38°C
06/05/2026
Budaya

Dari Sapi Sakral ke Soto Kudus: Kisah Toleransi Beragama di Kudus

  • Februari 9, 2026
  • 3 min read
Dari Sapi Sakral ke Soto Kudus: Kisah Toleransi Beragama di Kudus

INFO BANDUNG BARAT — Dalam semangkuk Soto Kudus yang nikmat, tersaji nasi putih, irisan daging kerbau, tauge segar, kubis, dan daun kucai, disiram kuah gurih serta taburan bawang goreng, ditambah perasan jeruk nipis yang menyegarkan. Namun, di balik kelezatan hidangan ini, tersimpan sejarah panjang dan makna mendalam tentang penyebaran agama Islam serta nilai toleransi antarumat beragama di Kota Kudus.

Dikutip dari tulisan Rachmawati Yuliana Nurhayu dalam Sunan Kudus: Dinamika Ajaran, Tradisi, dan Budaya di Kudus Jawa Tengah Tahun 1990–2015, Sunan Kudus—salah satu Wali Songo yang menyebarkan Islam di Jawa Tengah—dikenal menerapkan prinsip dakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan budaya dan kepercayaan masyarakat setempat. Prinsip ini disebut mau‘izhah hasanah wa mujadalah billati hiya ahsan, yakni penyampaian ajaran agama yang disesuaikan dengan adat, budaya, serta kepercayaan penduduk setempat.

Pada masa itu, mayoritas penduduk Kudus menganut agama Hindu yang memegang teguh ajaran ahimsa atau anti-kekerasan, terutama terhadap sapi. Dalam kitab suci Catur Veda tertulis, “Gavah Vivasyah Matarah”, yang berarti sapi adalah ibu seluruh dunia. Oleh karena itu, sapi dianggap sebagai hewan suci yang wajib dihormati dan tidak boleh disembelih atau dikonsumsi dagingnya.

Memahami hal tersebut, Sunan Kudus mengambil pendekatan yang unik. Ia menghormati kepercayaan Hindu dengan tidak menyembelih sapi. Bahkan, menurut cerita yang berkembang, Sunan Kudus pernah mengikat seekor sapi yang telah dihias di halaman Masjid Menara Kudus. Tindakan ini menarik perhatian umat Hindu yang penasaran, sehingga mereka berdatangan ke masjid dan membuka ruang dialog dakwah.

Strategi ini mengajarkan nilai toleransi yang dikenal dengan istilah tepo seliro, yakni sikap saling menghormati dan tenggang rasa antarumat beragama dan antarsuku bangsa. Meski dalam Islam sapi halal untuk dikonsumsi, Sunan Kudus mengutamakan keharmonisan sosial dan tidak melanggar tradisi masyarakat setempat dengan mengganti sumber protein dari daging sapi menjadi daging kerbau.

Pesan lisan (weling) yang melegenda di Kudus pun merekam kebijakan tersebut:

Ojo nyembelih sapi, mergo sapi kuwi kewan sing dimulyake kancamu.Yen kepingin mangan daging, sembelihlah kerbau.” (Jangan menyembelih sapi karena sapi adalah hewan yang dimuliakan temanmu. Jika ingin makan daging, sembelihlah kerbau.)

Kebijakan tersebut melahirkan tradisi kuliner unik yang bertahan hingga lima abad, yaitu hidangan Soto Kerbau yang kini lebih dikenal sebagai Soto Kudus, makanan ikonik yang hadir di hampir setiap sudut Kota Kudus.

Dalam naskah kuno Serat Kandaning Ringgit Purwa, tertulis bahwa Sunan Kudus menegaskan agama seharusnya menjadi jembatan yang menyatukan, bukan sekat yang memisahkan. Hingga kini, tradisi menghormati sapi dan memilih daging kerbau tetap lestari sebagai bukti harmonisasi budaya dan agama yang dijalankan masyarakat Kudus.

Soto Kudus bukan hanya soal cita rasa, tetapi juga simbol kedamaian yang hidup turun-temurun. Setiap suapan soto kerbau khas Kudus menjadi pengingat akan sejarah panjang toleransi, ketika harmoni sosial dibangun di atas dasar saling pengertian dan penghormatan.***

About Author

Anggie Baeduri Aulia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *