38°C
07/07/2026
Sejarah

Gunung Sukatinggi, Saksi Bisu Kaldera Purba Bandung Utara

  • Juli 7, 2026
  • 4 min read
Gunung Sukatinggi, Saksi Bisu Kaldera Purba Bandung Utara

INFO BANDUNG BARAT — Di balik populernya Gunung Tangkuban Parahu, Bandung Utara menyimpan bentang alam lain yang tak kalah menarik untuk ditelusuri. Salah satunya adalah Gunung Sukatinggi, sebuah tinggian di kawasan Jayagiri, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Meski namanya belum banyak dikenal, gunung ini memiliki nilai sejarah geologi yang sangat penting karena menjadi bagian dari sisa Kaldera Gunung Jayagiri, gunung api purba yang telah ada jauh sebelum Tangkuban Parahu terbentuk.

Keberadaan Gunung Sukatinggi bukan sekadar bukit di kawasan pegunungan. Dari sudut pandang geologi, gunung ini merupakan salah satu saksi bisu evolusi bentang alam Bandung Utara yang berlangsung selama ratusan ribu tahun.

Jejak Gunung Purba Jayagiri

Dalam tulisannya yang dimuat AyoBandung, peneliti geologi dan sejarah Cekungan Bandung, T. Bachtiar, menjelaskan bahwa Gunung Sukatinggi merupakan salah satu tinggian yang berada di bibir Kaldera Gunung Jayagiri. Bersama beberapa punggungan lain seperti Pasir Nyampai dan Pasir Nagrak, Gunung Sukatinggi menjadi bagian dari sisa dinding kaldera yang masih dapat dikenali hingga sekarang.

Kaldera sendiri merupakan cekungan besar yang terbentuk akibat runtuhnya puncak gunung api setelah mengalami letusan dahsyat. Menurut Bachtiar, meskipun bentuk Kaldera Gunung Jayagiri kini tidak lagi terlihat jelas, keberadaan tinggian-tinggian tersebut menjadi petunjuk penting untuk memahami bentuk gunung purba yang pernah mendominasi kawasan Bandung Utara.

Letusan Dahsyat yang Membentuk Kaldera

Sejarah Gunung Sukatinggi tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang Gunung Jayagiri. Berdasarkan penelitian geomorfologi yang dilakukan M. Dam, P. Suparan, J. Nossin, dan R. Voskuil dalam jurnal A Chronology for Geomorphological Developments in the Greater Bandung Area (1996), kawasan Bandung Utara mengalami serangkaian aktivitas vulkanik besar sejak Kala Kuarter.

Gunung Jayagiri diperkirakan mengalami letusan eksplosif sekitar 560.000 hingga 500.000 tahun lalu. Letusan tersebut mengeluarkan material vulkanik dalam jumlah sangat besar hingga menyebabkan ruang magma di bawah gunung kosong. Akibatnya, puncak gunung kehilangan penyangga dan runtuh membentuk kaldera dengan diameter sekitar enam kilometer.

Peristiwa inilah yang kemudian menyisakan bagian-bagian dinding kaldera, termasuk Gunung Sukatinggi yang masih bertahan hingga sekarang.

Sebelum Ada Gunung Tangkuban Parahu

Banyak orang mengira sejarah vulkanik Bandung Utara dimulai dari Gunung Tangkuban Parahu. Padahal, menurut kajian vulkanologi yang dilakukan M. N. Kartadinata mengenai evolusi Kompleks Gunung Sunda–Tangkuban Parahu, Gunung Tangkuban Parahu merupakan gunung api generasi terakhir di kawasan tersebut.

Setelah Gunung Jayagiri runtuh, aktivitas magma kembali membentuk Gunung Sunda di dalam kaldera purba. Gunung Sunda kemudian mengalami beberapa kali letusan besar yang menghasilkan aliran piroklastik dan endapan vulkanik dalam jumlah sangat besar.

Barulah setelah aktivitas Gunung Sunda menurun, sekitar 90.000 tahun lalu, Gunung Tangkuban Parahu mulai tumbuh di bagian utara kompleks vulkanik tersebut.

Artinya, Gunung Sukatinggi telah menjadi bagian dari sejarah kawasan ini jauh sebelum Tangkuban Parahu terbentuk.

Kaldera yang Perlahan Menghilang

Jika saat ini bentuk Kaldera Gunung Jayagiri sulit dikenali, penyebabnya bukan karena hilang begitu saja. Menurut penelitian Rudy Dalimin (1988) mengenai endapan aliran piroklastik di sekitar Tangkuban Parahu, aktivitas Gunung Sunda menghasilkan endapan ignimbrit dalam volume yang sangat besar.

Material vulkanik berupa abu, batu apung, hingga aliran piroklastik tersebut secara perlahan mengisi cekungan Kaldera Gunung Jayagiri. Dalam penelitiannya, Dalimin memperkirakan volume ignimbrit mencapai sekitar 66 kilometer kubik dan menyelimuti area seluas kurang lebih 200 kilometer persegi.

Proses ini berlangsung selama puluhan ribu tahun sehingga bentuk kaldera yang dahulu begitu jelas kini hampir seluruhnya tertutup oleh endapan vulkanik yang lebih muda.

Meski demikian, Gunung Sukatinggi tetap menjadi salah satu penanda alami yang memperlihatkan batas kaldera purba tersebut.

Penting bagi Penelitian Geologi

Menurut Dam dan rekan-rekannya, bentang alam Bandung merupakan hasil interaksi yang sangat kompleks antara aktivitas gunung api, pergerakan sesar, sedimentasi, serta proses erosi selama ratusan ribu tahun.

Dalam konteks itu, Gunung Sukatinggi memiliki nilai ilmiah yang tinggi karena membantu para geolog merekonstruksi bentuk Kaldera Gunung Jayagiri dan memahami evolusi Kompleks Gunung Sunda hingga lahirnya Gunung Tangkuban Parahu.

Keberadaan gunung ini juga menjadi bukti bahwa bentang alam yang terlihat saat ini merupakan hasil proses geologi yang berlangsung sangat lama dan terus mengalami perubahan.

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *