Nyawa di Bawah Gunungan Sampah dan Sisi Kemanusiaan yang Terlupakan di Sarimukti
INFO BANDUNG BARAT — Tumpukan sampah setinggi 10 meter di TPPAS Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat, bukan sekadar krisis ekologis atau kelumpuhan tata kelola ruang. Di balik angka dan polemik kapasitas lahan, terdapat krisis kemanusiaan yang berlangsung dalam senyap. Setiap hari, puluhan sopir truk pengangkut sampah mempertaruhkan nyawa, bekerja di bawah ancaman longsoran limbah demi membersihkan sisa konsumsi masyarakat.
Teror Psikologis di Area Pijakan
Bagi warga kota, urusan sampah selesai ketika kantong plastik diangkut dari depan rumah. Namun bagi para sopir, hal itu adalah awal dari pertaruhan keselamatan. Kabin truk bukan sekadar tempat mengemudi, melainkan saksi bisu kecemasan mereka setiap hari. Sopir seperti Andi, pemuda 30 tahun asal Majalaya, dan Asep yang telah berusia 59 tahun, terus dihantui ketakutan saat harus mengantre diapit tebing sampah. Pemandangan tumpukan setinggi bangunan tiga lantai itu menciptakan teror psikologis yang tidak bisa mereka abaikan begitu saja.
Ancaman maut ini semakin nyata ketika curah hujan tinggi mengguyur kawasan tersebut. Gunungan limbah basah menjadi sangat labil, membuat para pekerja sadar penuh bahwa tebing tersebut sewaktu-waktu bisa runtuh dan mengubur kendaraan mereka. Tanpa protokol keselamatan yang menjamin nyawa, para sopir terpaksa menciptakan sistem keamanan mandiri menggunakan insting bertahan hidup. Dedi, sopir asal Soreang, menuturkan bahwa mereka secara sadar menjaga jarak renggang antar-kendaraan saat mengantre. Celah darurat ini sengaja disiapkan semata-mata untuk menciptakan ruang pelarian bermanuver jika tebing sampah tiba-tiba ambrol.
Hak atas Ruang Kerja yang Aman
Kondisi yang terjadi di Sarimukti adalah cerminan pengabaian hak asasi paling dasar bagi pekerja, yakni hak untuk merasa aman di tempat kerja. Sistem bongkar muat memaksa mereka berada di posisi yang sangat rentan setiap harinya. Sopir yang bertugas di bagian bawah harus selalu waspada terhadap material yang bisa runtuh sewaktu-waktu, sementara mereka yang membuang di area puncak harus mempertaruhkan nyawa bermanuver di atas permukaan sampah yang rawan amblas. Mereka terus terekspos bahaya fisik, mekanis, hingga biologis tanpa perlindungan yang sepadan.
Persoalan Sarimukti sejatinya memiliki wajah manusia. Para pahlawan kebersihan ini tidak sengaja datang ke kawasan pembuangan untuk menantang maut; mereka hadir karena sistem menuntut mereka memindahkan masalah yang kita ciptakan bersama. Sampah yang dihasilkan masyarakat mungkin berhenti dan membusuk di Sarimukti, tetapi beban kemanusiaannya dipikul penuh oleh para sopir. Di balik kemudi setiap truk yang melintas, ada manusia biasa dengan satu harapan paling mendasar, yaitu menyelesaikan pekerjaannya dan pulang ke pelukan keluarga dengan selamat.