38°C
09/07/2026
Budaya

Tatar Sunda atau Jawa Barat? Memahami Krisis Identitas Sunda di Balik Wacana Pergantian Nama

  • Juli 9, 2026
  • 5 min read
Tatar Sunda atau Jawa Barat? Memahami Krisis Identitas Sunda di Balik Wacana Pergantian Nama

INFO BANDUNG BARAT — Belakangan ini, wacana perubahan nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Tatar Sunda kembali mengemuka dan memantik perdebatan di tengah masyarakat. Sebagian pihak menilai perubahan nama tersebut penting sebagai bentuk pengakuan terhadap identitas budaya Sunda yang menjadi akar sejarah wilayah Jawa Barat. Di sisi lain, tidak sedikit yang beranggapan bahwa pergantian nama semata tidak akan menyelesaikan persoalan yang lebih mendasar.

Di balik perdebatan itu, muncul pertanyaan yang jauh lebih penting untuk direnungkan, apakah persoalan yang sedang dihadapi masyarakat Sunda benar-benar terletak pada nama wilayahnya, atau justru pada memudarnya pemahaman terhadap identitas dan sejarahnya sendiri?

Pertanyaan inilah yang menjadi pokok pembahasan dalam artikel Krisis Identitas Sunda dan Kegagalan dalam Membaca Masa Lalu yang diterbitkan National Geographic Indonesia. Artikel tersebut mengajak masyarakat melihat persoalan identitas Sunda bukan hanya sebagai isu budaya, melainkan juga sebagai persoalan historis dan filosofis.

Krisis Identitas Bukan Berarti Sunda Hilang

Istilah krisis identitas sering kali dipahami sebagai hilangnya suatu budaya. Padahal, dalam kajian ilmu sosial, krisis identitas lebih mengarah pada kondisi ketika suatu masyarakat mulai kehilangan keterhubungan dengan akar budayanya sendiri.

Dalam konteks masyarakat Sunda, krisis tersebut terlihat ketika semakin sedikit orang yang mengenal sejarah daerahnya, memahami nilai-nilai yang diwariskan leluhur, ataupun membaca kembali sumber-sumber sejarah Sunda. Akibatnya, masyarakat perlahan kehilangan pijakan untuk memahami siapa dirinya dan dari mana asal kebudayaannya.

Anthony D. Smith dalam National Identity menjelaskan bahwa identitas suatu bangsa dibangun melalui ingatan kolektif terhadap sejarah, simbol, tradisi, dan nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ketika ingatan kolektif itu melemah, identitas bangsa pun ikut mengalami guncangan.

Identitas Sunda Tidak Sekadar Simbol Budaya

Sering kali identitas Sunda dipersempit hanya pada simbol-simbol budaya yang tampak di permukaan. Mengenakan pangsi, kebaya, iket kepala, memainkan angklung, menampilkan tari jaipongan, atau berbicara menggunakan bahasa Sunda memang merupakan bagian dari kebudayaan Sunda. Namun, identitas Sunda tidak berhenti pada simbol-simbol tersebut.

Budayawan Jakob Sumardjo menjelaskan bahwa kebudayaan Sunda dibangun di atas sistem nilai yang diwariskan secara turun-temurun. Nilai seperti silih asih, silih asah, silih asuh menjadi fondasi kehidupan masyarakat Sunda. Di dalamnya juga terdapat penghormatan terhadap sesama manusia, tata krama, musyawarah, gotong royong, serta pandangan bahwa manusia harus hidup selaras dengan alam.

Artinya, identitas Sunda sesungguhnya terletak pada cara berpikir, cara bersikap, dan cara menjalani kehidupan, bukan semata-mata pada atribut budaya yang dikenakan.

Ketika Sejarah Tidak Lagi Dibaca

National Geographic Indonesia menyoroti bahwa salah satu penyebab krisis identitas Sunda adalah minimnya upaya membaca kembali sejarah Sunda dari sumber-sumber yang berasal dari masyarakat Sunda sendiri.

Selama ini, historiografi mengenai Tatar Sunda banyak memanfaatkan sumber-sumber dari luar, seperti catatan Portugis, Belanda, Tiongkok, maupun naskah-naskah Jawa. Sumber-sumber tersebut tentu memiliki nilai sejarah yang penting. Namun, jika hanya mengandalkan perspektif luar, pemahaman terhadap sejarah Sunda menjadi kurang utuh.

Sejarawan Edi S. Ekadjati berulang kali menekankan pentingnya memanfaatkan naskah-naskah Sunda kuno sebagai sumber sejarah. Berbagai naskah seperti Sanghyang Siksa Kandang Karesian, Carita Parahyangan, maupun naskah-naskah lainnya tidak hanya berisi catatan sejarah, tetapi juga memuat pandangan hidup, sistem pemerintahan, etika, hingga konsep hubungan manusia dengan alam menurut masyarakat Sunda.

Membaca kembali sumber-sumber tersebut menjadi langkah penting agar masyarakat Sunda dapat memahami sejarahnya melalui sudut pandangnya sendiri.

Pentingnya Membaca Masa Lalu

Sejarah bukan sekadar kumpulan cerita mengenai masa lampau. Sejarah merupakan fondasi yang membentuk identitas suatu masyarakat.

Ketika masyarakat mulai melupakan sejarahnya, maka hubungan dengan nilai-nilai leluhur pun perlahan terputus. Kondisi ini membuat masyarakat lebih mudah menerima berbagai pengaruh baru tanpa memiliki pijakan budaya yang kuat.

Fenomena tersebut dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit generasi muda yang mengenal budaya populer dari berbagai negara, tetapi belum pernah membaca sejarah Kerajaan Sunda, Galuh, atau Pajajaran. Banyak pula yang mengetahui berbagai tokoh dunia, tetapi belum mengenal tokoh-tokoh penting dalam sejarah Sunda.

Kondisi inilah yang kemudian disebut sebagai krisis identitas, yaitu ketika masyarakat masih hidup di tanah budayanya sendiri, tetapi semakin jauh dari akar sejarahnya.

Wacana Tatar Sunda: Simbol atau Solusi?

Wacana perubahan nama Jawa Barat menjadi Tatar Sunda tidak dapat dilepaskan dari keinginan sebagian masyarakat untuk menguatkan kembali identitas budaya Sunda.

Secara simbolik, nama “Tatar Sunda” memang memiliki makna historis yang kuat karena merujuk pada kawasan kebudayaan Sunda yang telah dikenal sejak berabad-abad lalu. Pergantian nama bahkan dapat menjadi momentum untuk kembali mengingat sejarah dan warisan budaya Sunda.

Namun demikian, perubahan nama tidak serta-merta menyelesaikan persoalan identitas.

Apabila masyarakat tetap tidak mengenal sejarah Sunda, tidak mempelajari naskah-naskah kuno, tidak menggunakan bahasa Sunda, serta tidak menghidupkan nilai-nilai luhur warisan leluhur dalam kehidupan sehari-hari, maka pergantian nama hanya akan menjadi perubahan administratif tanpa makna yang mendalam.

Dengan kata lain, perubahan nama dapat menjadi simbol yang kuat, tetapi simbol tersebut memerlukan isi agar memiliki arti.

Menghidupkan Kembali Jati Diri Sunda

Menjaga identitas Sunda tidak harus dimulai dari langkah-langkah besar. Upaya tersebut dapat dimulai dengan mengenalkan kembali sejarah Sunda kepada generasi muda, mempelajari naskah-naskah kuno, menggunakan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari, melestarikan kesenian daerah, hingga mengamalkan nilai-nilai seperti silih asih, silih asah, dan silih asuh.

Jati diri Sunda pada akhirnya tidak ditentukan oleh nama sebuah wilayah semata. Ia hidup melalui masyarakat yang memahami sejarahnya, menghargai budayanya, serta meneruskan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur.

Karena itu, perdebatan mengenai nama Jawa Barat atau Tatar Sunda seharusnya tidak berhenti pada persoalan istilah. Wacana tersebut justru dapat menjadi momentum untuk membuka kembali ruang diskusi tentang sejarah, kebudayaan, dan jati diri masyarakat Sunda di tengah perubahan zaman.

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *