38°C
03/02/2026
Sejarah

Sejak 1994, Paprika Tumbuh dan Mengubah Wajah Pertanian Desa Pasirlangu di Bandung Barat

  • Januari 27, 2026
  • 2 min read
Sejak 1994, Paprika Tumbuh dan Mengubah Wajah Pertanian Desa Pasirlangu di Bandung Barat

INFO BANDUNG BARAT — Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, dikenal sebagai salah satu sentra paprika dataran tinggi di Jawa Barat. Budidaya paprika di desa ini mulai berkembang sejak 1994, seiring diperkenalkannya komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi tersebut ke Indonesia. Sejak saat itu, paprika perlahan menjadi bagian penting dari perubahan pola pertanian masyarakat Pasirlangu.

Paprika bukan tanaman asli Indonesia. Tanaman ini berasal dari Amerika Tengah dan Selatan, kemudian dikembangkan secara luas di Eropa sebelum akhirnya masuk ke Indonesia pada awal dekade 1990-an. Komoditas ini diperkenalkan sebagai alternatif pertanian dataran tinggi yang memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan sayuran konvensional. Pasirlangu, dengan kondisi geografisnya yang berada di ketinggian sekitar 900 hingga 1.500 meter di atas permukaan laut, dinilai cocok untuk pengembangan paprika.

Suhu udara yang relatif sejuk, kelembapan yang stabil, serta karakter tanah pegunungan menjadi faktor penentu keberhasilan budidaya paprika di wilayah ini. Kondisi alam tersebut mendorong sebagian petani untuk beralih dari tanaman tradisional ke paprika, meskipun budidayanya membutuhkan modal awal, teknologi, dan perawatan yang lebih intensif.

Upaya pengembangan paprika mulai terorganisasi pada 1999, ketika sejumlah petani membentuk Koperasi Sukamaju. Koperasi ini berperan sebagai wadah distribusi sarana produksi, pemasaran hasil panen, serta pertukaran pengetahuan antarpetani. Pada masa puncaknya, koperasi menaungi puluhan petani paprika di Pasirlangu. Namun, memasuki 2016, keterbatasan manajemen dan dinamika pasar menyebabkan aktivitas koperasi menurun dan tidak lagi berjalan optimal.

Meskipun demikian, budidaya paprika tidak berhenti. Sejak 2017, petani Pasirlangu kembali mengembangkan paprika melalui pola usaha mandiri dan kelompok kecil. Pembangunan greenhouse secara swadaya menjadi penanda kebangkitan produksi paprika di desa tersebut. Penggunaan teknologi greenhouse dan sistem hidroponik memungkinkan pengendalian iklim mikro, meningkatkan kualitas buah, serta menekan risiko kerugian akibat cuaca ekstrem.***

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *