Salah Kaprah GERD dan Serangan Jantung: Mengapa Sains Sering Kalah dari Opini Viral?
INFO BANDUNG BARAT — Dunia media sosial Indonesia baru-baru ini diwarnai kabar duka meninggalnya selebgram Lula Lahfah. Namun, yang jauh lebih mengkhawatirkan adalah gelombang disinformasi medis yang menyertainya. Banyak warganet bersikeras bahwa GERD (asam lambung) menjadi penyebab langsung kematian mendadak, bahkan menyerang dokter spesialis yang berupaya memberikan edukasi berbasis sains.
Fenomena ini mencerminkan apa yang disebut The Death of Expertise, yakni matinya kepakaran di era post-truth, ketika emosi dan pengalaman personal lebih dipercaya daripada fakta ilmiah. Beberapa dokter, termasuk dr. Bobby Arfhan Anwar, Sp.JP., mendapat hujatan hanya karena menyatakan bahwa secara fisiologis GERD tidak menyebabkan henti jantung.
Kepercayaan publik, menurut psikologi sosial, tidak hanya dibentuk oleh kebenaran data, tetapi juga oleh kedekatan emosional. Influencer membangun hubungan parasosial, yaitu relasi satu arah di mana audiens merasa dekat seolah-olah sang figur adalah “teman sendiri”.
Situasi ini diperparah oleh bias konfirmasi, yakni kecenderungan mencari informasi yang mendukung ketakutan pribadi. Seseorang yang pernah merasakan sensasi dada terbakar akibat asam lambung akan lebih mudah memercayai narasi emosional bahwa GERD mematikan daripada penjelasan medis yang kompleks.
Para ahli, termasuk dr. Tirta Mandira Hudhi, menegaskan bahwa lambung dan jantung merupakan dua sistem yang berbeda. Meski letaknya berdekatan, asam lambung tidak dapat secara langsung menghentikan detak jantung. Kematian mendadak umumnya disebabkan oleh gangguan irama jantung atau sumbatan pembuluh darah.
Kesalahpahaman ini berbahaya karena dapat menyebabkan salah diagnosis. Nyeri dada akibat serangan jantung kerap disangka sebagai maag biasa sehingga penanganan darurat terlambat. Literasi medis menjadi kunci untuk menyelamatkan nyawa, mencegah kecemasan berlebihan, dan menghindari pengobatan mandiri yang keliru.
Pada akhirnya, pengalaman pribadi tidak dapat menggantikan sains. Tanpa bukti medis yang sah, mengaitkan kematian secara tunggal dengan GERD merupakan kekeliruan yang berisiko. Dengan literasi kesehatan yang baik, masyarakat diharapkan mampu bersikap waspada tanpa terjebak kepanikan dan lebih bijak menyaring informasi kesehatan dari sumber yang kompeten.***
Penulis: Anggie Baeduri Aulia R
Editor: Ayu Diah Nur’azizah