38°C
10/10/2026
Sejarah

Menelusuri Jejak Sejarah Desa Bojong Pusat Pemerintahan Rongga yang Sarat Legenda

  • Juli 9, 2024
  • 4 min read
Menelusuri Jejak Sejarah Desa Bojong Pusat Pemerintahan Rongga yang Sarat Legenda

INFO BANDUNG BARAT — Berada di ketinggian antara 800 hingga 1500 meter di atas permukaan laut (mdpl), Desa Bojong saat ini memegang peran strategis sebagai ibu kota atau pusat pemerintahan Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Secara geografis, desa ini terletak sekitar 76 kilometer dari Ibu Kota Provinsi Jawa Barat (Kota Bandung) dan berkisar 62 hingga 75 kilometer dari Ibu Kota KBB (Kecamatan Ngamprah).

Di balik letak geografisnya yang berbukit, Desa Bojong menyimpan bentangan sejarah yang memikat. Mulai dari mitos penamaannya yang terkesan spontan, arus migrasi penduduk masa lalu, hingga peranan para bangsawan dalam membuka tatanan pemerintahan sejak era kolonial.

Asal-usul Nama dari Istilah Bobojong dan Misteri Pengelana

Berdasarkan catatan dari situs resmi pemerintah desa, hikayat penamaan Desa Bojong bermula dari kedatangan seorang pengelana misterius. Sang pengelana mengaku berjalan dari arah sarangèngè surup (matahari terbenam) dan telah menyeberangi Walungan Cisokan, sungai purba yang kini menjadi batas administratif alami antara KBB dan Kabupaten Cianjur di wilayah selatan.

Ketika singgah di pemukiman tersebut, sang pengelana bertanya mengenai nama daerah yang ia pijak. Warga setempat sempat kebingungan merespons karena wilayah mereka memang belum memiliki nama resmi. Spontan, seorang tokoh masyarakat setempat menyebut kata “bobojong” (tanah menonjol yang dikelilingi sungai atau kelokan sungai) untuk menjuluki wilayahnya.

Sejak peristiwa tersebut, kawasan ini mulai dikenal luas sebagai Desa Bobojong. Seiring bergulirnya waktu dan pergantian zaman, pelafalan masyarakat perlahan menyusut hingga akhirnya menetap menjadi Desa Bojong seperti yang dikenal hari ini.

Eksodus Penduduk dan Silsilah Trah Sukapura

Perkembangan Desa Bojong sebelum tahun 1850 ditandai dengan dinamika demografi yang unik. Di satu sisi, daya tarik desa ini memikat banyak pendatang untuk bermukim. Namun di sisi lain, terjadi gelombang eksodus besar-besaran oleh warga asli. Banyak masyarakat lokal memilih bermigrasi ke daerah sekitar seperti Cibitung, Sodong, Gununghalu, Celak, dan Cijenuk. Sebagian bahkan merantau lebih jauh ke Cililin, Batujajar, Cimahi, Cianjur, Garut, Bogor, Jakarta, hingga keluar Pulau Jawa.

Meskipun batas pasti kapan pemukiman ini pertama kali dibuka masih kabur, memori kolektif lokal berhasil merekam jejak pemimpin pertamanya. Berdasarkan penuturan Omo, Kepala Desa Bojong ke-11, figur perdana yang membuka wilayah ini adalah Raden Dalem Rangga, seorang bangsawan trah Kerajaan Sukapura, Tasikmalaya. Makam tokoh ini kini berada di Astana Nyungcung, yang masuk dalam wilayah Desa Sukamanah.

Konteks geopolitik masa lalu menunjukkan bahwa penempatan Raden Dalem Rangga di wilayah barat ini merupakan taktik pecah belah (devide et impera) pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Demi meredam potensi perlawanan trah Sukapura setelah suksesi takhta, Belanda sengaja memberikan daerah kekuasaan baru bagi Raden Rangga yang membentang luas dari Cililin (timur), Pagelaran (barat), Citarum-Rajamandala (utara), hingga Ciwidey (selatan). Taktik pengasingan ini dilakukan sebelum terbentuknya Kewedanaan Cililin agar kekuatan kerabat kerajaan Sukapura terberai dan mudah dikontrol.

Dari garis keturunan Raden Rangga inilah lahir para pemimpin masyhur di kemudian hari. Salah satunya adalah Raden Bratadirdja yang dijuluki Raden Lurah Bintang di daerah Pagelaran (Cianjur Selatan), serta saudara-saudaranya yaitu Raden Kartadirdja, Raden Kusumadirdja, dan Raden Martadirdja.

Menjadi Bagian Desa Tertua di Bandung Barat

Dugaan kuat mengenai waktu terbentuknya tatanan pemerintahan di Bojong merujuk pada masa kepemimpinan Bupati Bandung yang berpusat di wilayah Dalem Kaum. Pada era Raden Dalem Rangga, struktur sosial dan pemerintahan desa mulai tertata rapi di bawah kendali seorang pemimpin lokal yang dijuluki Raden Lurah Jangkung. Sejak mula pembukaannya, aspek keagamaan masyarakat Bojong sudah lekat dengan syiar Islam, yang tercermin dari keberadaan situs ‘Makam Patinggi’.

Memasuki tahun 1850-an, keberadaan Desa Bojong secara resmi mulai masuk dalam peta kearsipan dan administratif pemerintah kolonial Hindia Belanda. Kala itu, Bojong berstatus sebagai salah satu desa di bawah Kecamatan Gununghalu, Kewedanaan Cililin, dengan kepala desa resmi dijabat oleh Raden Lurah Haji Sulaeman.

Sebagai wilayah yang kaya akan potensi sumber daya alam, Desa Bojong tak luput dari eksploitasi dan penindasan kolonial. Merujuk pada rentang garis waktu yang panjang tersebut, Desa Bojong sah dikategorikan sebagai salah satu desa tertua di Kabupaten Bandung, yang kini setelah pemekaran, kokoh berdiri sebagai pusat penggerak Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat.

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *