INFO BANDUNG BARAT — Film Pangku hadir sebagai pengingat bahwa ada kelompok dalam masyarakat yang bekerja keras setiap hari, tetapi tetap tidak dianggap sebagai bagian dari “ekonomi resmi.” Mereka adalah kelompok marjinal, yaitu orang-orang yang hidup di persimpangan antara kebutuhan dan keterpaksaan. Melalui kisah Tika dan kehidupan warung kopi Pantura, film ini menyingkap lapisan-lapisan sosial yang jarang kita perhatikan, meski sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Di awal film, kita dikenalkan pada Tika, seorang perempuan yang sedang hamil besar dan terpaksa meninggalkan kampungnya di tengah krisis moneter. Kehadirannya menggambarkan sebuah kenyataan, banyak perempuan yang terdorong ke luar arus utama ekonomi bukan karena malas, tetapi karena tidak adanya akses terhadap pekerjaan yang layak. Dalam istilah kajian sosial, mereka adalah bagian dari kelompok yang ter-eksklusi secara struktural, kelompok yang tersisih bukan oleh pilihan pribadi, tetapi oleh sistem yang tidak menyediakan ruang bagi mereka.
Warung kopi Bu Maya, tempat Tika kemudian bekerja, bukan sekadar ruang usaha. Ia adalah ruang yang tumbuh dari ketiadaan akses terhadap pekerjaan formal di pesisir pantai utara Jawa. Ketika negara gagal menciptakan lapangan kerja yang inklusif, ekonomi alternatif berkembang, dan di dalam ruang itulah kelompok marjinal bertahan hidup. Warung kopi Pantura menjadi gambaran bagaimana masyarakat menciptakan mekanisme bertahan mereka sendiri ketika sistem formal tak lagi mampu melindungi.
Film ini juga memperlihatkan jalur Pantura sebagai paradoks besar. Jalur itu adalah urat nadi logistik nasional, tetapi masyarakat yang hidup di sepanjangnya belum menikmati kemakmuran. Semakin besar arus perdagangan, semakin besar pula ruang bagi pekerjaan informal dengan kerentanan tinggi. Dalam konteks ini, Pangku menjadi cermin yang memantulkan kenyataan, bahwa infrastruktur besar tidak selalu berarti kesejahteraan bagi masyarakat sekitar.
Latar krisis moneter yang menjadi fondasi cerita semakin menegaskan bahwa guncangan ekonomi selalu menghantam kelompok terbawah paling keras. Mereka yang tidak memiliki tabungan, modal, atau koneksi terpaksa bergeser ke sektor informal yang rentan. Tika adalah representasi dari kelompok itu, kelompok perempuan yang memiliki kemampuan tetapi tidak memiliki akses. Ia ingin berjualan mie ayam, ia tahu caranya, tetapi keinginannya tertahan oleh ketiadaan modal. Dalam studi kemiskinan, kondisi ini disebut sebagai kemiskinan struktural atau kemiskinan yang dipertahankan oleh sistem, bukan oleh individu.
Melalui film ini, kita juga melihat bagaimana patriarki dan kelas sosial bertemu dan saling memperkuat. Perempuan di Pantura dua kali tersisih, sekali karena kemiskinan, sekali lagi karena stigma moral. Mereka dianggap “bukan perempuan baik-baik,” bahkan sebelum orang mengetahui kisah mereka. Pangku dengan lembut menggambarkan bagaimana stigma ini bukan hanya menciptakan jarak sosial, tetapi juga menghalangi mereka mengakses pekerjaan yang lebih aman dan lebih layak.
Namun yang paling kuat dari film Pangku adalah caranya memperlihatkan bahwa kelompok marjinal bukan tidak bekerja, mereka bekerja keras, tetapi negara tidak mengakui pekerjaan mereka sebagai bagian dari perekonomian formal. Mereka menjaga denyut ekonomi kecil di jalur Pantura, tetapi tidak mendapatkan perlindungan hukum, jaminan sosial, atau penghargaan yang seharusnya diberikan kepada pekerja.
Pada akhirnya, Pangku bukan film tentang dosa, bukan film tentang sensasi tubuh, dan bukan pula film tentang pilihan moral. Ia adalah film tentang mereka yang berada di pinggir, tentang manusia yang hidup di ruang-ruang yang tidak ingin kita lihat, tetapi nyatanya menopang sebagian aktivitas ekonomi di sekitar kita. Film ini mengajak penonton untuk mengubah cara pandang, dari melihat pekerjaan mereka sebagai “tabu,” menjadi melihatnya sebagai bentuk perjuangan dalam sistem yang tidak menyediakan pilihan lain.***
Penulis & Editor : Ayu Diah Nur’azizah