Lonjakan Kasus Campak Kembali Mengancam Indonesia
INFO BANDUNG BARAT — Di tengah upaya global untuk mengeliminasi penyakit menular, Indonesia justru menghadapi lonjakan kasus campak. Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Januari 2026, Indonesia menempati peringkat kedua dunia dengan jumlah kasus campak terbanyak. Kondisi ini menjadi peringatan serius bagi sistem kesehatan nasional.
Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa hingga akhir Februari 2026 terdapat 8.224 kasus suspek campak di berbagai wilayah. Lonjakan ini menjadi ironi, mengingat campak merupakan penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi.
Peningkatan kasus tersebut berkaitan erat dengan menurunnya cakupan imunisasi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada tahun 2025 cakupan imunisasi campak pada balita hanya mencapai 63,52 persen, turun dari 72,45 persen pada tahun 2024. Penurunan ini dipicu oleh meningkatnya keraguan masyarakat terhadap vaksin. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa hoaks dan disinformasi di media sosial menjadi faktor utama, termasuk mitos yang mengaitkan vaksin dengan autisme, yang telah dibantah oleh berbagai penelitian ilmiah.
Padahal, vaksinasi terbukti efektif dalam menekan penyebaran dan dampak campak. Program imunisasi yang dilakukan secara konsisten mampu menurunkan angka kesakitan dan kematian secara signifikan. Pada tahun 1980, kematian akibat campak di Indonesia mencapai 59.000 jiwa, namun berhasil ditekan menjadi 1.690 jiwa pada tahun 2023 berkat program vaksinasi yang berkelanjutan.
Campak bukan sekadar penyakit ruam biasa. Penyakit ini disebabkan oleh virus Morbillivirus yang sangat menular melalui percikan air liur (droplet) saat penderita batuk atau bersin. Bahaya utama campak terletak pada komplikasi serius, terutama pada anak-anak dengan gizi buruk atau sistem imun yang lemah.
Komplikasi tersebut meliputi pneumonia atau radang paru-paru yang menjadi penyebab utama kematian, ensefalitis atau radang otak yang dapat menyebabkan kejang dan kerusakan otak permanen, serta diare berat hingga kebutaan akibat kerusakan kornea.
Upaya pencegahan paling efektif adalah meningkatkan kembali cakupan imunisasi. Perlindungan optimal dapat dicapai jika setiap anak mendapatkan imunisasi campak-rubela (MR) secara lengkap sesuai jadwal. Selain itu, peningkatan literasi kesehatan masyarakat juga sangat penting agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan.
Dengan kesadaran bersama dan langkah preventif yang tepat, penyebaran campak dapat dikendalikan sehingga generasi mendatang tetap terlindungi dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah ini.