Warugan Lemah, Kearifan Leluhur Sunda dalam Membaca Alam dan Mitigasi Bencana yang Tetap Relevan
INFO BANDUNG BARAT –Di balik kekayaan budaya Sunda, tersimpan berbagai naskah kuno yang tidak hanya memuat nilai-nilai kehidupan, tetapi juga pengetahuan tentang hubungan manusia dengan alam. Salah satunya adalah Warugan Lemah, sebuah pedoman yang mengajarkan cara mengenali karakter tanah sebelum mendirikan rumah, kampung, maupun permukiman.
Di tengah meningkatnya risiko bencana longsor akibat perubahan tata guna lahan dan tekanan pembangunan, filosofi yang terkandung dalam Warugan Lemah kembali mendapat perhatian. Pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun itu menunjukkan bahwa masyarakat Sunda telah lama memahami pentingnya membaca bentang alam sebelum mengubahnya.
Tulisan berjudul Ketika Leluhur Bicara tentang Longsor: Hikmah Warugan Lemah untuk Bogor Modern yang diterbitkan Halimun Salaka mengangkat kembali relevansi naskah tersebut dalam konteks kebencanaan masa kini. Menurut tulisan itu, petuah dalam Warugan Lemah tidak semata-mata berkaitan dengan kepercayaan tradisional, melainkan juga merefleksikan hasil pengamatan leluhur Sunda terhadap kondisi geografis dan lingkungan.
Mengenal Warugan Lemah
Secara etimologis, kata warugan berarti bentuk atau rupa, sedangkan lemah dalam bahasa Sunda berarti tanah. Dengan demikian, Warugan Lemah dapat dimaknai sebagai pedoman untuk mengenali bentuk, karakter, dan kondisi tanah sebelum dimanfaatkan sebagai tempat tinggal.
Budayawan Sunda Edi S. Ekadjati dalam bukunya Kebudayaan Sunda: Suatu Pendekatan Sejarah menjelaskan bahwa masyarakat Sunda memiliki beragam naskah yang memuat pengetahuan praktis mengenai kehidupan, termasuk cara berinteraksi dengan lingkungan. Pengetahuan tersebut diwariskan sebagai bagian dari kearifan lokal yang berkembang berdasarkan pengalaman hidup masyarakat.
Dalam Warugan Lemah, berbagai bentuk bentang alam dijelaskan beserta makna yang menyertainya. Beberapa jenis lahan dipandang baik untuk dihuni, sementara sebagian lainnya dianjurkan untuk dihindari karena berpotensi menimbulkan persoalan di kemudian hari.
Filosofi yang Mengajarkan Keselarasan
Filosofi utama Warugan Lemah adalah hidup selaras dengan alam. Alam tidak dipandang sebagai objek yang harus ditaklukkan, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang perlu dipahami.
Guru Besar Universitas Padjadjaran Prof. Johan Iskandar dalam buku Ekologi Manusia dan Kearifan Lokal Sunda menjelaskan bahwa masyarakat Sunda secara turun-temurun mengembangkan pengetahuan ekologis berdasarkan pengamatan terhadap bentang alam, vegetasi, air, serta perubahan lingkungan. Pengetahuan tersebut menjadi dasar dalam menentukan lokasi permukiman maupun pemanfaatan lahan.
Karena itu, gunung, lereng, lembah, sungai, hingga arah aliran air tidak hanya dipandang sebagai unsur geografis, tetapi juga sebagai penanda kondisi suatu wilayah. Melalui pengamatan tersebut, masyarakat berupaya meminimalkan risiko yang dapat mengancam keselamatan.
Selaras dengan Ilmu Kebencanaan Modern
Nilai-nilai dalam Warugan Lemah memiliki kesesuaian dengan prinsip mitigasi bencana yang berkembang saat ini.
Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam Pedoman Mitigasi Bencana Tanah Longsor, potensi longsor dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kemiringan lereng, jenis tanah, struktur batuan, curah hujan, vegetasi, serta perubahan tata guna lahan. Faktor-faktor tersebut menentukan tingkat kerawanan suatu kawasan terhadap longsor.
Sementara itu, Johan Iskandar dalam Etnoekologi Sunda menyebutkan bahwa pengetahuan lokal tidak lahir secara kebetulan, melainkan merupakan hasil adaptasi masyarakat terhadap lingkungan selama ratusan tahun. Karena itu, kearifan lokal dapat menjadi pelengkap bagi kajian ilmiah dalam memahami karakter suatu wilayah.
Ketika Alam Tidak Lagi Didengar
Pesatnya pembangunan sering kali mengubah bentang alam tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan. Alih fungsi hutan, pemotongan lereng, pembangunan di kawasan rawan longsor, hingga berkurangnya daerah resapan air menjadi faktor yang meningkatkan risiko bencana.
Dalam artikel Halimun Salaka disebutkan bahwa pesan utama Warugan Lemah adalah pentingnya memahami karakter alam sebelum mengambil keputusan. Filosofi tersebut mengingatkan bahwa pembangunan yang mengabaikan kondisi lingkungan berpotensi menimbulkan dampak bagi kehidupan manusia.
Pandangan ini sejalan dengan pendekatan mitigasi bencana modern yang menempatkan aspek tata ruang dan karakter geografis sebagai bagian penting dalam mengurangi risiko bencana.
Warisan yang Tetap Relevan
Warugan Lemah menunjukkan bahwa masyarakat Sunda telah memiliki pengetahuan ekologis jauh sebelum berkembangnya teknologi pemetaan maupun ilmu geologi modern.
Menurut Edi S. Ekadjati, naskah-naskah Sunda tidak hanya memiliki nilai sastra dan budaya, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan mengenai cara masyarakat masa lalu memahami lingkungan hidupnya. Oleh karena itu, keberadaan Warugan Lemah tidak hanya penting sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai bagian dari kekayaan intelektual masyarakat Sunda.
Di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya ancaman bencana hidrometeorologi, nilai-nilai dalam Warugan Lemah masih relevan untuk dipelajari. Memadukan kearifan lokal dengan ilmu pengetahuan modern dapat menjadi salah satu langkah dalam membangun wilayah yang lebih aman sekaligus menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.