38°C
03/02/2026
Budaya

Munggahan: Meniti Jejak Spiritual dalam Tradisi Masyarakat Sunda

  • Januari 29, 2026
  • 3 min read
Munggahan: Meniti Jejak Spiritual dalam Tradisi Masyarakat Sunda

INFO BANDUNG BARAT — Setiap menjelang bulan suci Ramadan, masyarakat Sunda di Jawa Barat menjalankan sebuah ritual tahunan yang penuh kehangatan yang disebut Munggahan. Tradisi ini bukan sekadar ajang berkumpul, melainkan menyimpan nilai filosofis mendalam tentang peningkatan kualitas diri dan keharmonisan sosial yang berakar kuat dalam sejarah lokal.

Secara etimologis, kata munggahan berasal dari bahasa Sunda munggah atau unggah, yang berarti naik atau meningkat. Istilah unggah izin puasa nujul darajatna bermakna memasuki bulan Ramadan untuk mencapai derajat yang lebih tinggi. Penamaan ini merujuk pada transisi waktu, yakni “naik” dari bulan Syakban menuju bulan Ramadan yang dipandang lebih suci. Namun, makna “naik” juga mencerminkan perjalanan spiritual manusia dalam meningkatkan derajat kehidupannya.

Pada masa pra-modern, pola komunikasi paling vital di Tatar Sunda berlangsung melalui jalur sungai, di mana hampir semua permukiman berada di tepiannya. Perjalanan ini dikenal dengan istilah hulu (atas) dan hilir atau muara (bawah). Muara berarti turun atau merantau, sedangkan munggah berarti naik kembali ke ibu atau kampung halaman tempat lahir agar tidak melupakan asal-usul. Munggahan dimaknai sebagai perjalanan pulang, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara batin.

Sebuah paparan filosofis dalam jurnal Etnoreflika (2024) menjelaskan bahwa tradisi ini berawal dari dinamika komunikasi antara dua kelompok masyarakat dengan peran berbeda. Kelompok pertama adalah warga hinggil (daerah atas atau hulu), yakni generasi awal yang menetap di tempat asal. Mereka berperan menjaga orisinalitas budaya leluhur dan dipercaya mampu berkomunikasi langsung dengan Tuhan serta arwah leluhur. Kelompok kedua adalah warga handap (daerah bawah atau hilir), yaitu anak bungsu atau kerabat yang merantau ke luar daerah. Warga handap berperan dalam pengembangan ekonomi, lingkungan sosial, dan politik di luar kampung halaman.

Pertemuan sakral antara kedua kelompok ini terjadi pada Bulan Ruwah (Syakban), waktu yang diyakini sebagai momen berkumpulnya arwah leluhur. Pada masa itu, warga handap dianggap tidak layak melakukan komunikasi langsung dengan Yang Maha Kuasa sehingga warga hinggil bertindak sebagai perantara. Ritual munggahan menjadi ajang pertemuan sakral antara warga daerah atas dan bawah, di mana doa bersama dipanjatkan untuk para leluhur.

Ketika Islam masuk, tradisi ini mengalami akulturasi budaya yang harmonis. Esensi penyucian diri dan silaturahmi disesuaikan dengan ajaran Islam sehingga menjadi bagian dari tradisi menyambut bulan suci. Kini, Munggahan biasanya dilaksanakan satu atau dua hari sebelum puasa dimulai. Kegiatan utamanya meliputi silaturahmi untuk saling memaafkan, ziarah kubur (nyekar) untuk mendoakan leluhur, serta makan bersama (botram) yang melambangkan rasa syukur dan semangat berbagi.

Pada akhirnya, Munggahan menjadi bukti hidup bahwa agama dan budaya dapat berjalan beriringan. Tradisi ini berfungsi sebagai persiapan mental, fisik, dan sosial sebelum menjalani “madrasah” Ramadan selama satu bulan penuh. Bagi masyarakat Sunda, Munggahan bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari cara hidup yang menjaga kerukunan lintas generasi sejak dahulu kala.***

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *