38°C
03/02/2026
Kriminal

Jembatan Citarum Lama: Saksi Bisu Jalan Raya Pos dan Medan Ekstrem Rajamandala

  • Februari 3, 2026
  • 3 min read
Jembatan Citarum Lama: Saksi Bisu Jalan Raya Pos dan Medan Ekstrem Rajamandala

INFO BANDUNG BARAT — Di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, terbentang jejak sejarah yang kini nyaris terlupakan: Jembatan Citarum Lama. Meski tak lagi dilalui arus kendaraan utama, jembatan ini menyimpan kisah panjang tentang ambisi kolonial, kerja paksa, dan perjuangan manusia menaklukkan alam. Ia merupakan bagian tak terpisahkan dari Jalan Raya Pos (De Grote Postweg), mahakarya infrastruktur yang dirintis oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels pada awal abad ke-19.

Pada 1807–1808, Daendels membangun Jalan Raya Pos sepanjang kurang lebih 1.000 kilometer yang membentang dari Anyer di Banten hingga Panarukan di Jawa Timur. Jalan ini dirancang sebagai jalur logistik dan pertahanan militer kolonial Belanda dalam menghadapi ancaman Inggris. Jalur Bandung–Cianjur menjadi salah satu ruas penting karena menghubungkan kawasan pedalaman Priangan dengan wilayah barat Pulau Jawa.

Namun, membangun jalan di wilayah Priangan bukan perkara mudah. Sungai besar seperti Citarum, dengan arus deras dan lembah curam, menjadi tantangan serius. Pada masa awal, penyeberangan Sungai Citarum di kawasan Rajamandala belum menggunakan jembatan permanen.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa penyeberangan Citarum pada era Daendels awalnya memanfaatkan veerpont, yakni dua perahu besar yang disatukan. Sarana sederhana ini digunakan untuk mengangkut kereta kuda, logistik, dan pejalan kaki. Medannya ekstrem, arus sungai deras, dan risiko kecelakaan tinggi, tetapi menjadi satu-satunya akses penyeberangan saat itu.

Seiring meningkatnya intensitas lalu lintas, dibangunlah Jembatan Citarum Lama di lokasi yang sama untuk menggantikan perahu. Jembatan ini kemudian menjadi penghubung vital antara Bandung dan Cianjur, sekaligus simpul penting dalam jaringan Jalan Raya Pos.

Jembatan Citarum Lama dikenal bukan karena kemegahannya, melainkan karena tingkat bahayanya. Struktur jembatan relatif rendah dan berada di kawasan lembah sungai dengan jalan sempit serta berkelok tajam. Tepat setelah menyeberang dari arah Cianjur, pengendara dihadapkan pada tanjakan curam legendaris, yakni Tanjakan Sidaweung (Sidaweng).

Pada era 1970–1980-an, tanjakan ini menjadi momok bagi sopir kendaraan berat. Mesin kerap mogok, sistem pengereman sering gagal, dan kecelakaan bukanlah hal yang asing. Sidaweung menjadi penanda betapa ekstremnya jalur lama Bandung–Cianjur sebelum modernisasi infrastruktur dilakukan.

Peran strategis Jembatan Citarum Lama mulai memudar ketika pemerintah Orde Baru membangun Jembatan Rajamandala yang lebih tinggi dan modern. Pembangunan dimulai sekitar 1972 dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 14 Agustus 1979. Jembatan ini kemudian dikembangkan dan difungsikan secara penuh sekitar 1986 seiring pembangunan PLTA Cirata.

Pembangunan jembatan baru bertujuan menghindari risiko perendaman akibat bendungan serta menciptakan jalur yang lebih aman dan efisien. Sejak itu, arus lalu lintas utama Bandung–Cianjur dialihkan ke Jembatan Rajamandala, sementara Jembatan Citarum Lama perlahan terasing dari denyut transportasi.

Kini, Jembatan Citarum Lama telah dirobohkan, meskipun sisa-sisa strukturnya masih dapat ditemukan di sekitar aliran Sungai Citarum. Jejak fondasi yang tertinggal menjadi pengingat bisu akan masa ketika jalur ini pernah menjadi nadi utama pergerakan manusia dan barang di Priangan Barat.

Hari ini, Jembatan Rajamandala berfungsi sebagai jembatan umum gratis, sementara Jembatan Citarum Lama dikenang sebagai warisan sejarah. Ia merupakan potongan kecil dari mozaik besar Jalan Raya Pos—monumen sunyi yang menyimpan cerita tentang kolonialisme, kerja keras rakyat, dan evolusi infrastruktur Indonesia.

Bagi mereka yang menelusuri Cipatat dengan perspektif sejarah, Jembatan Citarum Lama bukan sekadar jembatan yang hilang. Ia adalah simbol bagaimana jalur berbahaya pernah menjadi urat nadi kehidupan, sebelum akhirnya tergantikan oleh zaman.***

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *