38°C
15/01/2026
Budaya

Tahun 2026 dalam Ilmu Leluhur Sunda: Ketika Keseimbangan Jagat Diuji

  • Januari 1, 2026
  • 4 min read
Tahun 2026 dalam Ilmu Leluhur Sunda: Ketika Keseimbangan Jagat Diuji

INFO BANDUNG BARAT — Tahun baru kerap dipahami sebagai pergantian angka dan harapan. Namun, dalam pandangan ilmu leluhur Sunda, pergantian tahun—termasuk tahun 2026—bukan sekadar peristiwa kalender, melainkan momentum kosmis yang menandai perubahan relasi antara manusia, alam, dan dunia batin. Tahun ini dipahami sebagai fase ketika keseimbangan jagat berada dalam kondisi rapuh dan sedang diuji.

Pemaknaan tersebut berangkat dari pembacaan kosmologis yang berpijak pada penanggalan Sunda, khususnya peralihan tahun Saka Sunda 1948 yang jatuh pada 21 Desember 2025. Pergantian ini dipandang sebagai pintu masuk untuk membaca watak tahun 2026, sebagaimana dijelaskan dalam tulisan Ambu Rita Laraswati, seorang penulis, budayawan, dan seniman Sunda di MajmusSunda.id.

Kalender Sunda dan Watak Tahun

Dalam ilmu leluhur Sunda, waktu tidak dipahami secara linier semata, melainkan bersifat siklikal dan berlapis. Penanggalan Saka Sunda dan Caka Sunda disusun berdasarkan pergerakan bulan dan matahari, sehingga setiap pergantian tahun diyakini membawa perubahan tatanan energi alam. Karena itu, tahun 2026 dipahami memiliki watak tersendiri yang memengaruhi kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya.

Pandangan ini sejalan dengan kajian antropologi budaya Sunda yang menempatkan waktu sebagai ruang dialog antara manusia dan jagat raya. Tahun baru menjadi saat untuk membaca tanda-tanda alam, menata niat hidup, serta mengingat kembali ajaran leluhur.

Ayak-Ayak Béas sebagai Laku Penyaringan Tahun 2026

Salah satu konsep penting dalam pembacaan tahun 2026 adalah Ayak-Ayak Béas. Dalam kehidupan sehari-hari, ayakan beras digunakan untuk memisahkan beras dari kotoran. Dalam ilmu leluhur Sunda, praktik ini menjadi simbol laku penyaringan batin dan sosial.

Tahun 2026 dipahami sebagai masa ketika manusia disaring oleh situasi dan peristiwa yang dihadapinya. Mereka yang mampu menjaga kejujuran, kesadaran diri, dan keteguhan nilai diyakini akan bertahan, sementara mereka yang hidup tanpa keseimbangan akan merasakan konsekuensinya. Penyaringan ini tidak dimaksudkan sebagai hukuman, melainkan sebagai proses pemurnian jagat.

Tata Jagat dan Keseimbangan Buana

Ilmu leluhur Sunda mengenal tatanan jagat yang tersusun atas Buana Nyungcung, Buana Panca Tengah, dan Buana Larang. Ketiganya saling terhubung dan memengaruhi. Kehidupan manusia berada di Buana Panca Tengah dan bertugas menjaga keselarasan dengan dua buana lainnya.

Sejumlah kajian tentang Sunda Wiwitan dan kosmologi Sunda menjelaskan bahwa ketika manusia gagal menjaga keseimbangan, dampaknya akan muncul dalam bentuk gangguan alam dan ketegangan sosial. Dalam kerangka ini, gejolak yang menyertai tahun 2026 dipahami sebagai tanda bahwa hubungan antarbuana sedang tidak harmonis.

Guncangan sebagai Bahasa Alam

Ilmu leluhur Sunda tidak memandang bencana atau konflik semata-mata sebagai musibah. Guncangan alam dan sosial justru dipahami sebagai bahasa alam yang mengingatkan manusia agar kembali pada jalan keseimbangan. Tahun 2026, dalam konteks ini, menjadi momen reflektif untuk membaca pesan-pesan tersebut dengan lebih jernih.

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran filsafat Sunda yang menekankan sikap eling dan waspada dalam menghadapi perubahan. Manusia tidak ditempatkan sebagai penguasa alam, melainkan sebagai bagian dari tatanan yang lebih luas.

Tri Tangtu di Buana dan Relevansi Zaman Kini

Ajaran Tri Tangtu di Buana menjadi salah satu fondasi penting dalam ilmu leluhur Sunda. Ajaran ini menekankan keseimbangan antara peran pemegang kekuasaan, pemilik pengetahuan, dan masyarakat. Dalam konteks tahun 2026, Tri Tangtu dapat dibaca sebagai ajakan untuk menata ulang relasi sosial, politik, dan ekologis agar tidak timpang.

Berbagai tulisan akademik menyebutkan bahwa Tri Tangtu bukan sekadar konsep tradisional, melainkan kerangka etis yang relevan untuk menjawab krisis kontemporer, mulai dari kerusakan lingkungan hingga ketidakadilan sosial.

Tahun 2026 sebagai Peringatan Kesadaran

Pada akhirnya, pemaknaan tahun 2026 dalam ilmu leluhur Sunda tidak dimaksudkan sebagai ramalan kehancuran. Ia lebih tepat dibaca sebagai peringatan kesadaran. Tahun ini mengajak manusia untuk kembali pada nilai eling, menjaga hubungan dengan alam, serta menghormati ajaran leluhur yang menempatkan harmoni sebagai inti kehidupan.

Dengan demikian, tahun 2026 bukan hanya tentang apa yang akan terjadi, melainkan tentang bagaimana manusia merespons perubahan. Apakah akan terus larut dalam ketimpangan, atau menjadikan tahun ini sebagai momentum untuk menata ulang kehidupan secara lebih arif dan seimbang.***

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *