air dan penutup lahan alami. Rumput lembang yang dulu berfungsi menahan air dan menjaga struktur tanah kini tak lagi ditemukan, meninggalkan lanskap yang rapuh terhadap curah hujan tinggi.
Perubahan relasi manusia dengan alam juga terasa dalam ingatan kolektif warga. Malia menggambarkan pergeseran itu dengan sederhana namun tajam. “Dulu hujan itu bikin orang tidur nyenyak, sekarang hujan bikin deg-degan,” ujarnya.
Sejarah rumput lembang juga terhubung dengan catatan kolonial yang lebih tua. Dalam arsip VOC abad ke-17, kawasan Lembang yang ditulis sebagai Lembak tercatat sebagai wilayah yang memberikan upeti, salah satunya berupa bunga pohon kesumba. Tanaman ini menghasilkan warna magenta yang sangat bernilai dan diekspor ke Eropa. Seperti halnya rumput lembang, pohon kesumba kini tak lagi ditemukan di Lembang, menandai hilangnya dua komoditas penting yang pernah membentuk identitas ekologis wilayah ini.***