38°C
28/04/2026
Sejarah

Cililin Kota Santri: Jejak Dakwah Syekh Maulana Muhammad Syafei di Bandung Barat Selatan

  • Desember 2, 2025
  • 3 min read
Cililin Kota Santri: Jejak Dakwah Syekh Maulana Muhammad Syafei di Bandung Barat Selatan

INFO BANDUNG BARAT — Wilayah selatan Kabupaten Bandung Barat yang meliputi Cihampelas, Cililin, Cipongkor, Sindangkerta, Gununghalu hingga Rongga, telah lama dikenal sebagai Kota Santri. Julukan ini tidak dapat dilepaskan dari peran besar tokoh penyebar Islam, Syekh Maulana Muhammad Syafei, yang masyhur dengan sebutan Eyang Dalem Cijenuk atau Pangeran Raja Atas Angin. Beliau adalah figur sentral penyebaran Islam di kawasan ini, dan hingga kini, istilah “Cililin Kota Santri” menjadi identitas budaya yang kuat.

Nama Cililin yang kini kita kenal sebagai kecamatan sebenarnya memiliki cakupan sejarah yang jauh lebih luas. Dahulu, Cililin merupakan sebuah kewedanaan yang wilayahnya membentang hingga Cihampelas, Sindangkerta, Cipongkor, Gununghalu dan sekitarnya. Tidak heran masyarakat dari daerah tersebut, meski kini memiliki kecamatan sendiri, tetap menyebut asal-usul mereka sebagai “Cililin”.

Menurut Drs. Said Raksakusumah, Ketua Jurusan Sejarah FKIS IKIP Bandung tahun 1986, nama Cililin berasal dari istilah Belanda “Uit Tuin Lijn Weg” atau disingkat “Elina” yang merujuk pada pembangunan jalur perkebunan kopi pada 1940–1950. Karena sulit dilafalkan masyarakat Sunda, istilah itu berubah menjadi Clilin, lalu berkembang menjadi Cililin seperti sekarang.

Sejak dulu, kawasan selatan Bandung Barat menjadi pusat perkembangan pesantren. Data Kementerian Agama Jawa Barat mencatat lebih dari 450 pesantren di Bandung Barat, dan sebagian besar berada di wilayah selatan. Inilah yang mengukuhkan Cililin sebagai Kota Santri.

Perjalanan dakwah Syekh Maulana Muhammad Syafei dimulai dari wilayah yang kini dikenal sebagai Sindangkerta. Nama ini berasal dari kata sindang (berhenti) dan kerta (nyaman/aman), merujuk pada tempat persinggahan beliau untuk mengajarkan Islam. Dari sana, beliau bergerak ke utara menuju sebuah kampung yang diberi nama Panaruban, yang berasal dari kata takharub (mendekatkan diri kepada Tuhan).

Di kampung tersebut, aktivitas dzikir yang menggema disebut masyarakat sebagai ngagerendung, sehingga Panaruban lama-kelamaan disebut Garendung. Kata ini kemungkinan berasal dari gerendeng, yang berarti “suara halus”.

Kampung Gerendung semakin ramai didatangi santri. Perkumpulan para santri atau batur jenuk balarea melahirkan nama Cijenuk dari kata jenuk (berkumpul). Di sinilah Syekh Maulana Muhammad Syafei mendirikan pesantren sederhana yang menjadi pusat penyebaran Islam di wilayah selatan Bandung Barat.

Pertumbuhan pesantren Cijenuk juga dipengaruhi tradisi Maulid Nabi yang meriah. Penduduk dari utara membawa berbagai makanan, terutama kue basah. Karena banyaknya pembuat kue, kampung tersebut lalu dikenal sebagai Citalem (talem berarti wadah kue basah), yang kini menjadi desa di Kecamatan Cipongkor.

Pada masa itu, masyarakat belum menggunakan peralatan makan modern. Air minum, sayur, hingga tuak enau dibawa menggunakan katung, yaitu lodong pendek dari bambu. Katung berukuran lebih kecil disebut mangkok atau bekong. Kampung penghasil katung ini kemudian dikenal sebagai Cipongkor, berasal dari kata pongkor, yang berarti lodong pendek. Kini, Cipongkor menjadi nama kecamatan resmi di Bandung Barat.***


Penulis: Anggie Baeduri Aulia R

Editor: Ayu Diah Nur’azizah

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *