Pacu Jalur Diklaim Negara Lain, Pengingat Pentingnya Menjaga Budaya Indonesia
INFO BANDUNG BARAT–Tradisi Pacu Jalur, yang berasal dari Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, baru-baru ini menjadi sorotan dunia setelah video pertunjukannya viral di media sosial. Sayangnya, popularitas ini disertai dengan klaim sepihak dari warganet negara lain, termasuk Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina, yang menganggap Pacu Jalur sebagai bagian dari budaya mereka.
Viralnya tarian di ujung perahu—dikenal sebagai Anak Coki—membuat warganet luar negeri tertarik dan mulai menyebarkan ulang video tersebut tanpa menyebut asal usulnya secara tepat. Bahkan, beberapa di antaranya menyatakan bahwa tradisi tersebut berasal dari negara mereka. Hal ini memicu kemarahan banyak pengguna internet dari Indonesia yang merasa budaya nasional kembali mengalami potensi pengakuan sepihak.
Pemerintah Daerah dan Menteri Kebudayaan Buka Suara
Menanggapi situasi tersebut, Gubernur Riau, Abdul Wahid menegaskan bahwa Pacu Jalur merupakan tradisi asli masyarakat Kuantan Singingi yang telah dilaksanakan sejak abad ke-17. Tradisi ini bermula sebagai moda transportasi sungai dan kemudian berkembang menjadi lomba perahu tahunan yang sarat nilai adat dan spiritual.
“Pacu Jalur adalah warisan budaya yang sangat unik dan otentik. Kami sudah mengusulkan tradisi ini ke UNESCO agar mendapat pengakuan internasional,” kata Abdul dikutip dari Media Center Riau, Selasa (8/7/2025).
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, juga menegaskan bahwa Pacu Jalur telah terdaftar sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia sejak tahun 2014. Ia menyebutkan bahwa Pacu Jalur merupakan salah satu dari lebih dari 1.700 budaya takbenda yang tercatat di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
“Budaya ini sudah resmi milik Indonesia. Kita harus segera dorong agar diakui juga di tingkat dunia sebelum ada yang klaim secara formal,” ujar Fadli dalam pernyataannya yang dimuat di Kompas.com.
Bukan Sekadar Lomba, Tapi Warisan yang Sakral
Pacu Jalur bukan sekadar perlombaan mendayung. Setiap jalur (perahu panjang) memiliki struktur peran, mulai dari Tukang Concang (pemimpin irama), Anak Coki (penari), Onjai (pengatur keseimbangan), hingga Pinggang (pengayuh utama). Proses pembuatan jalur pun melibatkan ritual adat, sebagai wujud penghormatan terhadap alam.
Tradisi ini menjadi agenda tahunan yang diselenggarakan setiap bulan Agustus dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Kuansing.
Budaya Lokal di Ujung Tanduk
Namun, kasus Pacu Jalur ini tidak bisa dipandang sebagai masalah Riau semata. Ia menjadi cerminan tantangan yang lebih luas: banyak budaya lokal Indonesia yang belum terdokumentasi secara baik, belum tercatat sebagai warisan nasional, apalagi internasional.
Celakanya, budaya yang tak tercatat dan tak didukung oleh promosi publik akan mudah disalahpahami, bahkan diambil alih narasinya oleh pihak luar.