INFO BANDUNG BARAT — Mantan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyampaikan kekhawatirannya terhadap kondisi geopolitik global yang dinilai semakin mengkhawatirkan dan berpotensi mengarah pada Perang Dunia III. Dalam pernyataannya, SBY menilai eskalasi konflik di berbagai kawasan dunia menunjukkan pola yang tidak bisa diabaikan, meskipun ia menegaskan bahwa perang global masih dapat dicegah apabila dunia internasional bertindak lebih serius dan kolektif.
SBY mengungkapkan bahwa kecemasannya bukan muncul secara tiba-tiba. Selama sekitar tiga tahun terakhir, ia mengamati perkembangan konflik global yang kian kompleks, mulai dari rivalitas antarnegara besar, konflik regional yang terus meluas, hingga melemahnya peran diplomasi internasional. Menurutnya, ruang dan waktu untuk mencegah konflik besar kini semakin sempit, meski harapan untuk menjaga perdamaian dunia masih ada.
Sebagai tokoh yang puluhan tahun mengikuti dinamika geopolitik, keamanan internasional, dan sejarah peperangan, SBY menegaskan bahwa pernyataannya didasarkan pada kajian dan pengamatan panjang. Ia melihat kondisi dunia saat ini memiliki kemiripan dengan situasi menjelang pecahnya Perang Dunia I dan Perang Dunia II, terutama dalam hal pembentukan blok kekuatan global, meningkatnya perlombaan senjata, serta munculnya pemimpin negara kuat yang cenderung agresif dalam kebijakan luar negerinya.
SBY juga mengingatkan bahwa ancaman perang global saat ini tidak bisa dipahami sebagai konflik konvensional biasa. Jika Perang Dunia III benar-benar terjadi, dampaknya berpotensi jauh lebih destruktif, termasuk kemungkinan penggunaan senjata nuklir, kehancuran ekonomi global, serta krisis kemanusiaan berskala besar. Ia merujuk pada berbagai kajian internasional yang menyebut bahwa perang dunia modern dapat membawa konsekuensi fatal bagi keberlangsungan peradaban manusia.
Atas dasar itu, SBY mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengambil peran lebih aktif. Ia mendesak agar PBB segera menggelar Sidang Umum Darurat yang melibatkan para pemimpin dunia guna membahas langkah-langkah konkret dalam mencegah eskalasi konflik global. Menurut SBY, PBB tidak boleh bersikap pasif ketika tanda-tanda krisis besar semakin jelas terlihat di panggung internasional.***