Menghidupkan Bumi, Merawat Jiwa, Menelusuri Jejak Sejarah Panjang Pesantren Bunisari di Desa Gadobangkong
INFO BANDUNG BARAT — Kabupaten Bandung Barat menyimpan banyak mutiara sejarah Islam yang menjadi fondasi peradaban masyarakat lokal. Salah satu lembaga pendidikan Islam tertua dan paling bersejarah di wilayah ini adalah Pesantren Bunisari. Terletak di Desa Gadobangkong, Kecamatan Ngamprah, pesantren ini bukan sekadar tempat mengkaji ilmu agama, melainkan saksi bisu transformasi alam serta benteng pertahanan pada masa perjuangan kemerdekaan. Selama lebih dari satu setengah abad, keberadaannya mencerminkan ketahanan, adaptasi, dan pengabdian nyata para ulama serta santri bagi masyarakat Tatar Pasundan.
Jejak Awal Mula Berdirinya Pesantren di Tahun 1870
Kisah bermula pada tahun 1870, ketika seorang ulama karismatik bernama Al-Mukarom KH Muhammad Kurdi memprakirakan pendirian Pesantren Bunisari di Desa Gadobangkong. Pada masa itu, kawasan tersebut masih berupa tegalan luas dan daratan terbuka yang belum banyak terjamah pembangunan manusia.
Dengan tekad yang kuat, KH Muhammad Kurdi membangun kompleks pesantren beserta masjid sebagai pusat ibadah dan musyawarah. Di sinilah denyut nadi pendidikan Islam mulai berdetak. Pada awalnya, para santri yang datang menimba ilmu berasal dari kampung-kampung di sekitar Bunisari saja. Namun, seiring berjalannya waktu, nama pesantren ini semakin harum dan menarik minat para pencari ilmu dari berbagai penjuru wilayah di Jawa Barat.
Mengubah Tegalan Sunyi Menjadi Perkampungan yang Subur
Sejarah Pesantren Bunisari menyimpan keunikan karena tidak hanya mencatat urusan pendidikan, tetapi juga babak perubahan lingkungan yang luar biasa. Berdasarkan cerita turun-temurun di lingkungan pesantren, KH Muhammad Kurdi memiliki peran besar dalam membangun infrastruktur air berupa saluran sepanjang kurang lebih dua kilometer.
Saluran irigasi ini membentang dari kawasan rel kereta api Padalarang–Cimahi hingga berakhir di daerah Palendang. Kehadiran air tersebut membawa perubahan radikal bagi alam sekitar yang tadinya berupa tegalan kering. Perlahan tapi pasti, kawasan itu berubah menjadi areal persawahan yang subur, kebun yang hijau, hingga akhirnya tumbuh menjadi wilayah permukiman padat penduduk yang dinamis. Catatan mengenai pembangunan saluran air ini merupakan bagian dari sejarah lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi di Bunisari.
Rumah Kedua bagi Santri dari Berbagai Daerah
Seiring berjalannya waktu, Pesantren Bunisari berkembang pesat dan jangkauannya semakin luas. Jika dulu hanya diisi oleh warga lokal Gadobangkong, suasana pesantren kemudian menjadi lebih berwarna dengan hadirnya santri dari luar daerah.
Berdasarkan catatan sejarahnya, para santri berbondong-bondong datang dari berbagai wilayah strategis di Jawa Barat, seperti Bogor, Banten, Sukabumi, Cianjur, Cililin, Cigondewah, hingga Tasikmalaya. Fenomena ini menunjukkan bahwa Bunisari telah menjadi magnet keilmuan yang kuat. Hubungan erat antara kiai, santri, dan jaringan pesantren antardaerah di Jawa Barat terjalin erat dan melahirkan solidaritas keislaman yang kokoh di tengah masyarakat.
Estafet Kepemimpinan Lintas Generasi Penjaga Tradisi
Menjaga api semangat sebuah pesantren tentu bukan perkara mudah. Di Bunisari, estafet kepemimpinan berjalan melalui dinamika yang sarat makna. Ketika KH Muhammad Kurdi wafat, putra beliau yaitu KH Idjazi masih anak-anak. Untuk sementara waktu, tampuk pimpinan diserahkan kepada menantu beliau, KH Djalil, hingga KH Idjazi dewasa.
Di bawah kepemimpinan KH Idjazi kemudian, Pesantren Bunisari mengalami masa keemasan dan perkembangan yang sangat pesat. Rantai kepemimpinan terus berlanjut ketika estafet beralih kepada KH Abdul Mu’ti dan KH Abdul Mughni, dengan dibantu Ustaz Abdul Wajid, saat putra-putra KH Idjazi masih belia. Setelah dewasa, kepemimpinan kembali dipegang oleh keluarga pendiri melalui KH Dacep Husaini dan KH Tatang Alawi Idjazi hingga hari ini.
Nyali Santri Bunisari di Medan Laga Revolusi Fisik
Salah satu babak paling heroik dalam sejarah Bunisari adalah keterlibatannya dalam pusaran revolusi fisik pasca-Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Di bawah kepemimpinan KH Idjazi, kompleks pesantren bertransformasi menjadi salah satu basis perjuangan yang disegani.
Pesantren ini tercatat menjadi tempat berlindung sekaligus markas bagi laskar-laskar rakyat, mulai dari Hizbullah, pasukan Banteng, hingga Tentara Republik Indonesia (TRI). Perjuangan ini juga lekat dengan tokoh-tokoh besar seperti KH Usman Damiri. Dari balik dinding pesantren, para santri dan pejuang menyusun strategi untuk menghadapi kekuatan kolonial Belanda dan sisa tentara Jepang di Cimahi. Keterangan mengenai masa revolusi ini hidup subur dalam ingatan kolektif warga pesantren sebagai wujud cinta tanah air para santri.