INFO BANDUNG BARAT— Langit pada hari Rabu, 5 November 2025 malam ini akan tampak sedikit berbeda. Bulan purnama yang muncul bukan purnama biasa, melainkan Supermoon Beaver. Yakni fenomena alam ketika Bulan berada di titik terdekat orbitnya dengan Bumi atau disebut perigee dengan ukuran Semi-Diameter Bulan sebesar 16′ 43,87″.
Penjelasan BMKG
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fase purnama akan mencapai puncaknya pada pukul 20.19 WIB, dengan jarak antara Bumi dengan Bulan mencapai 356.980 kilometer sedikit lebih dekat dari rata-rata normalnya, yakni 384.000 kilometer.
Menariknya, Supermoon kali ini menjadi yang paling dekat dengan Bumi sepanjang 2025, sekaligus yang terdekat sejak 19 Februari 2019. Data astronomi mencatat, Bulan akan mencapai jarak 356.833 kilometer dari Bumi pada Kamis, 6 November 2025, pukul 05.28 WIB.

Ilmuwan memperkirakan, Bulan akan tampak 14% lebih besar dan 30% lebih terang dibanding purnama biasa. Namun, secara kasat mata, perbedaannya relatif tipis kecuali jika dibandingkan langsung dengan purnama lain.
“Supermoon memang tampak besar, tapi efek visual yang kita lihat banyak dipengaruhi moon illusion, yaitu ilusi optik saat Bulan berada di dekat cakrawala,” jelas ahli astronomi dari Royal Astronomical Society, dikutip dari Sky at Night Magazine.
Mitos
Fenomena ini juga kerap diselimuti berbagai mitos. Misalnya, anggapan bahwa supermoon bisa menyebabkan gempa bumi atau tsunami. Faktanya, peningkatan gaya gravitasi memang sedikit memengaruhi pasang surut air laut, namun tidak cukup kuat untuk memicu bencana geologis.
Selain itu, klaim bahwa supermoon tampak dua kali lebih besar dari biasanya juga tidak akurat.
“Perubahan ukuran sekitar 14 persen sulit dibedakan dengan mata telanjang,” tulis Forbes dalam laporannya.
Meski bukan peristiwa langka karena supermoon bisa terjadi 3 hingga 4 kali dalam setahun fenomena ini tetap menjadi momen istimewa bagi para pengamat langit dan fotografer.
“Supermoon tidak berbahaya maupun mistis. Justru ini saat terbaik untuk mengenalkan literasi sains dan astronomi kepada publik,” ujar salah satu astronom Sky at Night Magazine.***