Pesona Desa Wisata Mukapayung di Balik Bebatuan Breksi dan Legenda Lokal
INFO BANDUNG BARAT — Kabupaten Bandung Barat menyimpan sebuah desa wisata yang menawarkan keindahan alam sekaligus warisan geologi yang unik, yakni Desa Wisata Mukapayung di Kecamatan Cililin. Kawasan ini tidak hanya memanjakan mata dengan panorama alam yang eksotis, tetapi juga menyimpan kekayaan sejarah serta legenda yang masih hidup di tengah masyarakat.
Salah satu daya tarik utama Desa Mukapayung berada di kawasan Lembah Curugan yang didominasi oleh batuan breksi. Batuan ini diperkirakan berasal dari zaman Pliosen, sekitar 2–5 juta tahun lalu. Hampir seluruh wilayah lembah memiliki kontur terjal dan bertebing, membentuk lanskap dramatis yang jarang ditemui di daerah lain. Bongkahan batu berukuran besar yang runtuh dari dinding tebing breksi semakin mempertegas karakter alam kawasan ini.
Berdasarkan pemaparan dalam laman resmi Pemerintah Desa Mukapayung, nama Mukapayung memiliki makna filosofis yang mendalam. Kata muka berarti terbuka, berkembang, atau membangun, sedangkan payung dimaknai sebagai memayungi, mengayomi, dan membina. Melalui penamaan tersebut, Desa Mukapayung diharapkan terus berkembang serta mampu memberikan perlindungan dan kesejahteraan bagi masyarakatnya.
Secara historis, Desa Mukapayung merupakan hasil pemekaran dari Desa Rancapanggung. Nama Mukapayung diambil dari salah satu situs dan legenda yang telah lama dikenal oleh masyarakat setempat. Hingga kini, situs-situs tersebut masih menjadi bagian penting dari identitas desa dan tersebar di sejumlah dusun dengan karakteristik batuan breksi yang khas.
Salah satu situs yang dikenal masyarakat adalah Situs Arca Dipati Ukur yang terletak di Gunung Lumbung, Dusun III Lembang. Situs ini dikaitkan dengan tokoh Dipati Ukur yang hidup dalam sejarah dan legenda masyarakat Sunda. Keberadaan arca di puncak gunung tersebut menjadi saksi bisu perjalanan sejarah dan memiliki nilai budaya yang kuat.
Di Dusun I Kampung Cibitung terdapat Situs Munding Jalu atau Mundinglaya. Situs ini dikenal dengan formasi batu breksi yang menyerupai kerbau (munding) dan berkaitan erat dengan legenda asal-usul Desa Mukapayung. Nilai mitologi lokal yang melekat menjadikan situs ini memiliki makna khusus bagi masyarakat setempat.
Situs Batu Payung yang berada di Gunung Mukapayung, Dusun I, menjadi salah satu ikon desa. Bentuk batu breksi yang menyerupai payung raksasa menjadikan situs ini tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga sarat makna simbolis sebagai lambang perlindungan dan pengayoman, sejalan dengan filosofi nama Mukapayung.
Tak jauh dari lokasi tersebut, masih di Dusun I, terdapat Situs Gunung Putri. Situs ini dikenal dengan susunan bebatuan breksi yang membentuk siluet menyerupai sosok perempuan. Keberadaannya dikaitkan dengan legenda tentang seorang putri yang dipercaya menjaga kawasan tersebut, sehingga hingga kini situs ini masih dihormati dan dijaga kelestariannya oleh warga.
Situs lainnya adalah Kasep Roke atau yang juga dikenal sebagai Nakhoda, terletak di Dusun IV Cikoneng. Situs ini dikaitkan dengan kisah perjalanan dan kepemimpinan, tercermin dari susunan batu breksi yang menyerupai simbol seorang nakhoda. Keberadaan situs ini semakin memperkaya narasi sejarah dan budaya Desa Mukapayung.
Dengan perpaduan antara keindahan alam, warisan geologi purba, serta legenda yang hidup di tengah masyarakat, Desa Wisata Mukapayung memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata edukatif dan berbasis budaya.***
Penulis: Anggie Baeduri Aulia R
Editor: Ayu Diah Nur’azizah