38°C
10/07/2026
Bhineka Books

Buku Badak Sunda dan Harimau Sunda Mengungkap Kegelisahan Ajip Rosidi terhadap Pudarnya Identitas Budaya

  • Juli 10, 2026
  • 4 min read
Buku Badak Sunda dan Harimau Sunda Mengungkap Kegelisahan Ajip Rosidi terhadap Pudarnya Identitas Budaya

INFO BANDUNG BARAT — Nama sering kali dianggap sebagai perkara sederhana yang luput dari perhatian khalayak luas. Namun, bagi mendiang sastrawan dan budayawan Ajip Rosidi, sebuah nama menyimpan lapisan sejarah, manifestasi identitas, serta cara suatu peradaban dikenali oleh dunia luar. Gagasan mendalam inilah yang menjadi benang merah utama dalam buku berjudul Badak Sunda dan Harimau Sunda Kegagalan Pelajaran Bahasa, sebuah kumpulan esai kritis yang diterbitkan pada tahun 2011.

Melalui persoalan yang tampak sepele, mengapa masyarakat kontemporer lebih akrab dengan istilah “Badak Jawa” ketimbang “Badak Sunda”? Ajip Rosidi mengajak pembaca untuk menyadari bahwa bahasa tidak pernah bersifat netral. Seperti dikutip dalam berbagai literatur sejarah kebudayaan Nusantara, penamaan sebuah entitas selalu berkelindan erat dengan politik representasi, hegemoni kultural, serta pengakuan kolektif terhadap eksistensi suatu suku bangsa di ruang publik.

Gaya Kritik Kebahasaan yang Mempertanyakan Hal Biasa

Sebagaimana ciri khas karya nonfiksi Ajip Rosidi lainnya, buku ini tidak berupaya menyajikan teori akademik yang rumit atau metodologi penelitian yang kaku. Sebaliknya, narasi di dalamnya disusun dalam bentuk esai reflektif yang lahir dari pengamatan empiris puluhan tahun terhadap dinamika kebahasaan dan pergeseran nilai kebudayaan di Indonesia. Gaya penulisannya sengaja dibuat lugas, argumentatif, serta sesekali diselipi nada satir yang tajam guna mengusik kemapanan berpikir masyarakat.

Alih-alih memberikan konklusi mutlak yang dogmatis, Ajip Rosidi lebih memilih untuk mengajukan serangkaian pertanyaan retoris yang menggugah kesadaran. Beliau mempertanyakan mengapa istilah tertentu mengalami pergeseran makna dan mengapa nomenklatur yang telah lama mapan dalam literatur ilmiah justru tereliminasi dalam komunikasi publik sehari-hari. Baginya, perubahan tersebut bukanlah sekadar dinamika linguistik biasa, melainkan cerminan dari bagaimana posisi sebuah identitas kebudayaan sedang dinegosiasikan dalam ruang kebangsaan.

Dilema Nomenklatur Ilmiah dan Penyebutan Populer

Inti dari kritik kebudayaan ini berangkat dari penamaan taksonomi satwa langka, seperti badak bercula satu yang memiliki nama ilmiah Rhinoceros sondaicus, serta subspesies harimau yang dahulu mendiami wilayah barat Pulau Jawa dengan nama Panthera tigris sondaica. Dalam sistem klasifikasi internasional yang merujuk pada wilayah biogeografi Paparan Sunda (Sunda Shelf), unsur sondaicus dan sondaica secara eksplisit menegaskan identitas geografis serta historis tatar Sunda.

Kegelisahan Ajip Rosidi memuncak ketika melihat kenyataan bahwa dalam penerjemahan serta penggunaan bahasa Indonesia praktis, kedua satwa eksotis tersebut justru populer dengan sebutan Badak Jawa dan Harimau Jawa. Penulis melihat fenomena ini sebagai bentuk marginalisasi bahasa yang sistematis, di mana jejak toponimi dan historis kelokalan sengaja dikaburkan demi keseragaman administratif atau hegemoni kultural tertentu yang lebih dominan.

Gugatan Terhadap Ketidakjujuran Ilmiah dalam Ruang Publik

Bagian paling menonjol dari esai ini muncul ketika Ajip Rosidi mengaitkan fenomena penamaan tersebut dengan isu representasi budaya suku bangsa di Indonesia. Suku Sunda merupakan salah satu kelompok etnis terbesar di Nusantara, namun penanda identitasnya dinilai kian menipis dalam dokumentasi resmi kenegaraan. Dalam bukunya, Ajip Rosidi bahkan melontarkan kritik keras dengan menyebut ketidaksesuaian antara nama ilmiah internasional dan nama populer domestik ini sebagai bentuk ketidakjujuran ilmiah.

Kendati demikian, para pembaca dan peneliti kontemporer juga perlu bersikap proporsional dalam membedah pemikiran sang budayawan. Berbagai kajian sosiolinguistik menunjukkan bahwa perubahan atau penyederhanaan istilah dalam komunikasi massa sering kali dipengaruhi oleh faktor pragmatisme bahasa, kebijakan standardisasi geografis oleh pemerintah, atau sekadar efisiensi penyampaian informasi publik. Oleh sebab itu, esai ini sebaiknya dipandang sebagai pemantik diskusi kebudayaan yang dinamis daripada sebuah dokumen hukum yang bersifat final.

Pentingnya Menjaga Jejak Sejarah Lewat Bahasa

Sebagai sebuah refleksi kebudayaan yang mendalam, karya ini menegaskan kembali komitmen seumur hidup seorang Ajip Rosidi dalam mengawal kelestarian bahasa dan kebudayaan daerah. Melalui analogi badak dan harimau tersebut, beliau memberikan peringatan penting bahwa menjaga identitas suatu bangsa tidak boleh berhenti pada seremonial kesenian tradisional semata, melainkan harus diintegrasikan ke dalam penggunaan istilah-istilah yang membentuk memori kolektif bangsa.

Menghilangkan atau mempertahankan sebuah nama pada akhirnya akan menentukan apakah sejarah masa lalu suatu peradaban akan tetap hidup atau perlahan lenyap dari ingatan generasi penerus. Melalui untaian kalimat yang tajam namun penuh perenungan, Ajip Rosidi berhasil membuktikan bahwa perkara kebahasaan yang tampak sederhana sesungguhnya menyimpan gugatan ideologis yang sangat mendasar bagi masa depan keberagaman budaya di Indonesia.

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *