38°C
06/02/2026
Budaya

Pancacuriga: Lima Jalan Kearifan Sunda dalam Menafsirkan Makna Tersirat

  • Agustus 21, 2025
  • 2 min read
Pancacuriga: Lima Jalan Kearifan Sunda dalam Menafsirkan Makna Tersirat

INFO BANDUNG BARAT–Pancacuriga merupakan salah satu konsep penting dalam khazanah budaya Sunda. Ia bukan sekadar istilah, melainkan cara pandang masyarakat Sunda dalam memahami ajaran, pitutur, atau nilai yang diwariskan oleh karuhun (leluhur). Pancacuriga berfungsi sebagai jembatan untuk menyingkap pesan tersirat yang tidak selalu disampaikan secara langsung, tetapi lewat tanda, rasa, dan simbol.

Apa Itu Pancacuriga?

Pancacuriga adalah ilmu tafsir tradisional Sunda yang digunakan untuk memahami ajaran leluhur melalui cara-cara tidak langsung. Dalam budaya Sunda, pesan moral, petuah, atau nasihat sering kali disampaikan melalui cerita, dongeng, pupuh, atau kiasan. Agar pesan tersebut tidak hanya berhenti pada teks lahiriah, maka diperlukan Pancacuriga sebagai metode penafsiran.

Lima Jalan dalam Pancacuriga

Ada lima jalan utama yang menjadi inti dari Pancacuriga, yaitu:

  1. Sindir: Cara menyampaikan maksud melalui sindiran halus. Biasanya digunakan untuk menegur tanpa harus menyinggung langsung.
  2. Silib: Pesan yang disampaikan dengan membandingkan sesuatu. Silib sering muncul dalam bentuk perumpamaan.
  3. Siloka: Makna yang dibungkus dalam simbol atau kiasan mendalam. Biasanya digunakan dalam karya sastra atau ungkapan filosofis.
  4. Simbul: Tanda-tanda yang mewakili suatu makna tertentu. Simbul sering dipakai dalam ritual, lambang, atau tradisi.
  5. Sasmita: Isyarat atau tanda samar yang hanya bisa dipahami dengan kepekaan rasa dan batin.

Dengan kelima jalan ini, pesan leluhur bisa ditafsirkan bukan hanya lewat kata-kata, melainkan juga melalui rasa, tanda, dan pengalaman hidup.

Pancacuriga dalam Kehidupan Masyarakat Sunda

Konsep Pancacuriga mencerminkan kecerdasan budaya Sunda dalam menjaga nilai-nilai moral. Ia mengajarkan bahwa tidak semua hal harus diucapkan secara gamblang, melainkan ada yang lebih dalam, tersembunyi, dan hanya bisa dipahami dengan kepekaan hati.

Sebagai contoh, dalam pantun Sunda atau wawacan, sering kali terdapat pesan moral yang tersirat. Anak-anak diajarkan untuk menangkap makna tidak hanya dari bunyi kata, tetapi juga dari simbol dan isyarat yang tersimpan di baliknya.

Relevansi Pancacuriga di Era Modern

Meskipun lahir dari budaya tradisional, Pancacuriga tetap relevan di era modern. Di tengah derasnya arus informasi yang serba cepat, Pancacuriga mengingatkan kita untuk tidak hanya menerima pesan secara literal, tetapi juga menafsirkan konteks, simbol, dan rasa yang terkandung di dalamnya.

Lebih dari itu, Pancacuriga menjadi warisan budaya yang dapat memperkaya cara kita memahami dunia, baik dalam ranah sastra, pendidikan, maupun kehidupan sehari-hari.***

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *