38°C
10/05/2026
Bhineka Lifestyle

Ketika Tumbler Menjadi Simbol Baru Gaya Hidup dan Kelas Sosial di Masyarakat Urban

  • November 28, 2025
  • 3 min read
Ketika Tumbler Menjadi Simbol Baru Gaya Hidup dan Kelas Sosial di Masyarakat Urban

INFO BANDUNG BARAT — Penggunaan tumbler dalam beberapa tahun terakhir mengalami perubahan makna yang cukup signifikan. Jika dulu ia hanya dipakai sebagai wadah minum, kini tumbler telah menjadi simbol gaya hidup dan penanda kelas sosial, terutama di ruang-ruang urban seperti Bandung dan Jakarta. Penelitian dalam Jurnal Kresna, 2025 menunjukkan bahwa tumbler kini memiliki fungsi simbolik, orang membawanya bukan hanya untuk kebutuhan hidrasi, tetapi juga sebagai representasi identitas dan citra diri.

Fenomena ini sejalan dengan konsep konsumsi simbolik. Seperti dijelaskan dalam Jurnal Sosioglobal, 2024, pilihan seseorang terhadap tumbler, baik dari segi desain, warna, maupun merek, berkaitan erat dengan upaya menampilkan selera dan posisi sosial. Beberapa pengguna bahkan mengaku memilih tumbler tertentu untuk memberikan kesan rapi, modern, estetik, dan “kelas menengah urban”. Dengan kata lain, tumbler berfungsi sebagai bahasa visual yang secara halus menunjukkan siapa kita dan kelompok sosial mana yang ingin kita identifikasi.

Tren tumbler juga tidak lepas dari pengaruh lingkungan sosial. Studi dalam Jurnal Dimensia, 2023 menjelaskan bahwa teman dekat, komunitas kampus, dan konten media sosial memainkan peran besar dalam membentuk persepsi bahwa tumbler estetik adalah bagian dari gaya hidup yang wajib dimiliki. Fenomena ini memunculkan FOMO—rasa takut tertinggal tren—sehingga banyak orang merasa perlu mengikuti apa yang digunakan komunitasnya.

Temuan serupa terlihat dalam penelitian terhadap mahasiswi urban yang dimuat dalam Jurnal Komunika, 2024. Para informan menyatakan bahwa tumbler tidak lagi dipilih hanya karena fungsinya, tetapi karena citra yang melekat pada merek atau desain tertentu. Tumbler mahal disebut memberi rasa eksklusivitas, sementara desain yang estetik membuat pengguna merasa lebih percaya diri di ruang publik. Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa tumbler bekerja sebagai simbol distingsi atau membedakan pemiliknya dari kelompok lain melalui gaya dan pilihan konsumsi.

Dalam konteks kota besar seperti Bandung dan Jakarta, makna sosial tumbler semakin menguat. Laporan dari media daring seperti Ayobandung.com, 2025 dan Merahputih.com, 2025 menunjukkan bahwa tumbler bermerek telah menjadi bagian dari budaya “healthy yet aesthetic lifestyle”. Di coworking space, transportasi publik, hingga ruang perkantoran, tumbler diperlakukan layaknya aksesori gaya hidup, menampilkan kesan produktif, aktif, dan peduli lingkungan. Benda sederhana ini berubah menjadi indikator identitas urban yang tengah populer.

Namun, makna tumbler tidak selalu berkaitan dengan status sosial. Sebagian pengguna tetap memaknainya sebagai komitmen ekologis untuk mengurangi sampah plastik. Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara, 2024 mencatat bahwa banyak kalangan memilih tumbler karena ingin lebih berkelanjutan dan menghemat biaya minum. Meski demikian, maraknya edisi terbatas dan tumbler berharga tinggi menghadirkan ambiguitas, apakah pengguna benar-benar peduli lingkungan, atau sekadar mengikuti simbol sosial yang sedang naik daun.

Fenomena ini juga dapat dibaca dalam kerangka budaya konsumerisme. Konsep klasik dari buku “The Theory of the Leisure Class”, 1899 menjelaskan bahwa manusia kerap memilih benda bukan hanya karena fungsinya, melainkan karena makna sosial yang dibawanya. Tumbler menjadi salah satu contoh nyata bagaimana objek kecil dalam kehidupan sehari-hari mampu memuat narasi identitas, aspirasi, bahkan kelas sosial. Ia hadir sebagai alat untuk mengatur impresi atau bagaimana seseorang ingin dipandang oleh lingkungannya.

Keseluruhan perkembangan ini menunjukkan bahwa tumbler bukan sekadar tren sesaat. Ia menjadi simbol bagaimana masyarakat urban membangun identitas melalui pilihan konsumsi sehari-hari. Tumbler dapat bermakna ekologis, estetik, fungsional, atau bahkan prestisius, semua bergantung pada konteks sosial penggunanya.


Penulis & Editor: Ayu Diah Nur’azizah

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *