38°C
21/03/2026
Teknologi

AI Masuk TV: Inovasi atau Ancaman bagi Kreator?

  • Januari 21, 2026
  • 2 min read
AI Masuk TV: Inovasi atau Ancaman bagi Kreator?

INFO BANDUNG BARAT — Pada awal tahun 2026, industri penyiaran Indonesia dikejutkan oleh langkah Trans7 yang merilis program bertajuk Legenda Bertuah. Program ini menjadi pionir di Indonesia karena memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) secara menyeluruh, mulai dari pembuatan naskah, visual animasi, hingga pengisian suara (voice over).

Langkah tersebut memicu diskursus hangat. Di satu sisi, program ini dipuji sebagai bentuk revolusi digital, tetapi di sisi lain menimbulkan kekhawatiran etis bagi ekosistem kreatif.

Bagi pendukungnya, kehadiran program ini dianggap sebagai “napas segar”. Visualisasi legenda Nusantara selama ini kerap sulit diwujudkan secara optimal jika menggunakan metode animasi konvensional yang membutuhkan biaya besar dan waktu panjang.

Dengan bantuan AI, Trans7 mampu menghidupkan kembali kisah-kisah lama dengan estetika visual modern dan detail. Proses produksi pun menjadi jauh lebih efisien. Jika sebelumnya dibutuhkan ratusan animator untuk memproduksi satu episode, kini tim yang lebih kecil dengan dukungan komputasi canggih dapat menghasilkan karya serupa dalam waktu relatif singkat.

Berdasarkan penelitian tentang peran AI terhadap kinerja industri kreatif di Indonesia, teknologi ini dinilai mampu memperkaya proses kreatif sekaligus meningkatkan efisiensi produksi. Dalam konteks pertelevisian, AI generatif membantu memangkas biaya operasional yang sebelumnya membutuhkan sumber daya besar, sehingga memungkinkan produksi konten yang lebih cepat dan beragam.

Namun, di balik kecanggihan tersebut, kritik juga bermunculan. Kekhawatiran akan tergesernya peran manusia oleh mesin bukan lagi sekadar wacana fiksi ilmiah, melainkan realitas yang mulai terasa. Kreator yang tidak mampu beradaptasi berisiko tertinggal.

Jika peran animator, penulis, dan pengisi suara sepenuhnya digantikan oleh algoritma, Indonesia berpotensi kehilangan talenta artistik dengan keunikan rasa dan perspektif manusiawi. Sejumlah penonton menilai visual AI tampak sempurna secara teknis, tetapi kerap terasa kaku serta kehilangan kedalaman emosi dan nilai budaya yang hanya dapat diolah oleh manusia.

Perdebatan lain muncul terkait orisinalitas. Penggunaan AI memunculkan persoalan etika dan hukum mengenai hak cipta. Sebagaimana disorot dalam Jurnal Wastucitra (2025), standar desain otomatis berisiko mengikis keunikan karya otentik karena AI bekerja berdasarkan data pelatihan dari karya-karya yang telah ada.

Fenomena Legenda Bertuah menjadi pengingat bahwa teknologi sejatinya adalah alat, bukan pengganti. Tantangan bagi industri pertelevisian ke depan adalah bagaimana memadukan kecanggihan AI dengan kreativitas manusia, bukan justru mengeliminasinya.***


Penulis: Anggie Baeduri Aulia R

Editor: Ayu Diah Nur’azizah

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *