38°C
22/03/2026
Budaya

Angklung, Tradisi Lokal yang Mendunia

  • Desember 25, 2025
  • 3 min read
Angklung, Tradisi Lokal yang Mendunia

INFO BANDUNG BARAT — Angklung merupakan alat musik tradisional berbahan bambu yang tumbuh dan berkembang dalam kebudayaan masyarakat Sunda. Keunikan bunyi dan cara memainkannya menjadikan angklung tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai medium ekspresi budaya yang sarat makna. Pengakuan dunia terhadap nilai tersebut semakin menguat ketika pada tahun 2010 angklung ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO.

Dalam Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan, seni menjadi salah satu dari sepuluh Objek Pemajuan Kebudayaan yang pelestariannya harus diselaraskan dengan asas kelokalan dan keberlanjutan. Angklung merupakan contoh konkret bagaimana sebuah kesenian lokal dapat bertahan di tengah perubahan zaman tanpa kehilangan identitas dasarnya. Keberadaan angklung tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang masyarakat Sunda dan relasinya dengan alam.

Pada masa awal perkembangannya, sekitar abad ke-12 hingga abad ke-16, angklung memiliki peran penting dalam kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Sunda. Angklung kerap dipertunjukkan dalam kegiatan pertanian, terutama saat menanam dan memanen padi. Dalam kepercayaan masyarakat Sunda lama, bunyi angklung berkaitan erat dengan mitologi Nyi Pohaci Sanghyang Sri, Dewi Padi yang melambangkan kehidupan dan kesuburan. Tabuhan angklung dipercaya sebagai bentuk permohonan sekaligus penghormatan agar tanaman padi tumbuh subur dan menghasilkan panen melimpah.

Seiring masuk dan berkembangnya agama Islam sebagai agama mayoritas masyarakat Sunda, fungsi angklung sebagai pengiring ritual perlahan mengalami pergeseran. Pertunjukan angklung tidak lagi banyak ditemukan dalam ruang publik yang bersifat ritual. Meski demikian, tradisi ini tidak sepenuhnya hilang. Pada beberapa komunitas adat, seperti masyarakat Kasepuhan Banten Kidul di wilayah pedalaman Taman Nasional Gunung Halimun Salak, angklung masih difungsikan sebagai kesenian religius yang mengiringi berbagai ritual pertanian hingga kini.

Perkembangan angklung semakin signifikan ketika Daeng Soetigna pada tahun 1938 menciptakan angklung dengan sistem nada diatonis kromatik. Inovasi ini melahirkan angklung modern yang memungkinkan instrumen tersebut memainkan berbagai jenis lagu, termasuk lagu-lagu modern yang sebelumnya hanya dapat dibawakan oleh alat musik Barat. Sejak saat itu, angklung tidak lagi terbatas pada konteks kesenian tradisional, tetapi mulai tampil dalam berbagai bentuk pertunjukan yang lebih luas.

Di berbagai wilayah Tatar Sunda, berkembang beragam jenis angklung dengan karakteristik masing-masing, seperti angklung Dogdog Lojor, angklung Buncis, angklung Baduy, angklung Gubrag, dan angklung Udjo. Perbedaan tersebut umumnya terletak pada sistem nada, bentuk rangka, serta fungsi pertunjukannya. Namun demikian, seluruh jenis angklung tersebut tetap memiliki kesamaan sebagai instrumen bambu yang mencerminkan kreativitas dan kearifan lokal masyarakat Sunda.

Secara etimologis, istilah angklung berasal dari bahasa Sunda angkleung-angkleungan yang menggambarkan gerakan pemain saat menggoyangkan alat musik hingga menghasilkan bunyi khas “klung”. Angklung terdiri atas dua atau lebih tabung bambu dengan ukuran berbeda yang berfungsi sebagai resonator dan dibunyikan dengan cara digoyangkan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, angklung didefinisikan sebagai alat musik tradisional berbahan bambu yang berasal dari Sunda. Namun, kajian etnomusikologi menunjukkan bahwa instrumen sejenis angklung juga ditemukan di berbagai wilayah Indonesia, sehingga menegaskan angklung sebagai bagian dari kekayaan budaya Nusantara.

Dengan demikian, angklung tidak hanya dipahami sebagai alat musik, tetapi juga sebagai simbol identitas, sejarah, dan nilai budaya yang hidup dalam masyarakat. Perjalanan panjang angklung, dari ritual pertanian hingga panggung musik dunia, mencerminkan dinamika budaya yang terus bergerak dan beradaptasi.***


Penulis: Anggie Baeduri Aulia R

Editor: Ayu Diah

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *