38°C
10/03/2026
Sejarah

Perkebunan Teh Panglejar, Jejak Kolonial, Kebakaran Besar, dan Warisan yang Mulai Memudar

  • Desember 2, 2025
  • 2 min read
Perkebunan Teh Panglejar, Jejak Kolonial, Kebakaran Besar, dan Warisan yang Mulai Memudar

INFO BANDUNG BARAT — Perkebunan Teh Panglejar di Cikalongwetan, Bandung Barat, merupakan salah satu kawasan perkebunan tua yang menyimpan jejak panjang sejarah industri teh di Priangan. Mengutip dari Merdeka.com, kawasan ini sudah berkembang sebagai perkebunan besar sejak masa kolonial, lengkap dengan pabrik pengolahan, rumah administratur, gudang, dan barisan bedeng untuk para pekerja teh.

Salah satu bangunan paling ikonik adalah gedung bertuliskan “Panglejar 1925”. Dalam laporan Pikiran-Rakyat.com, gedung tersebut merupakan pabrik baru yang dibangun setelah kebakaran besar melanda Panglejar pada era penjajahan Belanda. Prasasti di pintu masuk gedung mencatat bahwa peletakan batu pertama dilakukan oleh Marianne Jeannete van Hillegondsberg pada 24 Maret 1925, momen yang menandai kebangkitan industri teh di kawasan ini setelah kerusakan berat akibat kebakaran.

Selain pabrik utama, kehidupan sosial di Panglejar juga terbentuk dari keberadaan bedeng-bedeng pekerja. Dalam liputan Pikiran-Rakyat.com lainnya, bedeng-bedeng ini dulu menjadi pusat kehidupan komunitas, tempat keluarga tumbuh, tradisi dibangun, dan hubungan antarpekerja terjalin. Pada era 1980–2000-an, menurut kesaksian para mantan pekerja yang diwawancarai DeskJabar, Panglejar pernah mencapai masa kejayaannya. Produksi teh stabil, fasilitas pekerja masih terawat, dan kehidupan keseharian berjalan ramai.

Namun seiring waktu, kondisi itu berbalik. Mengutip laporan lanjutan dari Pikiran-Rakyat.com, banyak bangunan lama kini mengalami kerusakan, ambruk, atau ditinggalkan. Bedeng yang dulu penuh aktivitas kini menyusut, sebagian kosong, sebagian rusak berat, dan sebagian hanya dihuni beberapa keluarga yang masih bertahan. Panglejar berubah dari kawasan produktif menjadi ruang sunyi yang menyisakan fragmen-fragmen sejarah.

Penelitian arkeologi dalam jurnal Panalungtik menegaskan bahwa bangunan pabrik 1925, prasasti, peta lama perkebunan, dan hunian pekerja merupakan artefak penting dalam memahami sejarah perkebunan di Priangan. Struktur-struktur ini tidak hanya berbicara tentang proses produksi teh, tetapi juga mengenai dinamika tenaga kerja, mobilitas sosial, serta kehidupan komunitas dari masa kolonial hingga pascakolonial.

Dalam konteks yang lebih luas, buku Sejarah Perkebunan di Priangan menjelaskan bahwa perkebunan teh seperti Panglejar menjadi salah satu pusat transformasi ekonomi dan sosial di Jawa Barat. Perkebunan menjadi ruang bercampurnya kebijakan kolonial, kerja keras para buruh, serta proses panjang pembentukan komunitas lokal.

Kini, jejak tersebut semakin memudar. Banyak bangunan hilang ditelan waktu, tertutup semak, atau rusak tanpa perawatan. Namun setiap dinding tua dan sisa struktur yang masih berdiri di Panglejar menyimpan cerita penting tentang masa lampau.***


Penulis & Editor: Ayu Diah Nur’azizah

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *