Candi Bentar, Jejak Majapahit yang Menginspirasi Wajah Baru Gedung Sate
INFO BANDUNG BARAT — Gerbang baru Gedung Sate Bandung menghadirkan elemen arsitektur Candi Bentar, yang sekaligus memperkaya identitas visual kawasan pemerintahan Jawa Barat. Revitalisasi ini bukan hanya proyek estetika, tetapi juga pengingat bahwa arsitektur tradisional masih memiliki tempat penting dalam ruang publik modern. Pengunjung tidak hanya melihat sebuah gerbang baru, tetapi juga diajak mengenal kembali salah satu unsur paling khas dalam sejarah arsitektur Nusantara.
Makna dan Sejarah Candi Bentar
Candi Bentar dikenal sebagai gerbang berciri khas “terbelah dua”, tanpa atap penghubung, yang menandai batas antara ruang luar dan area yang lebih sakral. Dalam tradisi arsitektur Jawa, melewati gerbang ini dipahami sebagai transisi simbolis dari dunia profan menuju ruang yang lebih murni. Bentuknya yang kuat dan simetris menjadi ciri utama arsitektur masa Majapahit, seperti terlihat pada Wringin Lawang di Trowulan.
Yang menarik, bentuk Candi Bentar tetap bertahan meski era Majapahit berakhir. Pada masa Islam, bentuk ini tidak dihapus tetapi disesuaikan, terutama pada area makam seperti Sunan Giri dan Sendang Duwur. Proses ini memperlihatkan bahwa kebudayaan Jawa tidak pernah memutus tradisi, melainkan merawatnya melalui adaptasi. Filosofi dualitas, penyucian diri, dan perjalanan spiritual tetap dipertahankan, meskipun beberapa ragam hias mengalami perubahan sesuai nilai-nilai baru.
Candi Bentar di Gedung Sate dan Relevansinya Hari Ini
Penerapan Candi Bentar pada gerbang Gedung Sate menunjukkan bahwa warisan arsitektur kuno masih bisa hidup dalam lanskap kota modern. Ragam hias flora dan geometris, yang sejak lama dianggap sebagai simbol kesuburan dan keteraturan kosmos, kini hadir kembali dalam bentuk lebih sederhana namun tetap bermakna.
Publik merespons beragam, ada yang mengapreasiasi upaya pelestarian budaya, ada pula yang mempertanyakan kesesuaian bentuknya dengan arsitektur Candi Bentar tradisional. Namun, para ahli melihatnya sebagai bentuk adaptasi yang wajar, selama prinsip budaya tetap dihargai. Namun tak sedikit yang berkomentar di luar konteks arsitektur, yaitu terkait urgensi dan anggaran dari pembangunan tersebut.
Namun, lebih dari sekadar gerbang, kehadiran unsur Candi Bentar di Gedung Sate mengajak masyarakat memahami bahwa sejarah bukanlah hiasan masa lalu. Ia adalah referensi yang dapat terus digunakan untuk membangun identitas hari ini. Dengan menyatukan pola pikir modern dan nilai tradisional, arsitektur ruang publik menjadi lebih kaya, mendalam, dan punya cerita yang bisa dibaca setiap orang yang melintas.***
Penulis & Editor: Ayu Diah Nur’azizah