38°C
04/08/2026
Peristiwa

BMKG Ingatkan Potensi Gempa Dahsyat Dua Zona Megathrust di Indonesia

  • Agustus 13, 2024
  • 3 min read
BMKG Ingatkan Potensi Gempa Dahsyat Dua Zona Megathrust di Indonesia

INFO BANDUNG BARAT—Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi adanya kekhawatiran yang sama dengan para ilmuwan Jepang terkait potensi ancaman gempa dahsyat yang bersumber dari zona megathrust. Jika para ahli di Jepang menaruh perhatian penuh pada aktivitas seismik di Palung Nankai, para pakar geologi di Indonesia kini tengah mengamati secara intensif dua wilayah kekosongan seismik (seismic gap) yang sangat krusial, yaitu Megathrust Selat Sunda dengan potensi kekuatan magnitudo 8,7 dan Megathrust Mentawai-Siberut dengan potensi magnitudo 8,9.

Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa pelepasan energi berupa gempa besar di kedua segmen rawan Indonesia tersebut pada dasarnya tinggal menunggu waktu. Hal ini disebabkan oleh kondisi historis di mana kedua wilayah patahan aktif itu sudah ratusan tahun tidak mengalami aktivitas gempa berskala besar, sehingga akumulasi energi di dalam kerak bumi diduga sudah sangat jenuh. Pernyataan tersebut disampaikan secara resmi sebagai bagian dari respons cepat dan mitigasi nasional menyusul terjadinya gempa berkekuatan magnitudo 7,1 yang mengguncang zona Palung Nankai di lepas pantai Pulau Kyushu, Shikoku, dan Kinki, Jepang Selatan.

Karakteristik Geologi Zona Subduksi Aktif dan Analisis rambatan Tsunami

Secara terminologi geologi, zona megathrust merujuk pada jalur subduksi atau penunjaman lempeng tektonik bumi yang membentang sangat panjang namun berada di kedalaman yang relatif dangkal. Karakteristik pergeseran di zona ini bertumpu pada tumbukan antarlempeng utama yang apabila patah secara mendadak akan memicu deformasi batuan skala besar secara vertikal. Fenomena pergerakan vertikal ini memiliki daya dorong yang sangat kuat untuk mengganggu kolom air laut di atasnya, sehingga berpotensi besar memicu gelombang tsunami destruktif yang dapat meluluhlantakkan kawasan pesisir pantai di dekat pusat gempa.

Terkait dengan keterkaitan dampak langsung ke Indonesia, BMKG memastikan bahwa jika terjadi gempa besar di Megathrust Nankai, pergeseran batuan yang terjadi di sana tidak akan memengaruhi kestabilan sistem lempeng tektonik di wilayah nusantara karena jarak geografis keduanya yang terlampau jauh. Dinamika tektonik Palung Nankai murni bersifat lokal hingga regional pada sistem penunjaman Jepang Selatan saja.

Meski demikian, skenario bahaya yang tetap harus diwaspadai oleh Indonesia adalah potensi rambatan gelombang tsunami. Setiap gempa dangkal berkekuatan masif di zona subduksi akan melahirkan patahan dengan mekanisme naik (thrust fault) yang mampu menggerakkan air laut secara ekstrem, di mana energi gelombang tersebut berpotensi menjalar melintasi samudra hingga menyentuh wilayah utara Indonesia.

Kesiapan Infrastruktur InaTEWS dan Target Pengurangan Risiko Bencana

Masyarakat Indonesia diimbau untuk tidak panik secara berlebihan dalam menyikapi potensi ancaman ini. Seluruh dinamika kegempaan dan potensi tsunami di kawasan regional dapat dipantau secara langsung (real-time) serta dianalisis secara cepat berkat keandalan infrastruktur sistem peringatan dini tsunami nasional yang dikenal sebagai Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS). Melalui sistem terintegrasi ini, BMKG berkomitmen untuk menyebarluaskan informasi peringatan dini secara cepat, akurat, dan merata ke seluruh pelosok tanah air, khususnya bagi kawasan pesisir yang berada di perimeter rawan.

Sebagai langkah nyata dalam penguatan manajemen risiko bencana, BMKG terus mematangkan kesiapan sistem pemantauan, pemrosesan data, hingga jaringan diseminasi informasi masal. Selain memperkuat aspek teknologi pertahanan siber, BMKG secara konsisten menggelar program sekolah lapang gempa serta pelatihan evakuasi mandiri berbasis pemodelan tsunami ilmiah. Langkah edukasi ini menyasar jajaran pemerintah daerah, pemangku kepentingan (stakeholder), dan komunitas masyarakat akar rumput dengan harapan mampu menekan sekecil mungkin risiko dampak material sekaligus mewujudkan target nihil korban jiwa (zero victim) saat bencana terjadi.

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *