38°C
27/04/2026
Lifestyle Lingkungan Hidup

Sisi Gelap War Takjil: dari Euforia Konsumsi hingga Gunungan Sampah

  • Februari 24, 2026
  • 2 min read
Sisi Gelap War Takjil: dari Euforia Konsumsi hingga Gunungan Sampah

INFO BANDUNG BARAT — Fenomena “war takjil” yang viral di media sosial belakangan ini memang membawa keceriaan dan menggerakkan roda ekonomi lokal. Namun, di balik keseruan berburu kudapan buka puasa, terselip ancaman lingkungan yang nyata: lonjakan timbulan sampah.

Ramadan sejatinya adalah bulan pengendalian diri, periode untuk menahan lapar, haus, dan hawa nafsu. Namun, ironisnya, data berbicara sebaliknya. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat bahwa pada Ramadan 2024, volume sampah makanan justru melonjak 20 persen dibandingkan bulan biasa.

Bahkan, data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan angka fantastis, yakni sampah makanan nasional mencapai lebih dari 17 juta ton pada 2024 atau setara dengan 41,6 persen dari total sampah nasional. Artinya, jika tidak bijak, momen suci ini justru berpotensi menjadi “pesta sampah” akibat perilaku konsumtif dan ketergantungan pada plastik sekali pakai.

Sumber utamanya berasal dari kebiasaan penggunaan plastik sekali pakai. Penggunaan kantong kresek, gelas plastik, dan sedotan meningkat tajam karena kepraktisannya dalam transaksi cepat di pinggir jalan.

Sumber lainnya berasal dari perilaku konsumtif saat berbuka puasa yang menghasilkan sisa makanan atau food waste. Sering kali terjadi “lapar mata” saat berburu takjil sehingga membeli lebih banyak dari yang mampu dimakan dan akhirnya berakhir di tempat sampah.

Beberapa komunitas mulai menyadari dampak ini. Sebagai contoh, panitia Kampung Ramadan Jogokariyan di Yogyakarta terus berupaya menekan sampah dengan penggunaan piring permanen (bukan kotak sekali pakai) untuk ribuan porsi buka puasa setiap harinya.

Berburu takjil tetap boleh dan menyenangkan, asalkan dilakukan dengan lebih bijak. Ada beberapa tips praktis agar tetap bisa menikmati jajanan tanpa menambah beban bumi. Bawalah wadah guna ulang dari rumah, seperti lunch box atau wadah makanan untuk gorengan dan kue agar tidak menggunakan kemasan sekali pakai.

Saat membeli minuman, gunakan tumbler pribadi guna menghindari gelas plastik sekali pakai. Selain itu, belilah secukupnya agar tidak terjebak “lapar mata” yang berujung pada food waste, dengan fokus pada kebutuhan, bukan sekadar keinginan. Jika terlanjur membeli terlalu banyak, simpan makanan untuk sahur atau kelola sisa organik menjadi kompos di rumah sehingga tidak berakhir sebagai sampah.

Mari jadikan Ramadan kali ini sebagai ajang pembuktian bahwa kita mampu mengendalikan diri, tidak hanya dari rasa lapar, tetapi juga dari keinginan merusak lingkungan dengan sampah plastik.***

About Author

Anggie Baeduri Aulia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *