Cisarua dan Jejak Vulkanisme Purba dalam Sejarah Geologi Bandung Raya
INFO BANDUNG BARAT — Kawasan Cisarua di Kabupaten Bandung Barat menyimpan sejarah geologi yang terbentuk melalui proses alam jangka panjang sejak jutaan tahun lalu. Wilayah ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari aktivitas vulkanik purba yang membentuk fondasi batuan dan lanskapnya sejak Kala Kuarter. Seperti dijelaskan dalam laporan RRI.co.id (2026), struktur geologi Cisarua hingga kini masih didominasi oleh endapan gunung api tua yang menjadi bukti aktivitas vulkanisme masa lampau.
Pembentukan awal Cisarua dapat ditelusuri sejak Kala Kuarter, sekitar 2,6 juta tahun lalu, ketika aktivitas gunung api di wilayah Jawa Barat berlangsung sangat intens. Pada masa tersebut, letusan-letusan vulkanik menghasilkan material berupa lava, abu, dan piroklastik yang kemudian mengendap secara bertahap. Endapan inilah yang membangun lapisan dasar wilayah Cisarua, sebagaimana diuraikan dalam kajian geologi regional oleh Journal of Southeast Asian Earth Sciences (1996) yang membahas perkembangan vulkanisme di kawasan Bandung Raya.
Memasuki Kala Pleistosen, sekitar 1 juta hingga 100 ribu tahun lalu, kawasan Cisarua berada dalam lingkungan vulkanik aktif. Endapan vulkanik yang terbentuk pada periode ini terakumulasi secara berlapis dan membentuk satuan batuan gunung api tua. Satuan batuan tersebut tersusun atas breksi vulkanik, tuf, dan lava yang hingga kini masih mendominasi struktur geologi Cisarua dan menjadi rekaman penting sejarah alam kawasan ini.
Dalam konteks sejarah geologi regional, pembentukan Cisarua juga berkaitan dengan dinamika vulkanisme Bandung Raya. Kajian dalam Journal of Southeast Asian Earth Sciences (1996) menjelaskan bahwa setelah runtuhnya Gunung Sunda purba, sistem vulkanik di wilayah ini memasuki fase baru yang turut memengaruhi sebaran material vulkanik di kawasan sekitarnya, termasuk Cisarua. Pada fase inilah, salah satu aktivitas vulkanik regional yang berkaitan dengan Gunung Tangkuban Parahu ikut memberikan kontribusi material, meskipun jejak utamanya di Cisarua terekam dalam endapan gunung api tua.
Pada akhir Kala Pleistosen hingga awal Holosen, sekitar 100 ribu hingga 11.700 tahun lalu, aktivitas vulkanik purba di wilayah Bandung Raya mulai berangsur menurun. Sejak periode tersebut, kawasan Cisarua memasuki tahap perkembangan geologi yang lebih stabil. Endapan vulkanik yang telah terbentuk kemudian mengalami proses pemadatan, pelapukan, dan perubahan struktur batuan secara alami, sebagaimana dijelaskan dalam kajian Journal of Geological Sciences and Applied Geology (2018) mengenai evolusi batuan vulkanik di Jawa Barat.
Secara regional, Cisarua merupakan bagian dari wilayah pinggiran Cekungan Bandung, sebuah cekungan geologi yang proses pembentukannya berlangsung sejak akhir Pleistosen. Menurut Journal of Southeast Asian Earth Sciences (1996), dinamika cekungan ini sangat dipengaruhi oleh aktivitas vulkanik purba dan sedimentasi jangka panjang, yang turut membentuk karakter wilayah-wilayah di sekitarnya, termasuk Cisarua.
Selama ribuan hingga puluhan ribu tahun, proses alam terus membentuk lanskap Cisarua. Lapisan batuan gunung api purba yang tersusun sejak Kala Kuarter menjadi saksi perjalanan panjang pembentukan wilayah ini. Struktur geologi tersebut menunjukkan bahwa Cisarua merupakan hasil akumulasi proses alam lintas zaman, bukan hasil dari satu peristiwa tunggal.
Dengan demikian, sejarah kawasan Cisarua merupakan bagian penting dari sejarah vulkanisme purba Bandung Raya. Aktivitas gunung api, pengendapan material vulkanik, serta proses alam jangka panjang telah membentuk lanskap yang terlihat saat ini, menjadikan Cisarua sebagai wilayah dengan nilai sejarah geologi yang signifikan di Jawa Barat.***