38°C
18/09/2026
Komunitas

Dari Ayunan Penjarah Eropa Hingga Simbol Perlawanan Karst Citatah di Bandung Barat

  • Juli 10, 2024
  • 4 min read
Dari Ayunan Penjarah Eropa Hingga Simbol Perlawanan Karst Citatah di Bandung Barat

INFO BANDUNG BARAT Hammock atau tempat tidur gantung konon lahir dari rahim peradaban suku Maya sebelum akhirnya diperkenalkan oleh bangsa Eropa ke seluruh penjuru dunia. Ketika orang-orang Eropa tiba di Benua Amerika, mereka datang untuk menjarah apa pun yang dianggap berharga, tak terkecuali hammock.

Bagi suku bangsa Maya, hammock adalah proteksi. Tempat tidur ini digantung sedemikian rupa agar mereka terhindar dari marabahaya saat terlelap, seperti sengatan ular berbisa dan ancaman predator hutan.

Meskipun pada mulanya hammock hanya terbuat dari jalinan dedaunan yang ditambatkan ke pepohonan, di tangan bangsa Eropa bahan baku tersebut bertransformasi. Mereka mulai menggunakan serat kapas yang diproses menjadi benang, lalu dirajut membentuk jaring kuat.

Sebelum populer di pantai-pantai Spanyol, Italia, dan Prancis sebagai sarana bersantai menikmati semilir angin senja, hammock terlebih dahulu menjadi sahabat para pelaut. Di dek kapal-kapal perang, para pelaut Eropa menggunakannya untuk melepas lelah setelah mengemasi emas dan berbagai komoditas jarahan dari tanah Amerika Selatan. Dari rekam jejak tersebut, asal-usul hammock sejatinya tidak bisa dilepaskan dari sejarah kelam kolonialisme.

Memutarbalik Sejarah: Hammock Melawan Tambang

Lain dulu, lain sekarang. Di tangan generasi muda Kabupaten Bandung Barat (KBB), hammock justru mengalami mutasi fungsi yang ekstrem: dari alat istirahat para penjarah, kini menjadi instrumen pendukung untuk menghambat penjarahan tebing kapur purba.

Kisah perlawanan ini bermula sekitar tahun 2009. Saat itu, gerakan anak muda Bandung Barat mulai menggugat aktivitas pertambangan yang berlangsung sporadis dan merusak ekosistem di Kawasan Karst Citatah. Melalui serangkaian aksi massa dan diplomasi meja diskusi, mereka mendesak pemerintah untuk menyelamatkan bentang alam tersebut.

Perjuangan yang terjal dan mendaki itu akhirnya membuahkan hasil, sebuah kemenangan-kemenangan kecil di atas kertas yang patut dicatat sejarah:

  • Tahun 2012: Terbit Peraturan Menteri ESDM Nomor 17 yang menetapkan Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Citatah.

  • Perda RTRW KBB: Dimasukkannya Kawasan Cagar Alam Geologi (KCAG) Hawu-Pabeasan dan Pawon ke dalam Perda Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bandung Barat Nomor 2 Tahun 2009-2029.

Sadar bahwa regulasi di atas kertas kerap mandul di lapangan untuk membendung nafsu korporasi tambang, para aktivis memutar otak. Mereka membuka kawasan ini sebagai destinasi wisata minat khusus berbasis ekologi di beberapa titik pelestarian, seperti Pabeasan, Hawu, Pawon, Gunung Masigit, dan Karang Panganten.

Mengenal High Hammocking: Menantang Maut demi Kelestarian

Salah satu daya tarik utama yang ditawarkan untuk menjawab tantangan pemanfaatan karst tanpa merusak adalah high hammocking atau bersantai di atas tempat tidur gantung pada ketinggian ekstrem.

Sebelum diadopsi sebagai atraksi wisata, hammock awalnya merupakan alat wajib para pemanjat tebing untuk menaklukkan dinding raksasa (big wall) berketinggian di atas 1000 meter. Karena proses pemanjatan bisa memakan waktu berhari-hari, hammock berfungsi sebagai tempat tidur gantung darurat yang dipasang langsung di ceruk tebing.

Sensasi mendebarkan inilah yang kini ditawarkan kepada para pelancong melalui high hammocking. Mengingat risiko kecelakaan yang sangat tinggi, aktivitas ini wajib dipandu oleh para instruktur terlatih yang berpengalaman dalam olahraga ekstrem panjat tebing alam. Seluruh peralatan yang digunakan pun wajib memenuhi standar keamanan internasional (UIAA/CE certified).

Beberapa peralatan vital dalam instalasi high hammocking meliputi:

  • Seat harness (tali pengaman tubuh/pinggang)

  • Cowstail (tali pengaman statis)

  • Carabiner screw (cincin kait berpengunci) dan carabiner snap (tanpa pengunci)

  • Helm, sarung tangan, dan tali kernmantle

  • Tali prusik, webbing, ascender (alat penaik), dan pulley (katrol)

Secara teknis, pemasangannya terbilang rumit. Instruktur mula-mula menyiapkan dua atau tiga lintasan tali utama yang dibentangkan kuat di antara dua batuan karst yang berfungsi sebagai tambatan alam.

Hammock kemudian ditambatkan pada dua tali lintasan. Sementara itu, tali lintasan ketiga yang berada di posisi tengah difungsikan khusus sebagai tali pengaman tubuh (safety line) penikmat wisata. Teknik penarikan dan penegangan tali ini seluruhnya menggunakan metode hauling.

Penanda Berakhirnya Era Penjarahan Karst

Ketika wisatawan berhasil mencapai ketinggian tebing, fungsi hammock telah berbalik total dari sejarah masa lalunya. Di puncak tower-tower batu Gunung Hawu, Padalarang, selembar kain yang berkibar di antara celah tebing itu kini berdiri kokoh sebagai bendera perlawanan dan penanda berakhirnya era penambangan legal maupun ilegal di tempat tersebut.

Daya tarik ekstrem ini terbukti berhasil memikat perhatian dunia. Wisatawan yang datang menjajal high hammocking di Gunung Hawu tidak hanya berasal dari domestik, melainkan juga dari mancanegara—khususnya negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Mereka rela datang jauh-jauh karena atraksi ekstrem memanfaatkan bentang alam karst purba seperti ini tidak dapat mereka temukan di negara asal mereka.

Bagi muda-mudi Bandung Barat yang konsisten menggugat, perjuangan memasang hammock di sela-sela tebing curam ini adalah cara mereka merawat bumi. Mereka paham betul bahwa sekadar bersandar pada regulasi formal tidak akan pernah cukup untuk menyelamatkan Kawasan Karst Citatah dari ancaman krisis ekologi yang nyata.

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *