38°C
28/04/2026
Sejarah

Dari Kebun Kolonial hingga Balitsa: Evolusi Pusat Hortikultura Lembang

  • Februari 25, 2026
  • 2 min read
Dari Kebun Kolonial hingga Balitsa: Evolusi Pusat Hortikultura Lembang

INFO BANDUNG BARAT — Di ketinggian sekitar 1.250 meter di atas permukaan laut, di kaki Gunung Tangkuban Parahu, berdiri Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), institusi strategis di bawah Kementerian Pertanian RI. Dengan tanah andosol yang subur dan iklim sejuk, kawasan ini telah menjadi pusat pengembangan hortikultura Indonesia selama hampir satu abad.

Sebelum menjadi aset negara, lahan ini merupakan perkebunan milik pengusaha kopi sekaligus botanikus Belanda, Van De Root. Bekas rumahnya masih berdiri dan digunakan sebagai kantor utama Balitsa hingga kini.

Di balik sejarah kelembagaan, terselip kisah personal Van De Root dan istrinya, Mari Suhaya atau Marietje. Status hubungan mereka tidak pernah tercatat jelas dalam sejarah kolonial. Marietje wafat pada 1 Februari 1936 dan dimakamkan di area kebun. Hingga kini, makamnya masih ada di lingkungan Balitsa.

Secara resmi, lembaga ini didirikan pemerintah kolonial pada 1939 sebagai kebun percobaan Prust Trein di bawah Institut Voor Plants Richten, Bogor, dengan fokus hortikultura dan pengendalian hama penyakit. Pada masa pendudukan Jepang, lembaga ini menjadi bagian dari Culture Technisch Instituut Buitenzorg.

Memasuki era kemerdekaan, statusnya beberapa kali berubah: menjadi Kebun Percobaan Hortikultura (1962), Balai Penelitian Tanaman Pangan Lembang (1980), Balai Penelitian Hortikultura Lembang (1982), hingga resmi menjadi Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) pada 1995.

Transformasi berlanjut pada 2023 menjadi Balai Pengujian Standar Instrumen (BPSI) Tanaman Sayuran. Pada 2025, lembaga ini berada di bawah Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) dengan peran memperkuat perakitan teknologi, penyediaan benih sumber, serta modernisasi budidaya melalui mekanisasi.

Dari kebun kolonial hingga pusat modernisasi pertanian, Balitsa menjadi saksi bahwa ilmu pengetahuan berkembang seiring dinamika zaman dan sejarah manusia di dalamnya.***

About Author

Anggie Baeduri Aulia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *