Jejak Historis Pabrik Teh Montaya: Dari Masa Kolonial hingga Kini
INFO BANDUNG BARAT — Pabrik Teh Montaya merupakan salah satu saksi bisu kejayaan komoditas teh di tanah Pasundan yang masih berdiri kokoh hingga saat ini. Terletak di Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat, pabrik ini menyimpan sejarah panjang yang membentang lebih dari satu abad.
Sejarah kawasan Montaya bahkan telah dimulai sebelum pabrik berdiri. Pada 1901, pemerintah kolonial Belanda membangun Jembatan Montaya, sebuah infrastruktur vital yang berfungsi sebagai jalur utama pengangkutan hasil bumi dari pelosok Bandung Barat.
Pada 1908, perkebunan teh beserta fasilitas pengolahannya resmi didirikan dengan nama NV Cultuur My, sebuah perusahaan swasta milik Belanda. Wilayah operasionalnya diperluas pada 1911 dengan penggabungan unit produksi kebun Palasari dan Cicalobak, menandai awal konsolidasi industri teh di kawasan tersebut.
Pada 1948, kendali NV Cultuur My beralih menjadi Gubernemen Landbouw Bedrijf (GLB). Periode penting berikutnya terjadi pada 1958, ketika seluruh aset dinasionalisasi dan menjadi milik pemerintah Republik Indonesia. Nama perusahaan pun berubah menjadi Perusahaan Perkebunan Negara (PPN), lalu mengalami beberapa penyesuaian hingga menjadi PNP.
Perubahan berlanjut pada 1971 saat statusnya berganti menjadi perusahaan perseroan PT Perkebunan XII yang berkedudukan di Bandung. Konsolidasi kembali terjadi pada 1982 ketika Kebun Montaya digabungkan dengan Kebun Rongga. Puncak restrukturisasi berlangsung pada 11 Maret 1996, ketika PTP XII dilebur bersama PTP XI dan PTP XIII menjadi satu entitas, yakni PT Perkebunan Nusantara VIII (PTPN VIII).
Sejak awal berdiri, Pabrik Montaya konsisten memproduksi teh orthodox. Berbeda dengan metode modern crushing, tearing, curling (CTC), teh orthodox diproses melalui tahapan tradisional, mulai dari pelayuan, penggulungan, hingga pengeringan, guna menjaga keutuhan daun dan menghasilkan aroma khas berkualitas tinggi.
Kualitas tersebut didukung kondisi geografis yang ideal. Perkebunan Montaya berada pada ketinggian sekitar 800–1.200 meter di atas permukaan laut. Secara administratif, hamparan kebun ini tersebar di Kecamatan Gununghalu dan Rongga, mencakup 12 desa di sekitarnya.
Kini, selain berfungsi sebagai unit produksi teh di bawah PTPN VIII, kawasan Montaya juga mulai dikembangkan sebagai destinasi agrowisata. Lanskap alam yang indah dipadukan dengan nilai sejarah menjadikannya ruang edukasi sekaligus wisata yang memperkenalkan perjalanan panjang industri teh di Indonesia.***
Penulis: Anggie Baeduri Aulia R
Editor: Ayu Diah Nur’azizah