Akulturasi Budaya: Sejarah Beduk dalam Tradisi Islam di Nusantara
INFO BANDUNG BARAT — Di Indonesia, suara beduk telah lama menjadi penanda khas mendekati waktu salat sebelum azan dikumandangkan. Meski kini identik dengan masjid, alat musik tabuh ini memiliki sejarah panjang yang lahir dari pertemuan antara tradisi leluhur dan dakwah Islam di Nusantara.
Sebelum Islam masuk, beduk telah digunakan pada masa kerajaan Hindu-Buddha untuk keperluan ritual keagamaan dan pengiring prosesi di candi-candi. Dalam kitab Kidung Malat yang ditulis pada masa Kerajaan Majapahit dan Sriwijaya, beduk disebut digunakan sebagai pengiring upacara keagamaan dan penanda waktu ibadah, sekaligus berfungsi sebagai alat komunikasi, seperti mengumpulkan warga untuk persiapan perang.
Dalam buku Identifikasi Kesenian Khas Banten, kehadiran beduk juga dikaitkan dengan kedatangan Laksamana Cheng Ho dari Cina ke Jawa pada abad ke-15. Legenda setempat menyebutkan bahwa ketika Cheng Ho singgah di Semarang dan memberikan hadiah berupa beduk kepada sang raja, hal tersebut turut menginspirasi pemanfaatan alat musik tabuh dalam kegiatan sosial-keagamaan.
Catatan sejarah lainnya turut menguatkan peran beduk dalam kehidupan Islam Nusantara. Cornelis de Houtman, penjelajah Belanda pada abad ke-16, mencatat bahwa beduk telah lazim digunakan di Banten sebagai alat penanda waktu.
Penggunaan beduk sebagai bagian dari syiar Islam diprakarsai oleh para Walisongo sebagai metode dakwah. Beduk dijadikan penanda masuknya waktu salat lima waktu dengan memanfaatkan alat musik tabuh yang telah akrab di telinga masyarakat lokal, sehingga ajaran Islam dapat diterima dengan lebih mudah.
Sebelum abad ke-20, masjid-masjid kuno umumnya belum dilengkapi menara atau pengeras suara untuk mengumandangkan azan secara luas. Oleh karena itu, beduk dimanfaatkan sebagai isyarat awal bagi masyarakat agar bersiap dan bergegas menuju masjid.
Penggunaan beduk kemudian memperoleh pengukuhan formal melalui Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-11 di Banjarmasin pada tahun 1936. Dalam muktamar tersebut, beduk dan kentongan ditegaskan sebagai bagian dari syiar Islam tradisional di masjid dan musala, sekaligus menegaskan legitimasi tradisi lokal dalam praktik keislaman di Indonesia.
Dengan demikian, beduk merupakan warisan budaya Nusantara yang mencerminkan proses akulturasi panjang antara tradisi lokal dan Islam. Dari alat komunikasi prasejarah hingga media syiar keagamaan, beduk menunjukkan bagaimana Islam di Indonesia berkembang secara kontekstual tanpa memutus akar budaya. Meski fungsi praktisnya telah banyak digantikan teknologi modern, beduk tetap hidup sebagai simbol identitas, tradisi, dan kebersamaan umat Islam Nusantara.***
Penulis: Anggie Baeduri Aulia R
Editor: Ayu Diah Nur’azizah