38°C
30/06/2026
Sejarah

Mitos Rombongan Sangkuriang dan Jejak Folklor Batu Leon Gununghalu

  • Juni 30, 2026
  • 4 min read
Mitos Rombongan Sangkuriang dan Jejak Folklor Batu Leon Gununghalu

INFO BANDUNG BARAT — Di kawasan Kampung Cipayung, Desa Gununghalu, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat, terdapat sebuah situs geografi unik berupa gugusan batu besar yang dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Batu Leon. Formasi batuan masif tersebut tersebar di beberapa petak area persawahan warga dengan cakupan luas sekitar 50 meter persegi. Ukuran batu yang bertebaran pun sangat beragam, mulai dari dimensi sebesar mobil hingga bongkahan bulat yang menyerupai bola batu raksasa. Di balik panorama alam pegunungan tatar Pasundan yang sejuk, hamparan sawah hijau, dan aliran Sungai Cidadap, keberadaan situs ini menyimpan kekayaan cerita rakyat yang telah diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan masyarakat.

Berdasarkan penuturan lisan yang berkembang secara lokal, penamaan situs ini memiliki keterikatan semantik dengan fragmen mitologi besar tanah Pasundan, yaitu legenda Sangkuriang. Dalam versi epik yang hidup di tengah masyarakat Gununghalu, ketika Sangkuriang merasa optimistis mampu memenuhi syarat berat dari Dayang Sumbi untuk membendung aliran Sungai Citarum dalam waktu satu malam, ia mulai mempersiapkan seluruh keperluan upacara sakral pernikahan. Berbagai barang seserahan, hantaran adat, hingga maskawin mewah telah disiapkan jauh-jauh hari sebelum fajar menyingsing.

Menurut kepercayaan kolektif, seluruh barang hantaran pernikahan tersebut diangkut dan dipimpin oleh seekor kerbau jantan bertubuh kekar yang dinamai Leon. Kerbau tersebut bertindak sebagai penunjuk arah bagi seluruh rombongan pengantin menuju ke wilayah Karang Panganten di kawasan Citatah, tempat di mana pesta pernikahan antara Sangkuriang dan Dayang Sumbi direncanakan bakal berlangsung. Namun, Dayang Sumbi berhasil menggagalkan ambisi tersebut dengan memanipulasi bentang alam menggunakan hamparan kain tenun putih siber, sehingga memunculkan fajar semu yang membuat fajar tampak telah tiba lebih awal. Akibatnya, proyek pembendungan air tersebut gagal diselesaikan tepat waktu.

Masyarakat lokal memercayai bahwa rombongan pengantin yang dikomandani oleh kerbau Leon tersebut terkena imbas kutukan akibat kegagalan Sangkuriang sehingga tidak pernah sampai ke tempat tujuan. Seluruh iring-iringan pembawa hantaran konon seketika membatu di tengah jalan, di mana gugusan batu besar yang masih berdiri kokoh di tengah sawah saat ini dipercaya merupakan wujud jelmaan fisik dari rombongan purba tersebut. Dari latar belakang kisah tragis inilah, nama objek wisata alam tersebut melekat secara sosiologis dan terus dirawat oleh memori kolektif masyarakat Gununghalu hingga saat ini.

Nilai Penting Legenda Setempat sebagai Penjaga Identitas Kultural Sunda

Kendati belum terdapat kajian arkeologi maupun bukti dokumen kearsipan sejarah empiris yang mampu membuktikan kebenaran peristiwa mistis tersebut, eksistensi situs ini memegang nilai penting dari sudut pandang antropologi budaya. Dalam disiplin ilmu folklor, narasi mengenai asal-usul bentang alam ini diklasifikasikan ke dalam jenis legenda setempat (local legend), yaitu sebuah cerita rakyat yang berfungsi menjelaskan genealogi atau latar belakang terciptanya suatu formasi geografis tertentu. Berbeda dengan ilmu sejarah murni yang bertumpu pada bukti fisik autentik, sebuah legenda mampu bertahan hidup melalui transmisi tutur dari mulut ke mulut dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai fondasi identitas.

Ahli folklor terkemuka James Danandjaja dalam buku ilmiahnya yang berjudul Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-Lain memaparkan bahwa legenda setempat memegang fungsi krusial sebagai sarana bagi masyarakat tradisional untuk mengonstruksikan keberadaan suatu lokasi. Langkah ini sekaligus menjadi instrumen untuk menjaga ingatan kolektif komunitas terhadap dinamika ruang ekologis di sekeliling mereka. Oleh sebab itu, esensi dari sebuah legenda tidak boleh diukur dari aspek ilmiah atau pembuktian laboratorium semata, melainkan pada kapasitas kulturalnya dalam merekatkan hubungan batin antara masyarakat dengan tanah kelahiran mereka.

Pada era modern ini, situs batuan purba tersebut tidak hanya diposisikan sebagai destinasi wisata lokal yang eksotis bagi para pemburu foto, melainkan juga bertindak sebagai monumen pengingat bahwa lanskap alam sering kali menyimpan pesan moral yang diwariskan lintas zaman. Melalui pelestarian legenda semacam inilah, masyarakat pedesaan di Kabupaten Bandung Barat terbukti mampu membentengi warisan kebudayaan mereka dari gerusan zaman, sekaligus memperkenalkan kekayaan khazanah tradisi tutur Pasundan kepada kelompok generasi muda agar tidak kehilangan jati diri di tengah pesatnya perkembangan teknologi komunikasi.

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *