Pesantren Sukamanah Cibitung: Warisan Keilmuan Tertua di Bandung Barat
INFO BANDUNG BARAT — Pesantren Sukamanah Cibitung merupakan salah satu pesantren tertua di Bandung Barat yang menyimpan nilai sejarah penting dalam perkembangan pendidikan Islam. Sejak masa awal berdirinya, pesantren ini telah menjadi pusat lahirnya para ulama dan tokoh agama berpengaruh di wilayah Bandung Barat.
Pesantren ini didirikan oleh KH. Muhammad Ilyas, dikenal sebagai Mama Cibitung pada 1908. Lokasinya berada di Kampung Sukamanah, RT 02/RW 04, Desa Cibitung, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat. Hingga kini, Pesantren Sukamanah tetap mempertahankan tradisi pendidikan Islam salafiyah.
Pengawasan Pendidikan Islam pada Masa Kolonial
Dalam proses pendiriannya, Mama Haji Ilyas memperoleh legalitas resmi dari pemerintah Hindia Belanda pada 1908. Legalitas tersebut berupa surat paidin atau surat izin yang dikeluarkan Belanda pada 8 Mei 1908.
Surat tersebut bukan hanya izin penyelenggaraan pendidikan, tetapi juga berisi batasan mengenai kitab-kitab yang boleh diajarkan. Dokumen ini menjadi bukti otentik berdirinya pesantren, sekaligus menunjukkan ketatnya pengawasan pemerintah kolonial terhadap pendidikan Islam pada masa itu.
Menurut penelitian Faisal Mubarak dalam “Perkembangan Kebijakan Pendidikan Islam Indonesia”, pemerintah Hindia Belanda sejak 1882 membentuk badan pengawasan khusus untuk memantau lembaga pendidikan Islam, terutama pesantren. Dari nasihat badan tersebut lahirlah Ordonansi Guru I tahun 1905, bagian dari rekomendasi Snouck Hurgronje, yang mewajibkan guru agama memperoleh izin mengajar serta membatasi kitab yang boleh dikaji.
Metode Pembelajaran Tradisional yang Melahirkan Ulama
Pesantren Sukamanah Cibitung menerapkan metode pembelajaran tradisional seperti sorogan, halaqah, dan bandungan. Kitab yang dikaji merupakan kitab-kitab klasik. Meskipun pesantren memperoleh izin, surat kolonial tersebut menetapkan kitab yang diperbolehkan, seperti Kitab Sapinah, Tijan, dan Taqrib. Di luar itu, pengajarannya dilarang.
Hingga kini, metode salafiyah masih dipertahankan. Menurut H. M. Dede Rizaludin, metode tradisional ini diyakini menjadi salah satu faktor yang membuat pesantren tetap bertahan hingga sekarang.
Masyarakat sekitar percaya bahwa siapa pun yang ingin menjadi ustaz atau ulama harus menuntut ilmu di Pesantren Sukamanah Cibitung. Keyakinan ini bukan tanpa alasan. Sejak berdiri, pesantren ini telah melahirkan banyak kader ulama dan tokoh agama yang kemudian mengabdi di berbagai wilayah.
Banyak alumni Pesantren Sukamanah mendirikan pesantren baru sebagai bentuk dakwah, di antaranya:
- KH. Ahmad Dimyati (Mama Mafazah), salah satu murid terdekat Mama Cibitung. Setelah menimba ilmu, beliau kembali ke Pasirpogor Sindangkerta dan diarahkan untuk membuka pengajian serta mendirikan pesantren.
- KH. Ahmad Syubani bin Husen (Mama Gelar), Pendiri Pondok Pesantren Gelar Cianjur. Beliau merupakan alumni yang berperan besar dalam pengembangan pendidikan Islam di wilayahnya.
- KH. Asep Burhanudin, Masih keturunan Mama Haji Ilyas. Beliau mendirikan Pondok Pesantren Darul Falah Cihampelas yang kini berkembang menjadi yayasan pendidikan Islam hingga jenjang SMP, SMA, dan STAI.
Selain mereka, masih banyak alumni lain yang menjadi pemuka agama dan mendirikan pesantren sebagai kontribusi terhadap pendidikan Islam di Bandung Barat.***
Penulis: Anggie Baeduri Aulia R
Editor: Ayu Diah Nur’azizah