Lembang di Garis Depan Revolusi dalam Pertempuran Bandung Utara 1945–1948
INFO BANDUNG BARAT — Di balik citranya sebagai kawasan pegunungan dan tempat peristirahatan, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, menyimpan jejak penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada masa Revolusi Kemerdekaan 1945–1948, Lembang menjadi salah satu basis pertahanan Republik di Bandung Utara sekaligus medan pertempuran menghadapi pasukan Sekutu.
Perjuangan di kawasan ini tidak berdiri sendiri. Lembang terhubung dengan sejumlah wilayah strategis seperti Villa Isola, Cihideung, Cijengkol, Cisarua, hingga Subang. Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Bandung berlangsung jauh melampaui pusat kota.
Kedatangan Sekutu dan Ancaman di Bandung Utara
Situasi Bandung berubah setelah pasukan Sekutu tiba pada 12 Oktober 1945. Kedatangan mereka menimbulkan kekhawatiran karena pasukan Sekutu datang bersama unsur NICA yang dianggap membuka peluang bagi kembalinya kekuasaan Belanda.
Ketegangan kemudian berkembang menjadi berbagai pertempuran. Konflik yang sebelumnya berlangsung di sejumlah titik Kota Bandung meluas ke kawasan Bandung Utara, termasuk Villa Isola, Cihideung, Cijengkol, dan Lembang.
Seperti dijelaskan dalam penelitian Mohamad Ully Purwasatria, Peranan Sukanda Bratamanggala dan Sewaka di Bandung Utara dalam Mempertahankan Kemerdekaan Tahun 1945–1948 dari Universitas Pendidikan Indonesia, kondisi tersebut mendorong pembentukan dan penguatan pertahanan Republik di kawasan Bandung Utara.
Lembang Menjadi Basis Pertahanan
Salah satu tokoh penting dalam perjuangan Bandung Utara adalah Sukanda Bratamanggala, mantan perwira PETA yang kemudian berperan dalam membangun kekuatan bersenjata di kawasan tersebut.
Menurut penelitian Purwasatria, kekuatan yang dibangun Sukanda kemudian berkembang menjadi Batalyon TKR Bandung Utara. Lembang menjadi salah satu basis pentingnya, dengan pertahanan yang tersebar hingga Cisarua, Cihideung, Cijengkol, dan kawasan Villa Isola.
Penempatan pasukan di sejumlah titik tersebut bukan tanpa alasan. Kawasan Bandung Utara memiliki posisi strategis untuk mengawasi pergerakan pasukan Sekutu sekaligus menjadi jalur menuju wilayah utara Bandung.
Dalam buku Risalah Perjuangan Kemerdekaan di Daerah Bandung Utara dan Karawang Timur dalam Perang Kemerdekaan Indonesia 1945–1949 karya Maman Sumantri, Lembang juga digambarkan sebagai bagian dari jaringan pertahanan dan perjuangan yang kemudian terhubung dengan wilayah Subang dan Karawang Timur.
Pertempuran di Sekitar Villa Isola
Salah satu titik penting dalam pertahanan Bandung Utara adalah Villa Isola. Bangunan yang kini dikenal sebagai bagian dari Universitas Pendidikan Indonesia tersebut pada masa revolusi memiliki fungsi strategis karena berada di jalur pertahanan menuju kawasan utara.
Pada 19 Desember 1945, terjadi pertempuran di sekitar Villa Isola antara pasukan Republik dan pasukan Sekutu. Dalam pertempuran tersebut, sejumlah pejuang gugur, di antaranya Kapten Abdul Hamid, Sersan Badjuri, Sersan Surip, dan Sersan Sodik.
Dalam penelitian mengenai perjuangan Bandung Utara, Purwasatria mencatat gugurnya para pejuang tersebut sebagai bagian dari rangkaian pertempuran yang terjadi ketika pasukan Republik berusaha mempertahankan kawasan utara Bandung.
Peristiwa tersebut juga meninggalkan jejak dalam penamaan sejumlah jalan di Bandung Utara yang menggunakan nama para pejuang tersebut.
Pertahanan Lembang Semakin Terdesak
Setelah berbagai pertempuran terjadi di garis pertahanan Bandung Utara, tekanan terhadap pasukan Republik semakin besar. Pasukan Sekutu memiliki kekuatan persenjataan yang lebih besar, termasuk dukungan kendaraan lapis baja dan pesawat.
Menurut uraian dalam Risalah Perjuangan Kemerdekaan di Daerah Bandung Utara dan Karawang Timur, tekanan tersebut akhirnya membuat pasukan Republik harus meninggalkan sejumlah posisi pertahanan di kawasan Lembang.
Lembang kemudian jatuh ke tangan Sekutu pada 10 Maret 1946.
Namun, mundurnya pasukan Republik bukan berarti perlawanan berakhir. Pasukan dari Bandung Utara bergerak menuju kawasan Cikareumbi, Cikidang, Maribaya, Cibodas, hingga wilayah Subang untuk membangun kembali kekuatan.
Dari Lembang Menuju Subang
Jatuhnya Lembang menjadi titik perubahan dalam strategi perjuangan. Pasukan Republik tidak lagi hanya mengandalkan pertahanan terbuka di satu wilayah, tetapi mulai membangun jaringan pertahanan yang lebih luas.
Seperti dicatat dalam penelitian Purwasatria, setelah meninggalkan Bandung Utara, kekuatan yang sebelumnya berada di bawah Sukanda Bratamanggala kemudian berkaitan dengan pembentukan Komandemen Pertahanan TRI Karawang Timur–Bandung Utara atau Kratibo.
Jaringan perjuangan tersebut menghubungkan kawasan Bandung Utara, Lembang, Ciater, Subang, hingga Karawang Timur. Dengan demikian, Lembang tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya pertempuran, tetapi juga menjadi bagian dari jalur pergerakan pasukan Republik setelah pertahanan di Bandung Utara semakin terdesak.
Perjuangan Tidak Hanya dengan Senjata
Perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Bandung Utara juga tidak hanya dilakukan melalui pertempuran.
Dalam penelitian Purwasatria, perjuangan di Bandung Utara digambarkan melalui dua jalur yang saling beriringan. Sukanda Bratamanggala merepresentasikan perjuangan melalui kekuatan militer, sementara Raden Mas Sewaka menjalankan perjuangan melalui jalur politik dan diplomasi.
Sewaka terlibat dalam proses perundingan pada masa revolusi, termasuk Perundingan Linggarjati dan Renville. Di sisi lain, pasukan Republik terus menghadapi kekuatan Sekutu dan Belanda di berbagai medan.
Keduanya menunjukkan bahwa mempertahankan kemerdekaan pada masa itu berlangsung melalui strategi yang beragam: pertempuran, pertahanan wilayah, diplomasi, hingga gerilya.
Lembang dalam Sejarah Revolusi Bandung Utara
Sejarah Lembang pada 1945–1948 memperlihatkan bahwa perjuangan kemerdekaan di Bandung tidak hanya berlangsung di pusat kota. Kawasan utara memiliki peran tersendiri sebagai basis pembentukan pasukan, garis pertahanan, medan pertempuran, sekaligus jalur pergerakan pasukan menuju wilayah Subang dan Karawang.
Lembang menjadi salah satu simpul penting dalam rangkaian tersebut. Karena itu, sejarah Lembang tidak hanya dapat dibaca melalui perkembangan kawasan wisata atau perkebunannya. Di balik lanskap pegunungan yang kini dikenal sebagai kawasan peristirahatan, terdapat jejak masa ketika Lembang menjadi salah satu garis depan perjuangan mempertahankan Republik di Bandung Utara.