38°C
10/05/2026
Sejarah

Sungai Cimeta, Jejak Citarum Purba yang Tertimbun Letusan Gunung Sunda

  • November 18, 2025
  • 3 min read
Sungai Cimeta, Jejak Citarum Purba yang Tertimbun Letusan Gunung Sunda

INFO BANDUNG BARAT — Sungai Cimeta di Kabupaten Bandung Barat bukan hanya aliran air biasa, tetapi jejak purba yang menyimpan sejarah besar letusan dan perubahan lanskap di masa lalu. Sejumlah penelitian geologi menunjukkan bahwa sungai ini merupakan bagian dari aliran Sungai Citarum purba, yang pernah mengalir megah melintasi Cekungan Bandung sebelum berubah drastis akibat letusan raksasa Gunung Sunda sekitar 105.000 tahun lalu.

Dalam tulisannya di Pikiran Rakyat (4 November 2006), T. Bachtiar dari Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB) menjelaskan bahwa letusan Gunung Sunda melontarkan material vulkanik seluas 66 km², menutupi kawasan sekitar 2.000 km² dengan rata-rata ketebalan 40 meter. Timbunan material yang sangat masif ini membendung aliran Sungai Citarum purba, memutus jalurnya, lalu melahirkan sistem sungai baru, salah satunya yang kini kita kenal sebagai Sungai Cimeta.

Sebelum bencana geologi itu terjadi, aliran Sungai Cimeta merupakan bagian dari aliran utama Citarum purba. Setelah tertimbun dan terpisah, sungai ini perlahan berubah menjadi anak sungai dari Citarum modern. Menariknya, kedua aliran yang dulunya satu itu kini bertemu kembali di Leuwijurig, Rajamandala, sebuah titik penting yang menandai hubungan historis antara sungai lama dan sungai yang masih mengalir saat ini.

Meski jalurnya terputus oleh endapan vulkanik, Sungai Cimeta tetap hidup. Alirannya terus mendapatkan suplai air dari kawasan Gunung Burangrang, sehingga sungai ini tidak pernah benar-benar mati. Kehadiran suplai air baru ini membuat Cimeta tetap mengalir, meski tidak lagi sebesar aliran purba yang membentuk lembahnya.

Peneliti KRCB lainnya, Budi Brahmantyo, dalam tulisan di Pikiran Rakyat (3 Februari 2006) menyebut lembah Cimeta sebagai “lembah tidak sepadan” atau underfit valley. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika lembah sungai tampak jauh lebih lebar dibandingkan dengan air yang mengalir di dalamnya. Penyebabnya adalah karena lembah tersebut dibentuk oleh sungai purba yang jauh lebih besar, yakni Citarum purba, sementara aliran yang tersisa sekarang hanya sungai kecil seperti Cimeta. Fenomena ini menjadi bukti geomorfologi yang penting tentang bagaimana letusan Gunung Sunda mengubah pola aliran air dan bentuk muka bumi Bandung Raya.

Berbagai kajian geologi, mulai dari riset M.A.C. Dam (1994) hingga penelitian Lavigne dan koleganya (2014), juga memperkuat gambaran bahwa letusan Gunung Sunda merupakan salah satu peristiwa paling destruktif dalam sejarah geologi Jawa Barat. Endapan materialnya tidak hanya mengubah arah sungai, tetapi juga memainkan peran besar dalam pembentukan Cekungan Bandung yang kita kenal hari ini.

Sungai Cimeta, dengan alirannya yang tenang dan lembahnya yang luas, adalah salah satu saksi bisu dari masa ketika gunung melontarkan amarahnya dan mengubah wajah tanah Pasundan. Ia menyimpan ingatan ribuan abad lalu, ketika tanah, air, dan api saling bertemu untuk membentuk lanskap yang kini menjadi rumah bagi jutaan orang.***

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *