38°C
03/02/2026
Budaya

Mengenal Pakeman Sunda, Seni Kiasan Unik dalam Idiom Sunda

  • Januari 19, 2026
  • 2 min read
Mengenal Pakeman Sunda, Seni Kiasan Unik dalam Idiom Sunda

INFO BANDUNG BARAT — Pernah mendengar orang Sunda menyebut sesuatu dengan ungkapan yang maknanya tidak bisa diterjemahkan secara harfiah? Dalam bahasa Sunda, ungkapan semacam ini dikenal sebagai pakeman basa atau idiom.

Disebut pakeman basa karena ungkapan tersebut merupakan ketentuan bahasa yang maknanya telah disepakati secara kolektif oleh penuturnya. Makna idiom tidak dapat ditafsirkan secara lepas kata per kata, sebab ia lahir dari pengalaman sosial dan budaya yang panjang hingga menjadi identitas linguistik yang tidak bisa diubah sembarangan.

Selain itu, idiom juga memiliki arti berupa pola struktur bahasa yang sudah mapan. Jika susunan katanya diubah, maknanya akan hilang atau menjadi rancu. Oleh karena itu, idiom memiliki kekhasan tersendiri yang membedakannya dari ungkapan biasa.

Salah satu bentuk idiom yang paling dekat dengan keseharian masyarakat Sunda adalah babasan. Babasan merupakan ungkapan yang digunakan untuk menggambarkan sifat, watak, atau keadaan seseorang secara kiasan. Meski singkat, ungkapan ini mampu memotret karakter seseorang dengan sangat tajam.

Misalnya, istilah amis budi. Secara harfiah berarti “manis budi”, tetapi maknanya merujuk pada orang yang tampak ramah dan baik di luar, namun menyimpan niat buruk di dalam. Ungkapan ini sering digunakan sebagai peringatan agar lebih waspada dalam bergaul.

Jika babasan berbicara soal karakter, maka paribasa (peribahasa) lebih sering digunakan untuk menyampaikan nasihat atau pelajaran hidup. Alih-alih berkata “jangan menyerah”, masyarakat Sunda kerap menggunakan ungkapan, “cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok.” Ungkapan ini mengajarkan bahwa usaha kecil yang dilakukan secara konsisten akan menghasilkan sesuatu yang bermakna.

Menggunakan idiom dalam percakapan bukan sekadar menunjukkan kekayaan kosakata, tetapi juga mencerminkan kecerdasan budaya. Melalui idiom, seseorang dapat menyampaikan kritik, nasihat, atau pujian dengan cara yang halus, tanpa melukai perasaan lawan bicara.***


Penulis: Anggie Baeduri Aulia R

Editor: Ayu Diah Nur’azizah

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *