Mamaos: Kacapi Indung, Suara Leluhur, dan Sastra yang Tak Ditulis
INFO BANDUNG BARAT–Di tanah Pasundan yang subur dan menenangkan, hadir satu bentuk kesenian yang tidak hanya berbicara lewat suara, tetapi juga lewat rasa, yaitu mamaos. Ia bukan sekadar seni vokal, tetapi jalan sunyi untuk mengenang, merenung, dan menghayati ajaran-ajaran karuhun Sunda yang tak lekang oleh waktu.
Lebih dari Sekadar Tembang
Mamaos — atau tembang Sunda Cianjuran — lahir dan berkembang pada abad ke-19, terutama di kalangan bangsawan Priangan. Tokoh penting di balik perkembangan mamaos adalah Dalem R. A. A. Kusumaningrat (Dalem Pancaniti), Bupati Cianjur saat itu. Seiring waktu, mamaos menjadi milik masyarakat luas, menjadi sarana berekspresi, sekaligus penyampai nilai-nilai hidup Sunda yang halus dan mendalam.
Dalam istilah Sunda, “mamaos” berarti membaca atau melantunkan dengan tartil. Namun di balik pengertian literalnya, mamaos menjadi cara orang Sunda ngabandungan rasa, memperdalam pengalaman hidup melalui suara yang lembut, getar yang khidmat, dan sastra yang tidak ditulis, melainkan disuarakan.
Kacapi Indung: Suara Ibu, Suara Alam, Suara Jiwa
Instrumen utama dalam mamaos adalah kacapi indung, ditemani kacapi rincik, suling, dan kadang rebab. Tapi kacapi indung bukan sekadar alat musik. Ia ibarat ibu dalam semesta suara, menetralisasi, menuntun, dan mengayomi. Dalam getarannya yang tenang, ada sinyal-sinyal spiritual yang mengantar kita pulang ke ruang batin terdalam.
Salah satu tembang mamaos berjudul Sunda Mekar memuat lirik:
Cacandran para luluhur
Ciri bumi dayeuh panca tengah
Pasundan tanahna subur
Gemah ripah ma’mur loh jinawi
Gunung-gunungna curcor caina
Cukul sugri pangebonan
Nagri nanjung panjang punjung
urah sandang murah pangan
Lirik ini bukan hanya pujian atas alam dan kekayaan tanah Sunda. Lebih jauh, ia adalah pangeling-eling, pengingat agar manusia hidup selaras dengan alam, tidak serakah, dan mampu mensyukuri berkah karuhun.
Mamaos: Sastra yang Tidak Ditulis
Salah satu keunikan mamaos adalah kekuatan sastranya. Tanpa perlu dicetak atau dibukukan, nilai-nilai hidup disebarkan lewat lirik yang dinyanyikan, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Mamaos tidak hanya menyampaikan cerita atau petuah, tapi juga nuansa batin, rasa pasrah, eling, dan harapan. Tembang seperti Pangampungan, Eulis Acih, atau Renggong Gendang tidak hanya indah secara musikal, tapi juga penuh nilai filosofis seperti ketulusan, kerendahan hati, dan hormat pada ibu dan tanah air.
Merawat yang Lembut, Menjaga yang Nyaris Hilang
Kini, mamaos mulai asing di telinga generasi muda. Padahal, ia bukan hanya warisan bunyi, tapi warisan rasa. Jika tidak dijaga, maka yang hilang bukan sekadar tembang, melainkan kesadaran kolektif akan jati diri budaya kita sendiri.
Mamaos perlu dipelajari kembali, didengarkan ulang, dan disebarkan dengan cara yang sesuai zaman, melalui media sosial, sanggar budaya, pendidikan seni di sekolah, atau sekadar dibacakan di rumah-rumah.
Karena kadang, yang paling berharga justru yang terdengar paling pelan.***