INFO BANDUNG BARAT —“Ini area privasiku, jangan kamu lihat, jangan kamu sentuh, jangan kamu pegang. Kalau kamu melihatnya, menyentuhnya, memegangnya, aku bilang ibuku, aku bilang ayahku, aku bilang guruku.”
Potongan lirik sederhana ini sebenarnya diciptakan sebagai lagu edukasi privasi tubuh untuk anak-anak. Lagu yang bertujuan mulia, yaitu untuk membantu anak memahami batasan tubuh, berani berkata “tidak”, dan tahu kapan harus melapor kepada orang dewasa yang dipercaya. Namun belakangan, yang terjadi justru memprihatinkan, lagu ini viral bukan karena fungsinya sebagai edukasi, melainkan dijadikan bahan candaan oleh orang dewasa.
Padahal, pesan yang dibawa lagu ini sangat penting. Di tengah maraknya kasus pelecehan seksual pada anak, edukasi mengenai body autonomy dan area privasi menjadi kebutuhan mendesak. Anak membutuhkan alat bantu yang sederhana, mudah diingat, dan mudah dipahami, dan lagu inilah salah satu medianya. Melalui liriknya, anak diajak memahami bahwa tubuh mereka berharga dan harus dihormati siapa pun.
Ironisnya, alih-alih mendukung, sebagian orang dewasa justru memelintir makna lagu ini menjadi candaan bernuansa seksis. Konten yang seharusnya sakral dan ditujukan untuk edukasi anak malah berubah menjadi hiburan dewasa, sehingga pesan aslinya kabur. Ketika candaan seperti ini tersebar luas, bukan hanya makna lagu yang rusak, tetapi juga berpotensi menghambat penyebaran edukasi penting bagi anak-anak.
Lagu ini lahir dari realitas pahit bahwa masih banyak anak tidak memahami batasan tubuh, tidak mampu mengungkapkan ketidaknyamanan, dan rentan menjadi korban. Karena itu peran orang dewasa sangat penting. Kita seharusnya menjadi pihak yang membantu memperluas edukasi ini, bukan malah mengaburkannya dengan candaan yang tidak tepat.
Konten edukasi anak adalah konten yang harus dihormati. Mengubahnya menjadi lelucon bukan hanya menunjukkan kurangnya empati, tetapi juga hilangnya tanggung jawab kita sebagai orang dewasa dalam melindungi anak. Sudah sepatutnya kita mendukung hadirnya lagu-lagu edukatif seperti ini agar anak tumbuh dengan rasa aman, memahami hak atas tubuhnya, dan mampu menjaga diri dengan benar.***
Penulis: Anggie Baeduri Aulia R
Editor: Ayu Diah Nur’azizah