Papajar: Tradisi Sunda Menyambut Ramadan Sejak Abad ke-16
INFO BANDUNG BARAT — Bagi masyarakat di wilayah Jawa Barat, datangnya bulan suci Ramadan selalu disambut dengan sebuah tradisi khas yang kaya makna bernama Papajar. Tradisi warisan budaya ini telah berlangsung selama berabad-abad dan menjadi simbol kegembiraan serta sarana mempererat silaturahmi sebelum memasuki masa ibadah puasa selama sebulan penuh.
Secara etimologis, Papajar berasal dari frasa bahasa Sunda mapag pajar, yang berarti “menyambut fajar”. Jika fajar diibaratkan sebagai terbitnya matahari, maka Papajar melambangkan kesiapan batin masyarakat dalam menyambut “terbitnya” bulan Ramadan.
Sejarah mencatat bahwa tradisi ini telah ada sejak abad ke-16 di Tatar Sunda. Pada masa-masa awal, kegiatan utamanya adalah berkumpul di masjid-masjid setempat. Pada era kepemimpinan Wiratanudatar II (Dalem Tarikolot) sekitar tahun 1691–1707, masyarakat Cianjur berkumpul di Masjid Agung Cianjur untuk menantikan keputusan ulama atau kiai mengenai dimulainya ibadah puasa. Pengumuman disampaikan melalui doa bersama, dan masyarakat membawa bekal makanan dari rumah untuk disantap bersama sebelum pengumuman dimulai.
Karena keterbatasan informasi pada masa itu, warga dari daerah pinggiran seperti Cugenang, Warungkondang, dan wilayah sekitarnya datang ke alun-alun depan Masjid Agung Cianjur untuk mendengarkan penetapan awal Ramadan. Setelah pengumuman disampaikan oleh Penghulu Masjid Agung, mereka kembali ke rumah masing-masing dan keesokan harinya memulai ibadah puasa. Makna mendasar tradisi ini adalah memohon doa, saling meminta maaf, serta mengekspresikan rasa syukur dan kegembiraan atas datangnya bulan suci.
Tradisi Papajar terus berevolusi seiring perkembangan zaman. Tradisi ini berkembang dengan kegiatan ziarah ke makam keluarga dan piknik bersama ke tempat-tempat tertentu. Pada era kepemimpinan Wiratanudatar III sekitar tahun 1724, kebiasaan ini semakin menyebar luas ke berbagai wilayah, termasuk sebagian Bogor dan pesisir selatan Jawa Barat.
Seiring berjalannya waktu, fungsi Papajar sebagai sumber informasi awal Ramadan mulai memudar akibat kemajuan teknologi. Namun, tradisi ini tidak lantas hilang, melainkan bertransformasi menjadi kegiatan sosial yang lebih meriah. Pada dekade 1980-an, Papajar kembali populer dengan penekanan pada aspek rekreasi.
Hingga kini, Papajar tetap lestari dan menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Sunda dalam menyambut Ramadan. Tradisi ini biasanya dilaksanakan setelah pertengahan bulan Syakban, atau yang paling umum satu hingga dua minggu sebelum puasa dimulai.
Papajar mengajarkan pentingnya kebersamaan, saling memaafkan, serta mempersiapkan diri, baik secara spiritual maupun sosial, untuk menjalankan ibadah puasa dengan hati yang bersih dan penuh suka cita.***
Penulis: Anggie Baeduri Aulia R
Editor: Ayu Diah Nur’azizah