38°C
21/03/2026
Sejarah

Legenda Sangkuriang dan Sejarah yang Mengalir di Citapen

  • Januari 20, 2026
  • 3 min read
Legenda Sangkuriang dan Sejarah yang Mengalir di Citapen

INFO BANDUNG BARAT — Desa Citapen yang terletak di Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, menyimpan sejarah panjang yang tidak hanya berkaitan dengan pembentukan pemerintahan desa, tetapi juga dengan ingatan budaya dan cerita lisan yang hidup di tengah masyarakat. Desa ini secara resmi terbentuk pada tahun 1866 setelah melalui proses musyawarah para tokoh masyarakat setempat dan memperoleh pengesahan dari pemerintah daerah. Sejak saat itu, Citapen berdiri sebagai satuan pemerintahan desa yang mengelola kehidupan sosial, administratif, dan pelayanan publik bagi warganya.

Nama Citapen berasal dari bahasa Sunda, yakni “ci” yang berarti air dan “tapen” yang diturunkan dari kata rarapen, merujuk pada ranting, kayu, atau material alam yang terbawa arus air. Penamaan ini tidak dapat dilepaskan dari kondisi geografis wilayah serta cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam ingatan kolektif masyarakat, asal-usul nama Citapen sering dikaitkan dengan legenda Sangkuriang. Dikisahkan bahwa peristiwa besar dalam legenda tersebut menyebabkan luapan air yang membawa material alam ke berbagai wilayah, dan Citapen dipercaya sebagai salah satu tempat yang namanya lahir dari peristiwa simbolik itu.

Seiring berjalannya waktu, struktur sosial dan pemerintahan Desa Citapen mengalami perkembangan. Pada masa awal, desa ini terdiri dari tujuh Rukun Warga dan tiga puluh sembilan Rukun Tetangga. Pertumbuhan penduduk serta munculnya kawasan permukiman baru mendorong perubahan struktur administratif menjadi tiga belas Rukun Warga dan enam puluh Rukun Tetangga. Perubahan tersebut menunjukkan dinamika desa yang terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakatnya.

Kepemimpinan Desa Citapen berlangsung lintas generasi sejak berdirinya desa. Kepala desa pertama yang tercatat memimpin adalah Puradi Redja pada periode 1866 hingga 1876. Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh tokoh-tokoh lain seperti H. Hanapiah Bratawidjaya dan H. Muhjidin Bratawidjaya yang memimpin hingga masa sebelum kemerdekaan. Dalam periode yang lebih modern, sosok H. Odih menjadi figur penting karena menjabat sebagai kepala desa selama tiga periode berturut-turut hingga tahun 2017. Rangkaian kepemimpinan ini mencerminkan kesinambungan pemerintahan desa yang bertumpu pada kepercayaan masyarakat terhadap tokoh lokal.

Pada tahun 2017, Desa Citapen memasuki fase penting ketika Kepala Desa H. Odih wafat pada 12 Februari. Peristiwa ini menyebabkan kekosongan kepemimpinan desa. Untuk menjaga keberlangsungan pemerintahan, dilakukan musyawarah yang melibatkan unsur kecamatan, Badan Permusyawaratan Desa, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa, tokoh agama, serta unsur perempuan. Hasil dari proses tersebut menetapkan Drs. Asep W. Abd. Rahman sebagai Pejabat Kepala Desa hingga dilaksanakannya pemilihan kepala desa berikutnya.

Dalam konteks yang lebih luas, sejarah Desa Citapen mencerminkan perjalanan desa-desa di Indonesia yang tidak hanya berfungsi sebagai unit administratif, tetapi juga sebagai komunitas sosial dan budaya. Desa tumbuh dari kesepakatan warga, nilai-nilai lokal, serta praktik musyawarah yang telah mengakar jauh sebelum sistem pemerintahan modern terbentuk. Perjalanan Citapen menunjukkan bagaimana legenda, kondisi alam, dan tata kelola pemerintahan saling berkelindan membentuk identitas desa.***

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *